Peristiwa Paling Memalukan Bagi Gubernur Maluku

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Johan Teterisa
Johan Teterisa
grosir-buah-surabaya

Tahun 2007 terjadi satu peristiwa paling bersejarah di Maluku, sekaligus paling memalukan bagi Gubernur Maluku saat itu. Tidak pernah ada yang menyangka sekelompok orang dari gerakan separatis Republik Maluku Selatan berhasil menembus penjagaan ketat, lalu membawakan Tarian Perang Cakalele sambil mengibarkan bendera Benang Raja. 

Persis di depan Presiden, Ibu Negara, para Menteri, Gubernur, dan seluruh undangan yang hadir.

Begini ceritanya. Semuanya bermula sebulan sebelumnya, di Desa Aboru, Pulau Haruku, Maluku. Sekelompok pemuda berkumpul diam-diam. Mereka latihan Tarian Cakalele berulang kali. Tombak dan parang mereka buat dari kayu.

Yang memimpin seorang guru. Johan Teterisa, Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Aboru, 45 tahun, ayah dari tiga anak. Bersama pemuda-pemuda kampungnya, ia menyiapkan satu hal untuk ditunjukkan di hadapan Presiden. 

Hari itu tiba pada 29 Juni 2007, di Lapangan Merdeka, Ambon. Hujan turun deras.

Rombongan penari bertelanjang dada itu berjalan melewati polsek dan kantor kejaksaan tinggi. Tidak ada satu pun yang mencegat. Mereka terus masuk sampai ring 1 pengamanan Presiden.

Musik mulai. Mereka menari. 

Lalu di tengah tarian, kain besar itu terbentang. Benang Raja berkibar di depan mata Susilo Bambang Yudhoyono.

Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) langsung bergerak. Johan Teterisa ditangkap sambil masih menari. Sebagian penari lari, tujuh orang tertangkap Tentara Nasional Indonesia (TNI). Malam itu polisi menciduk puluhan orang lagi.

Ia dibawa ke markas Densus 88 di Tantui. Ia mengaku dipukuli sekitar dua belas jam sehari selama sebelas hari, dengan batang besi dan batu.

April 2008, Pengadilan Negeri Ambon memvonisnya seumur hidup. Jaksa sendiri hanya menuntut 15 tahun. Sembilan belas penari lain dihukum 10 sampai 20 tahun.

Mereka lalu dipindah ke penjara di Jawa dan Nusakambangan, ribuan kilometer dari kampung. Keluarga hampir mustahil menjenguk.

Di Aboru, Martha Sinay membesarkan tiga anak sendirian. Mengangkat batu, mengangkat pasir, berkebun, apa saja supaya anaknya tetap sekolah.

Hukuman Johan Teterisa akhirnya dipotong jadi 15 tahun. Ia meninggal pada 4 Desember 2019. (*)

*) Source : Imanuel Lawalata