Berakhirnya Syafruddin Prawiranegara dalam Rangkaian Sejarah PDRI

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Syafruddin Prawiranegara
Syafruddin Prawiranegara
grosir-buah-surabaya

Melalui tulisan kita mengenal sejarah PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia).

Muhammad Hatta membentuk tim yang akan ditugasi menemui PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Tim ini diketuai oleh dr Leimena dengan Muhammad Natsir dan dr A Halim sebagai anggota, dan Agus Jamal sebagai sekretaris. 

Walaupun Natsir menolak Pernyataan Roem-Royen, Hatta menganggapnya sebagai tokoh yang dekat dengan Syafruddin Prawiranegara. Sebab ia adalah teman separtai Syafruddin Prawiranegara (Masyumi). Oleh karena itu, Natsir diharapkan dapat melakukan pendekatan pribadi dengan Syafruddin Prawiranegara. 

Hakim adalah tokoh yang dikenal baik oleh beberapa tokoh PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia), termasuk Syafruddin Prawiranegara sendiri. Leimena adalah tokoh yang banyak mengikuti pembicaraan dengan pihak Belanda, seorang nasionalis yang loyalitasnya kepada Republik Indonesia tidak pernah diragukan (Mestika Zed, 1997).

Tim ini berangkat dari Jakarta menuju Padang pada tanggal 2 Juli 1949. Esok harinya, mereka berangkat dengan konvoi pasukan Belanda menuju Bukittinggi. Di Bukittinggi diadakan hubungan radio dengan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) untuk memberitahukan kedatangan mereka dan menanyakan tempat yang harus mereka tuju. 

Sesuai dengan informasi diperoleh melalui hubungan radio itu, mereka berangkat menuju Padang Japang. Sebelum tiba di Padang Japang, tim menginap satu malam di Payakumbuh. Dalam perjalanan antara Bukittinggi dan Payakumbuh, beberapa kali utusan Hatta dihadang oleh para gerilyawan. Kopiah yang dipakai Natsir menjadi penyelamat ketika mereka hampir saja ditembak oleh para gerilyawan.

Pada tanggal 5 Juli mereka telah sampai di Payakumbuh. Di bawah pengawalan dua buah mobil yang dipersenjatai rombongan, utusan Hatta ini dicegat oleh pasukan gerilya di Kubang Tungkek- Guguak. Ketegangan pun terjadi. Namun akhirnya dapat ditenangkan lantaran komandan pleton pasukan yang mencegat tersebut Azwar Tontong, mengenal Moh Natsir yang akhirnya pasukan itulah yang ikut mengawal sampai ke Padang Japang (Dikisahkan oleh Azwar Tontong dan Zawawi Salim dalam Yanuar Abdullah, 2003). 

Ditambahkan oleh Zawawi Salim, bahwa rombongan Laimena dan Natsir tersebut dibawa memutar ke dalam kampung Kubang Tungkek, tidak melewati jalan raya karena di sepanjang jalan pohon-pohon termasuk batang kelapa sudah ditebangi rakyat untuk menghalangi kemajuan pasukan Belanda.

 Selanjutnya Syafruddin Prawiranegara Prawiranegara datang ke Padang Japang dari Koto Tinggi dengan naik kuda tunggangan memakai helem warna putih, berkacamata, bersyal handuk dan celana putih setengah digulung dengan diiringi oleh seorang ajudannya.

Pada malam tanggal 6 Juli 1949 setelah sholat Isya bertempat di rumah Jawahir (istri Mahmud Yunus), dilakukan pertemuan antara pemimpin PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) dan utusan Hatta. Dari pihak PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) hadir ketua PDRI sendiri beserta seluruh menteri-menterinya. 

Disamping itu juga datang beberapa tokoh militer dan tokoh politik, seperti Kolonel Dahlan Ibrahim, Dt. Singo Mangkuto dan M Hamdani. Dr Leimena sebagai juru bicara utusan Hatta, berusaha melunakkan sikap tokoh-tokoh politik PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) hingga larut malam. 

