Abuya KH Muhammad Dimyati Menyaksikan Karomah Mbah Dalhar
Abuya KH Muhammad Dimyati dari Provinsi Banten, dikenal sebagai ulama besar yang sangat teguh dalam mengaji. Mbah Dim, sapaan akrab Abuya KH Muhammad Dimyati, keliling dari berbagai pesantren di Nusantara untuk menimba ilmu kepada para kiai besar, seperti Mbah Baidhowi Lasem dan Mbah Dalhar Watucongol Magelang.
Jiwanya dalam belajar sangat gigih, sehingga ilmunya dikenal sangat luas. Dari sini, lahirlah karomah-karomah Abuya KH Muhammad Dimyati yang penuh dengan keistimewaan.
Setiap pesantren yang disinggahi Abuya KH Muhammad Dimyati penuh dengan kenangan yang unik. Salah satunya adalah bersama Mbah Dalhar Watucongol Magelang. Mbah Dalhar juga dikenal ulama besar yang sangat masyhur dengan karomah-karomahnya. Gus Miek termasuk salah satu santri Mbah Dalhar yang kemudian menjadi ulama besar dengan gayanya yang nyentrik.
Abuya KH Muhammad Dimyati nyantri kepada Mbah Dalhar dengan sepenuh keyakinan untuk mengaji dan mengasah ruhaniahnya. Ketika datang di pesantren Mbah Dalhar, selama 40 hari, Abuya KH Muhammad Dimyati tak mendapatkan sapaan apapun dari Mbah Dalhar. Dalam diri Mbah Dim, penuh tanda tanya terkait apa yang dialaminya itu. Tapi karena jiwa santrinya yang teguh, la jalani saja menunggu dawuh sang guru yang sangat dihormatinya.
40 hari tanpa pernah ditanya dan dipanggil sekalipun. Akhirnya, tepat pada hari ke-40, Mbah Dim dipanggil Mbah Dalhar.
"Sampeyan mau apa jauh-jauh datang ke sini?" tanya Mbah Dalhar.
Ditanya begitu, Abuya KH Muhammad Dimyati pun menjawab, "Saya mau mondok, mbah."
Kemudian Kial Dalhar pun berkata, "Perlu sampeyan ketahui, bahwa disini tidak ada ilmu, justru ilmu itu sudah ada pada diri sampeyan. Dari pada sampeyan mondok di sini buang-buang waktu, lebih baik sampeyan pulang lagi ke Banten, amalkan ilmu yang sudah ada dan syarahi kitab-kitab karangan mbah-mbahmu. Karena kitab tersebut masih perlu diperjelas dan sangat sulit dipahami oleh orang awam."
Mendengar jawaban tersebut, Abuya KH Muhammad Dimyati menjawab, "Tujuan saya ke sini adalah untuk mengaji, kok saya malah disuruh pulang lagi? Kalau saya disuruh mengarang kitab, kitab apa yang mampu saya karang?"
Kemudian Kiai Dalhar memberi saran, "Baiklah, kalau sampeyan mau tetap di sini, saya mohon ajarkanlah ilmu sampeyan kepada santri-santri yang ada di sini dan sampeyan jangan punya teman."
Kemudian Kiai Dalhar memberi ijazah tareqat Syadziliyah kepada Mbah Dim.
Itulah kisah 40 hari yang sangat istimewa. Memang begitulah cara-cara para kekasih Allah dalam mengajarkan ilmu. Semua dilandasi dengan kesabaran dan ketawadluan yang luar biasa.
Mereka belajar bukan saja menggali ilmu, tetapi juga mempertajam kecemerlangan batiniyah. Yang didapatkan bukan saja luasnya ilmu, tetapi juga beningnya hati. Dengan beningnya hati, ilmu memancarkan sebagai cahaya yang memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepada siapa saja. (*)
Editor : S. Anwar