Mengenal Widjojo Nitisastro, Bapak Arsitek Ekonomi Orde Baru

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Widjojo Nitisastro
Widjojo Nitisastro
grosir-buah-surabaya

Jika kita berbicara tentang stabilitas ekonomi, perancangan pembangunan makro, hingga lahirnya masa keemasan ekonomi Indonesia di era Orde Baru, pikiran kita pasti tertuju pada satu nama besar: Prof. Dr. Widjojo Nitisastro.

Pria kelahiran pada 23 September 1927 ini bukan sekadar birokrat biasa. Beliau adalah otak, arsitek utama, sekaligus komandan di balik strategi penyelamatan ekonomi Indonesia dari keterpurukan inflasi ekstrem pada medio 1960-an. Memimpin jajaran menteri keuangan dan ekonomi legendaris, kisah hidupnya adalah potret transformasi seorang pejuang fisik menjadi penyelamat finansial bangsa.

Pena Akademisi, Senjata TRIP, dan Pengakuan Mohammad Hatta

Widjojo Nitisastro lahir dari keluarga sederhana; ayahnya adalah seorang pensiunan penilik sekolah dasar dan aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra) yang gigih menggerakkan Rukun Tani. Darah pejuang itu mengalir deras ke tubuh Widjojo. Ketika Revolusi Kemerdekaan pecah di Surabaya, Widjojo yang baru duduk di bangku kelas I SMT (setingkat SMA) langsung memanggul senjata bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Ia bertempur gagah berani di garis depan dan nyaris gugur dalam pertempuran berdarah di daerah Ngaglik dan Gunung Sari, Surabaya.

Usai perang mereda, ia sempat mengabdi sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun sebelum akhirnya memantapkan langkah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), mengambil spesialisasi di bidang demografi (ilmu kependudukan).

Kecerdasannya yang luar biasa terendus sejak mahasiswa. Bersama ahli statistik asal Kanada, Prof. Dr. Nathan Keyfiz, Widjojo menulis buku monumental "Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia". Buku berbobot itu bahkan diberi kata pengantar langsung oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta yang memujinya sebagai karya luar biasa dari putra bangsa. Widjojo pun lulus dari FEUI dengan predikat Cum Laude.

Ditolak Soekarno, Dirangkul Soeharto Lewat Seminar SESKOAD

Berkat prestasinya, Widjojo meraih beasiswa dari Ford Foundation untuk menempuh pendidikan doktor di University of California at Berkeley, Amerika Serikat, dan lulus pada tahun 1961. Sepulang ke tanah air, Indonesia sedang berada di era Demokrasi Terpimpin yang anti-Barat dan mengabaikan mekanisme pasar. Saat dikukuhkan sebagai Profesor UI pada 10 Agustus 1963, Widjojo membacakan pidato berani berjudul "Analisis Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan" yang menyarankan kombinasi mekanisme pasar dan intervensi pemerintah. Namun, karena tensi politik yang memanas, saran ilmiahnya diabaikan oleh Presiden Soekarno.

Titik balik kariernya terjadi pada Agustus 1966 pasca-Supersemar. Jenderal Soeharto menggelar seminar strategis di SESKOAD untuk mencari jalan keluar dari krisis ekonomi nasional di mana inflasi saat itu menembus angka mengerikan (harga barang tahun 1965 melonjak tujuh kali lipat dari tahun 1964).

Widjojo beserta tim ekonom dari FEUI mempresentasikan rekomendasi kebijakan yang taktis. Terpukau dengan pemikiran mereka, Soeharto langsung menunjuk Widjojo dan kawan-kawan sebagai Tim Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Presiden. Di kemudian hari, kelompok ekonom lulusan Amerika ini dijuluki oleh para pengamat sebagai "Mafia Berkeley"—sebuah tim yang dituding liberal, namun terbukti sukses menjinakkan hiperinflasi Indonesia.

Era 'Widjojonomics' dan Kesuksesan Internasional di Paris Club

Karier politik Widjojo melesat bagai meteor. Di usia yang masih sangat muda, 39 tahun, ia sudah memimpin tim penasihat ekonomi presiden. Jabatan mentereng digenggamnya secara berturut-turut:

1968: Ketua Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas)

1971–1973: Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional

1973–1983: Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas dua periode berturut-turut.

Konsep ekonominya—yang kerap dijuluki pers sebagai Widjojonomics—berakar dari teori Keynesian yang mengombinasikan kekuatan pasar dengan intervensi terukur pemerintah, dengan memegang teguh prinsip kehati-hatian yang sangat tinggi (prudent). Atas reputasi dunianya, pada tahun 1984 ia diganjar penghargaan bergengsi Elise Walter Haas Award dari Universitas Berkeley, menjadikannya orang Indonesia pertama yang menerima piala tersebut.

"Loyalitas Widjojo pada negara melintasi batas rezim. Saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat, Widjojo yang sudah sepuh diminta memimpin Delegasi Indonesia ke pertemuan Paris Club pada April 2000. Hasilnya luar biasa: ia sukses menegosiasikan penjadwalan ulang utang RI senilai 5,9 miliar dolar AS."

Akhir Hayat Sang Maestro Ekonomi

Widjojo Nitisastro mengembuskan napas terakhirnya pada 9 Maret 2012 di RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 84 tahun. Setahun sebelum wafat, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-84, ia masih sempat meluncurkan buku kumpulan pemikirannya dalam bahasa Inggris berjudul "The Indonesian Development Experience".

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi negara kepada sang mantan prajurit TRIP yang bertransformasi menjadi penyelamat ekonomi bangsa, jenazahnya dimakamkan secara militer dan khidmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Cetak biru pembangunan yang ditinggalkannya akan selalu menjadi fondasi sejarah modern kekuatan ekonomi Indonesia. (*)