Soewardi Idris Nekat Nikah di Tengah Hutan Saat Gerilya
Sejarah pergolakan daerah di Indonesia selalu menyimpan kisah kemanusiaan yang mendalam. Di dunia sastra, tidak ada nama yang lebih lekat dengan memoar Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) selain Soewardi Idris.
Lahir dari keluarga petani di Selayo, Solok pada 10 November 1930, pemilik gelar adat Datuk Bandaro Panjang ini merupakan sosok yang memegang teguh adat Minangkabau sekaligus mesin penulis yang luar biasa. Sepanjang hidupnya hingga wafat pada 13 Juli 2004, ia adalah saksi hidup sekaligus perekam sejarah yang paling berani di zamannya.
Menulis di Bawah Intaian Perang dan Menikah di Hutan Gerilya
Kehidupan Soewardi Idris penuh dengan lika-liku yang dramatis. Saat pergolakan PRRI pecah di Sumatra Barat, ia tidak memilih diam. Soewardi ikut masuk ke dalam hutan dan bergerilya. Di tengah suasana mencekam itulah, Soewardi Idris melangsungkan pernikahan dengan istri keduanya, Rahmah. Dari pernikahan di bawah rimbunnya pohon hutan gerilya itu, mereka dikaruniai enam orang anak.
Pengalaman berdarah dan penuh air mata selama masa pergolakan tersebut kemudian ia tumpahkan menjadi sebuah mahakarya. Soewardi menulis novel berjudul Dari Puncak Bukit Talang. Lewat wawancaranya pada tahun 1999, Soewardi menegaskan sebuah fakta penting: dialah satu-satunya pengarang Indonesia modern yang secara khusus dan berani membongkar masalah serta penderitaan manusia di era PRRI melalui media novel.
Suntikan Semangat Pembawa Sukses
Bakat menulis Soewardi sebetulnya murni lahir dari kerja kerasnya sendiri, bukan warisan keluarga. Namun, ada satu sosok yang sangat berjasa menyuntikkan semangat di awal kariernya, yaitu Rustam Anwar. Sahabatnya itu selalu berbisik, "Tulislah apa saja, walaupun sedikit, yang penting masuk bukunya H.B. Jassin."
Petuah itu terbukti ampuh. Novelnya tentang PRRI tersebut langsung dibahas panjang lebar oleh sang "Paus Sastra Indonesia", H.B. Jassin. Selain mengagumi Jassin, pola hidup Soewardi—mulai dari cara bekerja, berpakaian, hingga merawat anak—juga sangat dipengaruhi oleh pesona pemikiran sastrawan dunia, Kahlil Gibran.
Maestro Media dan Warisan Ribuan Buku
Di luar dunia tulis-menulis kreatif, Soewardi Idris adalah tokoh pers yang disegani. Ia pernah menduduki kursi Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Seriosa di Yogyakarta (1954), Wakil Pimpinan Redaksi Harian Nyata di Padang (1956), hingga Redaktur Mingguan Chas dan Pemimpin Redaksi Majalah Monitor (1973).
Saking tingginya semangat menulis di masa muda, Soewardi sering memakai nama samaran seperti R Baginda SI, Essy, atau Swara Iswari agar pembaca tidak merasa halaman media dimonopoli olehnya.
Hingga akhir hayatnya, Soewardi Idris telah melahirkan puluhan cerpen, biografi, buku jurnalistik, buku adat Minangkabau, serta menyisakan warisan berharga berupa koleksi 2.000 eksemplar novel di rumahnya. Darah seninya pun mengalir deras ke anak-anaknya, termasuk almarhum Purnama Suwardi (General Manager Pemberitaan TVRI) dan Melodia Idris, salah satu pelukis realisme ternama di Indonesia. Soewardi Idris telah membuktikan bahwa sejarah kelam bangsa tidak harus dilupakan, melainkan bisa diabadikan secara indah lewat goresan pena. (*)
Editor : S. Anwar