Namun pertemuan ini tidak mengubah pendirian pemimpin PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Menjelang subuh , Dr Laimena terpaksa menemui A Halim yang tidak ikut dalam rapat, dan mengabarkan bahwa misi mereka menemui jalan buntu. (Mestika Zed et al,1997)

Lebih jelas Ismail Hasan (1957), dalam tulisannya hari-hari terakhir PDRI menjelaskan, “Di rumah yang sederhana itulah malam harinya perundingan marathon berjalan, setelah siang harinya kontak pertama sudah berlangsung. Perundingan hanya disela oleh sembahyang atau makan malam, berunding dibawah lampu strongkeng, duduk bersila diatas tikar dalam formasi meja bundar, berjalan sampai melebihi waktu tengah malam menjelang subuh,± 7 jam lamanya “.

Leimena memulai pembicaraan dengan memuji PDRI dan semangat juang segenap rakyat yang disaksikannya sepanjang jalan. 

“Bahkan PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) lebih sehat-sehat dari kami yang makan roti dan keju,” kata Leimena.

Perundingan tengah malam itu belum mengambil suatu keputusan apapun. Natsir kemudian mengutip satu Syair klasik untuk melunakkan Syafruddin Prawiranegara : “Ma kullu ma yatamannal mar’u yudrikuhu, tajrirriahu bima la tasytahishshufun “ (Tidaklah semua keinginan manusia dapat tercapai karena angin di lautan berhembus tidak selamanya mengikuti kehendak kapal yang sedang berlayar). 

Inilah ucapan penyejuk dari Natsir, yang membawa perundingan yang tadinya seakan beku mulai mencair. 

Namun, kemacetan ternyata bisa diselesaikan dipancuran mandi. Keesokan pagi, ketika A Halim pergi ke pancuran untuk mandi, ia berpapasan langsung dengan tiga tokoh PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia), masing-masingnya dengan M Rasyid, Syafruddin Prawiranegara Prawiranegara dan Lukman Hakim. Berikut rekaman pembicaraan mereka, seperti yang dikisahkan oleh A. Halim (Cit. Mestika Zet et al, 1998) :

“… Setelah mandi, Rasyid bilang pada saya, “Lim ini bagaimana, coba ceritakan yang benar”. 

Belum saya jawab, Syafruddin Prawiranegara sudah bilang, ‘’Eh Jij ini ngapain ke sini”. 

Syafruddin Prawiranegara bilang dalam bahasa Inggris. Saya berdiri antara dua blok deh. Yang mana gua masih ikut, gua tidak tahu, trace Bangka apa kalian, between the devil and the deep sea, mana yang harus dipilih. Kenapa gua bersedia untuk datang kesini, coba yoe just imagine. Saya datang untuk menjemput kalian. Jika saya tak ingin kalian kembali, tentu saya tidak akan datang kemari. 

Kemudian Lukman bilang, “Udah deh, jij sudah punya conviction kita kembalilah”. 

Baik juga kalau sudah mandi, otaknya terang dikit, kata saya. 

Wah ramai :” Gua kemplang lu nantik”, kata Syafruddin Prawiranegara. Tampa debat kami pulang bersama. 

Rupanya, dingin air pancuran di Padang Japang pada pagi hari itu berhasil menyejukkan kepala-kepala yang beberapa jam sebelumnya bersikukuh pada pendirian masing-masing. Begitulah, setelah kembali dari pancuran, Syafruddin Prawiranegara menyatakan kesediaannya menyerahkan mandat langsung ke Yogyakarta, dan pada keesokan hari dilakukan pertemuan perpisahan di lapangan sepak bola Kota Kaciak.

Pada tanggal 8 Juli 1949 setelah sehari dilaksanakanya pertemuan di Padang Japang, dilakukan lah rapat umum di Koto Kaciak yang merupakan rapat perpisahan antara PDRI dengan masyarakat setempat.

