Rambutan Kecut dan Akhlaq yang Manis

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Kyai Kholil Asad dan Kyai Muhammad Tamim Sofyan
Kyai Kholil Asad dan Kyai Muhammad Tamim Sofyan
grosir-buah-surabaya

Pada suatu hari, Kyai Muhammad Tamim Sofyan diundang untuk mengisi pengajian di sebuah tempat yang juga dihadiri oleh Kyai Kholil As'ad. Sebelum acara dimulai, para Kyai dipersilakan beristirahat di rumah pengundang.

Tuan Rumah menyambut dengan penuh takzim. Mengeluarkan hidangan terbaik yang ia punya. Aneka kue ,minuman dan satu piring besar rambutan yang tampak segar memerah.

Kyai Tamim duduk berseberangan dengan Kyai Kholil dari tempat duduknya. Beliau melihat bagaimana Kyai Kholil mengambil rambutan satu persatu mengupasnya, lalu memakannya dengan tenang. Wajahnya terlihat sangat menikmati, seolah Rambutan itu adalah buah paling manis sedunia.

Masya''Allah, sepertinya enak sekali batin Kyai Tamim.

Rasa penasaran muncul. Pelan-pelan Kyai Tamim ikut mengambil satu rambutan dari piring yang sama.  Kulitnya merah ranum, isinya tampak putih mengkilap. Dengan penuh harap. Kiyai Tamim menggigit buah itu. 

Begitu rambutan menyentuh lidah, Kyai Tamim hampir spontan mengernyit. Ternyata rasanya sangat kecut, bukan sekedar kurang manis, tapi ini benar-benar kecut sampai membuat lidahnya bergetar. 

Kyai Tamim berusaha menahan ekspresi, khawatir menyinggung perasaan tuan rumah. Namun untuk menghabiskan satu buah, rasanya sangat berat. Pelan-pelan, Kyai Tamim mengambil tisu, menyingkirkan sisa rambutan yang tak sanggup lagi ditelan. 

Di tengah kegagapan lidahnya melawan rasa asam, pandangan Kyai Tamim kembali tertuju kepada Kyai Kholil. Betapa herannya Kyai Tamim ketika melihat Kyai Kholil masih terus mengambil rambutan dari piring yang sama. Satu demi satu dan memakannya dengan ekspresi yang sama, tenang menikmati seolah rasanya manis saja. 

"Apakah Kyai Kholil punya cara khusus, memilih rambutan yang manis ?” tanya Kiyai Tamim dalam hati. 

"Atau ini termasuk karamah, keistimewaan beliau sehingga bisa merasakan yang manis dari buah yang sama?” Rasa penasaran itu belum padam.

Beberapa saat kemudian, Kyai Tamim kembali mencoba. Kyai Tamim mengambil rambutan yang lain, dari piring yang sama, berharap kali ini mendapat yang lebih manis: 

Namun takdirnya sama: begitu digigit, rasa kecutnya terasa lebih kuat. Sekali lagi, Kyai Tamim tidak sanggup menghabiskan satu buah.

Sementara itu, Kyai Kholil tampak sudah menghabiskan belasan rambutan, tanpa sedikit pun menunjukkan tanda tidak suka.

"Nyata' bikin Kyai Tamim. Ini pasti salah satu keistimewaan beliau".

Beberapa hari berlalu. Seperti biasa, Kyai Tamim dan beberapa Kyai lain mengikuti pengajian rutin di pesantren Kyai Kholil. Mereka membaca kitab bahjatun Nufus berdiskusi dan mengambil banyak ilmu dari beliau.

Seusai ngaji, suasana mencair, para Kyai dulu santai bercanda dan bertukar cerita di tengah obrolan itulah. Kyai Tamim teringat peristiwa rambutan kecut. Dengan nada bercanda namun penuh dengan takzim, Kyai Tamim berkata di hadapan para Kyai yang hadir.

"Saya punya cerita tentang keistimewaan Kyai Kholil. Beliau ini luar biasa. Bisa membedakan mana rambutan yang manis, mana yang kecut.”

Para Kyai langsung tertarik. Sebagian tersenyum, sebagian lagi menunggu kelanjutan cerita,

Kyai Tamim lalu berkisah tentang jamuan beberapa hari sebelumnya : bagaimana beliau dan Kyai Kholil duduk bersama, disuguhi rambutan dalam satu piring.

Lalu bagaimana Kyai Tamim merasakan rambutan yang kecut, sementara Kyai Kholil tampak begitu menikmati, seolah memakan rambutan super manis.

"Padahal kami makan dari piring yang sama,” tutur Kyai Tamim.

"Saya tidak sanggup menghabiskan satu rambutan, sedangkan Kyai Kholil memakannya berkali-kali dengan wajah bahagia”.

Para Kyai tampak kagum. Ada yang bertanya separuh serius baru bercanda.

"Kyai Kholil, bagaimana caranya? Apa ada tanda rambutan yang manis bisa dilihat di luar?”

Kyai Kholil hanya tersenyum. Lalu beliau berkata pelan, namun jelas terdengar oleh semua yang hadir. 

“Sebenarnya semua rambutan yang saya makan itu kecut, semuanya tidak ada satupun yang manis.” (*)