Simo Hayha, Sniper Paling Mematikan Bagi Pasukan Uni Soviet

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Simo Hayha
Simo Hayha
grosir-buah-surabaya

Nama Simo Hayha terus dijadikan tolok ukur ketika dunia membicarakan sniper paling mematikan yang pernah turun ke medan tempur. Petani dari Rautjarvi ini berubah menjadi teror tak terlihat bagi pasukan Uni Soviet sepanjang Perang Musim Dingin 1939 sampai 1940.

Dalam rentang sekitar seratus hari, catatan resmi Finlandia menempatkannya pada lebih dari lima ratus tembakan jitu terkonfirmasi menggunakan senapan M28 30 tanpa teleskop, pilihan yang menjaga kepalanya tetap rendah dan menghindarkan pantulan cahaya yang bisa memicu ketahuan.

Suhu ekstrem hingga belasan derajat di bawah titik beku membuat lensa teleskop mudah berkabut, sehingga bidikan besi menjadi keunggulan alami bagi dirinya.

Keahliannya membaur dengan lanskap bersalju membuatnya hampir mustahil dideteksi. Ia mengenakan pakaian putih, menekan salju di sekitar posisi tembak agar ledakan gas senapan tidak menghamburkan serpihan, dan memasukkan salju ke mulutnya supaya embusan napas tidak terlihat.

Taktik sederhana ini menghasilkan efek psikologis besar. Pasukan Soviet mengerahkan artileri, sniper tandingan, hingga regu pemburu khusus hanya untuk menemukan satu pria yang terus memotong barisan mereka dari kejauhan.

Catatan unitnya menunjukkan peningkatan korban yang nyaris tidak masuk akal. Sejak akhir Desember 1939, jumlah tembakan jitu melonjak dengan pencapaian mencolok pada satu hari ketika ia menewaskan dua puluh lima musuh.

Selama pertempuran di Kollaa, komandannya memberi keleluasaan penuh untuk bergerak mandiri karena kecepatannya mengubah arah pertempuran. Beberapa laporan veteran dan penelitian militer modern menduga angka totalnya bisa melewati tujuh ratus jika serangannya dengan Suomi KP31 ikut dimasukkan.

Peruntungan runtuh pada 6 Maret 1940 ketika sebuah peluru meledak dan menghantam wajahnya. Rahangnya remuk, giginya rusak berat, dan ia hampir dinyatakan meninggal sebelum seorang prajurit melihat tubuhnya masih bergerak di antara tumpukan jenazah.

Ia mengalami koma dan baru siuman pada 13 Maret, bertepatan dengan hari ditandatanganinya gencatan senjata antara Finlandia dan Uni Soviet. Pemulihannya panjang dan menyakitkan. Dokter melakukan lebih dari dua puluh operasi rekonstruksi, termasuk cangkok tulang untuk membentuk kembali struktur wajahnya. Setelah itu, ia tidak dapat kembali ke garis depan, namun tetap menikmati kehidupan damai hingga wafat pada usia sembilan puluh enam tahun.

Popularitas tidak mengubah karakter dasarnya. Ia kembali ke ladang, berburu di hutan Finlandia, dan aktif dalam komunitas veteran Kollaa. Setiap kali ditanya soal reputasinya sebagai White Death, ia hanya menjawab dengan kalimat pendek yang menggambarkan seluruh hidupnya. Saya hanya melakukan pekerjaan saya sebaik mungkin. (*)