Kisah Hidup Monadi, Dari Dosen hingga Jadi Bupati Kerinci
Kursi kekuasaan sering kali dipandang sebagai puncak ambisi politik semata. Namun, bagi Monadi, Bupati Kerinci periode tahun 2025–2030, jabatan nomor satu di Bumi Sakti Alam Kerinci ini adalah muara dari perjalanan panjang dedikasi tanpa batas.
Sebelum resmi dilantik memimpin daerah, pria kelahiran Sungai Penuh, 1 Maret 1972 ini telah melintasi berbagai asam garam kehidupan. Monadi bukan politikus yang muncul dalam semalam; ia adalah seorang mantan birokrat karier, dosen yang mencerdaskan bangsa, sekaligus aktivis kemanusiaan yang tangannya telah lama bergerak di akar rumput.
Meniti Karier dari Bawah: Birokrat yang Paham Rakyat
Lahir dari pasangan H. Murasman (Bupati Kerinci 2009–2014) dan Hj Daruli, Monadi tidak serta-merta memanfaatkan nama besar sang ayah untuk menduduki posisi instan. Selepas menyelesaikan pendidikan kedinasan di D-III Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor, ia memulai pengabdiannya benar-benar dari level terbawah.
Pada tahun 1994 hingga 1996, Monadi tercatat mengawali kariernya sebagai Sekretaris Pemerintahan Dusun Baru. Dari sinilah ia belajar mendengar langsung keluh kesah masyarakat desa.
Komitmennya pada pelayanan publik membuat kariernya terus menanjak. Berbekal ilmu yang ia perdalam di STIA-LAN Bandung (S1) dan Universitas Satyagama Jakarta (S2 Ilmu Pemerintahan), Monadi dipercaya menduduki berbagai posisi strategis. Mulai dari Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Umum Setda Kerinci pada tahun 2009, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, hingga dipercaya menakhodai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kerinci.
Mimbar Akademisi: Mencetak Generasi Penerus
Di sela-sela kesibukannya mengatur roda birokrasi, Monadi memiliki panggilan jiwa yang kuat di dunia pendidikan. Sejak tahun 2003, ia mendedikasikan waktunya sebagai dosen di dua kampus kebanggaan lokal, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Nusa dan STIE Sakti Alam Kerinci.
Bagi mahasiswa di sana, Monadi bukan sekadar pengajar teori. Ia adalah mentor yang membagikan pengalaman nyata dunia birokrasi ke dalam ruang kelas. Pengaruh dan integritasnya di dunia akademik bahkan membuat dirinya dipercaya menjadi anggota Senat di kedua institusi tersebut selama bertahun-tahun.
15 Tahun di PMI: Jantung Kemanusiaan Monadi
Jika ada satu hal yang paling menggambarkan kedekatan emosional Monadi dengan masyarakat, itu adalah kiprahnya di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kerinci. Tidak tanggung-tanggung, Monadi mengabdi sebagai Wakil Ketua PMI Kerinci selama lima belas tahun.
"Bagi Monadi, organisasi bukan tempat mencari panggung, melainkan wadah untuk meringankan beban sesama saat bencana dan kesusahan melanda."
Jiwa kepemimpinannya di dunia kepemudaan dan sosial juga diasah lewat perannya sebagai Ketua KNPI Kerinci, Ketua Pemuda Muhammadiyah, hingga Ketua Dewan Pelatih Tapak Suci. Tak heran jika ia begitu dicintai oleh lintas generasi, terutama kaum muda dan para petani local yang dibinanya melalui unit usaha Monasi Tani serta Yayasan Pembangunan Kerinci Sejahtera.
Puncak Kepercayaan: Mandat Rakyat di Pilkada 2024
Semua rekam jejak mumpuni itu akhirnya mengristal pada Pilkada Kerinci tahun 2024. Maju membawa visi perubahan bersama politikus Partai NasDem, Murison, Monadi berhasil memenangkan hati mayoritas masyarakat Kerinci. Pasangan ini menang mutlak dengan meraup 72.130 suara atau sekitar 47,07�ri total suara sah.
Langkah politiknya kian kokoh setelah ia juga dipercaya memimpin DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Kerinci dalam Musda serentak akhir tahun lalu.
Kini, di bawah kepemimpinannya untuk periode tahun 2025–2030, masyarakat Kerinci menaruh harapan besar. Kisah Monadi mengajarkan satu hal berharga kepada kita semua: bahwa pemimpin yang baik adalah ia yang selesai dengan dirinya sendiri, yang rekam jejaknya dibentuk oleh pengabdian nyata, dan yang kekuasaannya didedikasikan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat. (*)
*) Source : Nasrul Koto Psu
Editor : S. Anwar