Hadi Tjahjanto, Anak Penjual Rujak Cingur yang Jadi Panglima TNI

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Hadi Tjahjanto
Hadi Tjahjanto
grosir-buah-surabaya

Bagi sebagian orang, batasan ekonomi sering kali dianggap sebagai tembok tebal yang mengubur mimpi-mimpi besar. Namun, sejarah selalu punya cara unik untuk melahirkan tokoh-tokoh inspiratif yang membuktikan bahwa takdir bisa diubah dengan kerja keras dan ketulusan. Salah satu bukti nyata itu ada pada sosok Marsekal TNI (Purn.) Hadi Tjahjanto.

Siapa yang menyangka, pria yang pernah memimpin ratusan ribu prajurit sebagai Panglima TNI dan dipercaya presiden menduduki kursi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) ini lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ibunya adalah seorang penjual rujak cingur, sementara ayahnya adalah seorang prajurit berpangkat rendah.

Bagaimana perjalanan hidupnya hingga bisa menembus batas kemustahilan tersebut?

Tumbuh dalam Kesederhanaan di Sudut Malang

Hadi Tjahjanto lahir di Malang, Jawa Timur, pada 8 November 1963. Ia tumbuh di lingkungan militer, namun jauh dari kemewahan. Sang ayah adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) berpangkat Kopral, pangkat yang berada di barisan bawah dalam hirarki militer, sebelum akhirnya pensiun dengan pangkat Sersan Mayor.

Untuk membantu menopang ekonomi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, sang ibu berjualan rujak cingur—makanan tradisional khas Jawa Timur. Di sela-sela waktu sekolahnya di Singosari, Malang, Hadi kecil tidak pernah malu dengan kondisi keluarganya. Kesederhanaan itu justru menjadi bahan bakar bagi mentalnya untuk menjadi anak yang tangguh.

Sejak duduk di bangku SMA (SMPP Malang yang kini menjadi SMAN 1 Lawang), Hadi dikenal sebagai murid yang sangat cerdas, terutama di bidang sains (IPA). Pemilihan jurusan ini bukan tanpa alasan; sejak remaja, ia sudah mengunci satu impian besar di kepalanya: ia ingin menjadi seorang penerbang TNI Angkatan Udara.

Meniti Karier dari Kemudi Pesawat Angkut Ringan

Lulus SMA pada tahun 1982, Hadi langsung mendaftarkan diri ke Akademi Angkatan Udara (AAU). Otak encer dan kedisiplinan yang ditempa dari lingkungan keluarganya membawa Hadi lulus dengan mulus pada tahun 1986. Ia dilantik sebagai perwira remaja berpangkat Letnan Dua oleh Presiden Soeharto.

Namun, karier terbangnya tidak langsung dimulai dengan jet tempur canggih. Tugas pertama Letda Hadi adalah menjadi pilot pesawat angkut ringan jenis Cassa di Skadron Udara 4 Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang. Tugasnya? Operasi dukungan udara dan SAR terbatas.

Tahun demi tahun dilalui Hadi dengan dedikasi tinggi. Dari menerbangkan pesawat kecil, kariernya naik kelas hingga dipercaya memimpin pesawat angkut berat di Skadron 32, menjadi instruktur penerbang, hingga menduduki berbagai posisi komando teritorial seperti Danlanud Adi Soemarmo di Solo pada tahun 2010.

Takdir Menuju Puncak Komando Tertinggi

Garis tangan seseorang tidak ada yang tahu. Di Solo inilah, Hadi berteman baik dengan Joko Widodo yang saat itu masih menjabat sebagai Wali Kota. Hubungan profesional dan saling respek ini terus berlanjut.

Ketika Joko Widodo terpilih menjadi Presiden RI, karier Hadi melesat bak meteor. Pada Juli 2015, ia ditarik ke Istana untuk menjadi Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) dan pangkatnya naik menjadi bintang dua (Marsekal Muda). Setelah sempat menjabat sebagai Irjen Kemenhan dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), sejarah besar akhirnya tercipta pada akhir tahun 2017.

Presiden Joko Widodo menunjuk Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Panglima TNI.

Momen pelantikan itu menjadi sangat mengharukan. Seorang anak yang masa kecilnya dihabiskan di rumah dinas sederhana, yang ibunya mengulek bumbu rujak demi uang sekolah, kini berdiri tegak di Istana Negara sebagai orang nomor satu di tubuh Tentara Nasional Indonesia. Ia bahkan menjadi perwira tinggi kedua dalam sejarah Indonesia yang berhasil menjadi Panglima TNI dari matra Angkatan Udara.

Inspirasi Bagi Kita Semua

Kisah Marsekal Hadi Tjahjanto adalah tamparan keras bagi siapa saja yang sering mengeluh tentang keterbatasan. Sukses bukanlah milik mereka yang lahir di atas kasur empuk, melainkan milik mereka yang berani bermimpi besar, konsisten berjuang, dan tidak pernah melupakan doa orang tua.

Hingga masa pensiunnya dari militer pada 2021, dan pengabdiannya di kabinet sebagai Menteri ATR/BPN hingga Menko Polhukam, Hadi tetap dikenal sebagai sosok yang humanis, tenang, namun tegas.

Dari dapur sederhana penjual rujak cingur di Malang, lahir seorang Jenderal bintang empat yang namanya akan selalu tertulis dalam sejarah bangsa sebagai penjaga kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). (*)