Novalia Pishesha, Ilmuwan Jenius Asal Malang yang Taklukkan Harvard
Di panggung sains global, nama Novalia Pishesha, Ph.D., kini bersinar sebagai salah satu peneliti biomedis paling menjanjikan. Perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, 21 Februari 1988 ini sukses mencatatkan kontribusi revolusioner di bidang rekayasa hayati (bioengineering), khususnya dalam pengembangan imunoterapi dan terapi berbasis sel darah merah.
Didorong oleh keprihatinannya terhadap tantangan kesehatan di tanah air—terutama penyakit autoimun dan infeksi menular—Novalia menjelma dari seorang gadis daerah menjadi ilmuwan papan atas yang inovasinya diakui oleh institusi elite dunia sekelas MIT dan Harvard.
Menembus Batas: Dari Malang Menuju Beasiswa Penuh di UC Berkeley
Ketertarikan Novalia pada biologi dan dunia medis sudah mengakar kuat sejak masa kanak-kanak. Namun, jalurnya menuju puncak akademik dunia tidak diraih dengan instan. Setamat sekolah menengah di Malang, ia harus menghadapi tantangan besar untuk kuliah di luar negeri. Lewat kerja keras dan dukungan penuh keluarga, ia memulai langkahnya dari City College of San Francisco.
Kegigihannya berbuah manis saat ia berhasil menembus salah satu kampus terbaik dunia, University of California, Berkeley, dengan beasiswa penuh hingga meraih gelar sarjana rekayasa hayati.
Haus akan inovasi, Novalia melanjutkan studi doktoralnya (S3) di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di laboratorium kampus elite inilah ia merumuskan teknik rekayasa sel darah merah, sebuah penemuan fundamental yang kelak menjadi fondasi bagi lahirnya terapi medis berbasis imun modern.
Gebrakan Vaksin COVID-19 dan Mendirikan Perusahaan Bioteknologi di AS
Fokus riset Novalia berpusat pada bagaimana merekayasa respons sistem kekebalan tubuh manusia agar mampu melawan penyakit infeksi dan memulihkan gangguan autoimun. Kemampuan risetnya mencuri perhatian dunia pada November 2021. Bersama timnya, Novalia berhasil menemukan kandidat vaksin COVID-19 baru yang dirancang khusus agar kompatibel dengan infrastruktur dan teknologi produksi di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tak ingin risetnya hanya mandek di atas kertas akademik, Novalia mengambil langkah berani dengan mendirikan Cerberus Therapeutics. Perusahaan bioteknologi ini fokus pada hilirisasi riset rekayasa sistem imun untuk menciptakan terapi nyata bagi pasien autoimun dan infeksi di seluruh dunia.
Kapasitasnya yang luar biasa membuat Novalia memegang beberapa posisi prestisius sekaligus di Boston. Selain menjabat sebagai CEO Cerberus Therapeutics, ia aktif sebagai Instruktur di Boston Children's Hospital - Harvard Medical School, serta terpilih sebagai Peneliti Junior di Society of Fellows, Harvard Faculty of Arts and Sciences.
Pemegang Paten Internasional dan Banjir Penghargaan Global
Sebagai inovator garis depan, Novalia telah mengantongi berbagai paten internasional yang diakui dan dilisensikan oleh industri bioteknologi global. Beberapa paten pentingnya meliputi:
Nanobody-drug Adducts and Uses Thereof (2022) bersama Boston Children’s Hospital.
VHHs and Uses Thereof (2021) bersama Boston Children’s Hospital.
Production of Enucleated Red Blood Cells and Uses Thereof (2018) bersama Whitehead Institute for Biomedical Research (dilisensikan ke Rubius Therapeutics).
In Vitro Production of Red Blood Cells with Sortaggable Proteins (2014) bersama Whitehead Institute (dilisensikan ke Rubius Therapeutics).
Rekam jejak emas ini membuatnya kebanjiran penghargaan bergengsi dari berbagai lembaga internasional dan domestik. Nama Novalia bertengger dalam daftar MIT Technology Review Innovators Under 35 Asia Pacific (2021) serta meraih penghargaan STAT+ Wunderkind dari The Boston Globe (2021).
Di dalam negeri dan kawasan regional, ia dianugerahi Penghargaan L'Oreal-UNESCO For Women in Science (2022), Noul Co Ltd Young Scientist Award di Korea Selatan (2022), hingga Ambassador Award for Excellence dari KBRI Washington, DC (2018). Melalui dedikasi dan keahliannya, Novalia Pishesha telah membuktikan bahwa ilmuwan muda Indonesia mampu berdiri setara di garda terdepan inovasi kesehatan dunia. (*)
Editor : S. Anwar