Kisah Arifin Tasrif dari Insinyur ITB hingga Dipercaya Jadi Dubes Jepang
Bumi Minangkabau memang tak pernah habis melahirkan tokoh-tokoh hebat yang mengharumkan nama bangsa. Sejak zaman kemerdekaan hingga era modern saat ini, putra-putri terbaik dari Sumatra Barat selalu mengambil peran penting dalam pembangunan nasional. Salah satu bukti nyatanya adalah sosok Ir. Arifin Tasrif.
Bagi sebagian orang, nama Arifin Tasrif mungkin lekat dengan citra seorang pejabat yang tenang, jarang mengumbar kontroversi, namun memiliki etos kerja yang luar biasa tinggi. Di balik pembawaannya yang bersahaja, ia adalah seorang teknokrat tulen yang rekam jejaknya di dunia korporasi, diplomasi, hingga pemerintahan dinilai sangat berkelas.
Bagaimana perjalanan seorang insinyur Teknik Kimia ITB ini hingga bisa melanglang buana menjadi Duta Besar di Jepang dan menduduki kursi Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) ? Mari kita simak kisahnya!
Fondasi Kuat dari Kampus Ganesha
Lahir pada 19 Juni 1953, Arifin Tasrif merupakan pemuda berdarah Minang yang memiliki ketertarikan besar pada dunia sains dan teknologi. Langkah besarnya dimulai ketika ia berhasil menembus salah satu kampus teknik paling bergengsi di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB).
Mengambil jurusan Teknik Kimia dan lulus pada tahun 1972, Arifin muda menempa diri menjadi seorang insinyur yang visioner. Keahliannya di bidang ini bukan sekadar di atas kertas. Berpuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2011, dedikasinya diakui di level regional dengan diterimanya penghargaan Honorary Fellowship Award dari AFEO (ASEAN Federation of Engineering Organization). Sebuah bukti bahwa kualitas keprofesiannya diakui hingga tingkat Asia Tenggara.
Tangan Dingin yang Merombak Raksasa BUMN Pupuk
Sebelum masuk ke lingkaran pemerintahan, Arifin Tasrif lebih dahulu dikenal sebagai "dokter spesialis" korporasi BUMN. Ia adalah pemimpin bertangan dingin yang berhasil menakhodai perusahaan-perusahaan besar tanah air.
Karier manajerialnya melesat saat ia dipercaya memimpin dua raksasa pupuk nasional, yaitu PT Petrokimia Gresik dan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) sebagai Direktur Utama.
Puncak prestasinya di dunia korporasi terjadi ketika Kementerian BUMN memutuskan untuk melakukan integrasi besar-besaran. Sejarah mencatat nama Arifin Tasrif sebagai Direktur Utama pertama PT Pupuk Indonesia (Persero) setelah proses holdingisasi. Di tangan jenderal lapangan industri ini, produksi dan jalur distribusi lima perusahaan pupuk nasional berhasil dikonsolidasikan dengan rapi demi menjaga stabilitas ketahanan pangan nasional.
Melangkah ke Meja Diplomasi Tokyo hingga Jadi Menteri ESDM
Sukses besar di dunia industri membuat Presiden Joko Widodo kepincut dengan kapabilitas Arifin. Pada Maret 2017, ia diberi mandat baru yang jauh berbeda dari latar belakangnya: menjadi Duta Besar Luar Besar dan Berkuasa Penuh RI untuk Jepang.
Di bawah langit Tokyo, Arifin bergerak cepat mempererat hubungan bilateral, khususnya di sektor investasi dan teknologi. Salah satu momen bersejarahnya adalah saat ia menyerahkan surat kepercayaan (credenziali) langsung kepada Kaisar Akihito di Istana Kekaisaran Tokyo pada Juni 2017.
Pengabdiannya di Negeri Sakura rupanya hanya bertahan dua tahun, karena negara memanggilnya untuk tugas yang jauh lebih besar. Pada 23 Oktober 2019, Arifin Tasrif resmi ditarik pulang ke tanah air dan dilantik menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk Kabinet Indonesia Maju periode 2019–2024.
Di kementerian yang mengurusi kekayaan alam bumi pertiwi ini, Arifin fokus meletakkan fondasi transisi energi bersih dan memperjuangkan kedaulatan sektor pertambangan Indonesia hingga masa baktinya berakhir pada Agustus 2024.
Inspirasi dari Bumi Minangkabau
Kisah Ir. Arifin Tasrif adalah potret nyata dari seorang teknokrat sejati. Ia membuktikan bahwa dengan bekal ilmu yang matang, integritas yang kuat, serta karakter yang tenang namun solutif, seorang anak bangsa bisa mengabdi di berbagai lini pertahanan ekonomi negara—mulai dari pabrik, kedutaan besar, hingga meja kabinet menteri.
Sebuah kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Minang dan seluruh rakyat Indonesia memiliki tokoh bangsa yang karyanya berbicara lebih keras daripada kata-katanya. (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : S. Anwar