Sosok Teknokrat Genius di Balik Raksasa Depperindag Era Orde Baru
Nama Tungki Ariwibowo mungkin tidak selalu menghiasi lini masa sejarah politik populer, namun di dunia industri dan perdagangan Indonesia, ia adalah seorang raksasa intelektual. Sebagai salah satu teknokrat andalan Presiden Soeharto, ia dipercaya menakhodai salah satu mega-kementerian paling berpengaruh dalam sejarah ekonomi nasional.
Pria kelahiran pada 13 Desember 1936 ini dikenal sebagai birokrat tulen yang visioner. Puncak pengabdiannya terjadi di pertengahan dekade 1990-an, ketika ia memegang kendali penuh atas arah industrialisasi dan urat nadi perdagangan luar negeri Republik Indonesia di tengah badai transisi ekonomi global.
Arsitek di Balik Lahirnya Raksasa Baru: Depperindag
Karier Tungki Ariwibowo di kabinet mencapai puncaknya pada periode 1993–1998. Pada awal Kabinet Pembangunan VI terbentuk di tahun 1993, ia awalnya dilantik oleh Presiden Soeharto untuk menjabat sebagai Menteri Perindustrian.
Namun, sejarah mencatat sebuah reorganisasi besar-besaran terjadi pada tahun 1995. Demi menggenjot efisiensi birokrasi dan memperkuat daya saing produk lokal di pasar internasional, Soeharto mengambil langkah radikal: melebur Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan menjadi satu atap.
Dari fusi raksasa inilah lahir Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag). Berkat kompetensi dan kinerjanya yang tanpa tanding, Tungki Ariwibowo tidak tergeser. Ia justru diberi kepercayaan penuh untuk memimpin kementerian hasil peleburan tersebut hingga akhir masa jabatan kabinet pada Maret 1998.
Mengawal Industrialisasi Nasional di Era Kritis
Di bawah komando Tungki, Depperindag menjelma menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Ia menjadi aktor penting yang merumuskan berbagai kebijakan strategis, mulai dari proteksi industri dalam negeri, hilirisasi komoditas, hingga perluasan pasar ekspor non-migas Indonesia ke kancah global.
"Kepemimpinan Tungki Ariwibowo di Depperindag meletakkan cetak biru penting bagaimana industri manufaktur dan perdagangan internasional harus berjalan beriringan secara sinergis—sebuah konsep tata kelola yang dampaknya masih terasa pada struktur kementerian hari ini."
Akhir Hayat Sang Teknokrat
Setelah purnatugas dari panggung kabinet, Tungki Ariwibowo tetap memberikan sumbangsih pemikiran bagi perkembangan dunia usaha di Indonesia. Sang teknokrat legendaris ini mengembuskan napas terakhirnya pada 3 Maret 2002 dalam usia 65 tahun.
Kendati telah tiada, dedikasi, integritas, dan warisan pemikirannya dalam membangun fondasi industri modern Indonesia akan selalu dikenang dalam catatan emas sejarah ekonomi nasional. (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : S. Anwar