Suasana hari-hari terakhir tersebut dapat kita baca dari tulisan Ismail Hassan (1957) yang menyebutkan bahwa ini adalah suatu rapat umum terbesar dan meriah setelah berbulan-bulan lamanya menghadapi tekanan dan serangan-serangan Belanda ke pedalaman. Dalam rapat umum itu berbicaralah Leimena yang terus terang menyatakan perasaan hatinya.

"Tuhan telah memberikan kesempatan kepada kita datang kemari dan bertemu dengan saudara-saudara. Dan kita dapati semua anggota-anggota PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia) berada dalam keadaan sehat wal'afiat, bahkan lebih sehat dari pada kita sendiri, suatu tanda bahwa PDRI berada dalam daerah yang istimewa ”.

Dibagian lain dikatakannya bahwa ia kagum melihat pengorbanan dan semangat rakyat dan juga terharu melihat Sang saka Merah Putih berkibar terus di daerah PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia). Diceritakan juga ketika M Natsir Dt Sinaro Panjang menyampaikan pidatonya yang diakhiri dengan sebuah pantun :

Mandaki ka gunuang Talang,

Manurun ka Batu Banyak,

Nampak nan dari Saruaso,

Lah duo kali dilangga pasang,

Namun tapian indak baranjak

Di sinan lataknyo tanago bangso.

(Mendaki ke gunung Talang

Menurun ke Batu Banyak

Terlihat dari Saruaso

Sudah dua kali dilanggar pasang (Agresi I dan Agresi II)

Disitu letaknya tenaga bangsa.

Pantun ini kata Natsir adalah untuk menjawab pantun rintihan yang pernah didengarnya;

Mandaki Gunuang Marapi

Manurun katabek patah

Nampak nan dari Koto Tuo

Lah awak bana nan mamarintah

Nasib kami bak nangko juo

(Mendaki Gunung Merapi

Menurun ke Tebat Patah

Terlihat dari Koto Tuo

Sudah kita benar yang memerintah

Nasib kami tidak berubah.

Kemudian dalam pidatonya, Syafruddin Prawiranegara sempat menyampaikan rasa hatinya pada tokoh-tokoh dan masyarakat Sumatera Barat ialah suatu pernyataan perasaan tidak puas pada persetujuan Rum- Royen yang antara lain isinya sebagai berikut :

”Waktu mendirikan PDRI kita bukan merebut pangkat dan kursi, karena kita sering duduk di atas lantai saja. Kita tidak puas dengan persetujuan Roem-Royen, persetujuan yang dibuat Presiden dan wakil Presiden dengan memandang sepi PDRI. Tetapi bagi kita semuanya itu tidak kita persoalkan,karena yang penting adalah kejujuran dan keselamatan rakyat. Siapa yang jujur pada rakyat dan pada Tuhan perjuangannya akan berhasil dan selamat ”

Pada bagian lain pidatonya, ia akan berjanji akan kembali memimpin perjuangan kalau persetujuan yang dicapai tidak sesuai dengan tujuan perjuangan kita. 

”Sekiranya persetujuan yang dicapai sejalan dengan tujuan perjuangan kita, maka kita mau men-rimanya, jika tidak saya akan kembali bergabung dengan Saudara-saudara.”

Setelah selesainya mengadakan temu pisah dengan masyarakat, Ketua PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia), Syafruddin Prawiranegara Prawiranegara, Menteri Keuangan PDRI, dan para utusan Hatta berangkat ke Padang. Esok harinya mereka terbang ke Jakarta. Setelah menginap satu malam di Jakarta, pada tanggal 10 Juli 1949 rombongan terbang ke Yogyakarta untuk mengembalikan Mandat secara langsung ke Presiden dan Wakil Presiden. (*)

*) Ditulis oleh H Saiful Guci Dt Rajo Sampono di sudut Terapi Sedekah Kasiah Bundo Jorong Pulutan Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau, 7 Juli 2026.