Domianus Ture Londa, Bergaji Rp 2,9 juta di Indonesia ke Rp 2,1 miliar di Norwegia
Perkenalkan, saya Domianus Ture Londa. "Domianus" itu nama baptis yang diberikan orang tua, "Ture" adalah nama marga dari kampung yang mengingatkan saya dari mana saya berasal, dan "Londa" artinya anak laki-laki yang lahir di saat musim kemarau panjang.
Nama panjang yang dulu sering bikin saya malu waktu SD karena panjang dan susah dieja, tapi sekarang justru jadi pengingat: bahwa orang dari ujung timur Indonesia pun bisa sampai ke utara Eropa.
Awal lulus kuliah jurusan Perikanan di Universitas Nusa Cendana, Kupang, saya kerja sebagai staf lapangan di sebuah yayasan konservasi laut kecil di Pulau Rote. Gaji pertama saya cuma Rp 2,9 juta sebulan. Hidup sederhana, naik motor tua ke desa-desa pesisir, kadang kalau musim hujan jalannya rusak dan motor mogok, saya tidur di poskamling. Tapi dari situ saya lihat langsung: potensi laut kita luar biasa, tapi nelayan kita masih susah.
Mimpi sekolah ke luar negeri? Rasanya mimpi di siang bolong. Tapi saya mulai belajar bahasa Inggris pakai hape jadul, buka koneksi internet di bukit dekat rumah kontrakan biar dapet sinyal.
Saya apply beasiswa ke Norwegia—negara yang bahkan saya cuma tahu dari atlas sekolah. Tahun 2017, surat penerimaan dari Universitas Tromsø datang. Saya menangis. Saya terbang dengan tabungan Rp 4 juta, plus beasiswa yang pas-pasan untuk biaya hidup di kota termahal di Norwegia Utara.
Awal-awal di Norwegia Utara, saya hidup dengan gaji part-time setara Rp 25 juta - Rp 30 juta sebulan dari jadi asisten laboratorium dan tukang cuci piring di restoran Italia, tapi biaya hidup di sini gila-gilaan.
Saya tinggal di kamar kost ukuran 2x3 meter, makan mie instan impor dari toko Asia yang harganya 4 kali lipat dari Indonesia. Tapi saya ingat satu hal: orang tua saya di kampung belum pernah makan mie seenak ini. Jadi saya bertahan.
Perjuangan itu akhirnya berbuah. Setelah lulus S2, saya dapat kerja di perusahaan riset kelautan di Bergen. Gaji pertama sebagai junior researcher, setelah dikonversi ke rupiah, sekitar Rp 850 juta setahun.
Saya nelfon mama di Rote, bilang "Mama, bulan depan saya kirim uang buat ganti atap rumah yang bocor."
Mama nangis. Saya juga nangis. Sekarang, setelah 4 tahun bekerja dan naik jabatan, penghasilan saya setara sekitar Rp 2,1 miliar per tahun. Angka yang dulu cuma saya lihat di sinetron. Tapi tahu nggak, yang paling membahagiakan bukan soal angka itu. Setiap bulan, saya sisihkan 10 persen untuk bantu anak-anak di Rote dan sekitarnya yang mau kuliah tapi terkendala biaya.
Saya bukan orang kaya yang bagi-bagi uang, tapi saya bantu mereka dengan cara yang dulu saya butuhkan: koneksi internet di kosan buat mereka bisa cari beasiswa, bimbingan online via Zoom meskipuan sinyalnya suka putus-putus, dan yang paling penting, saya kasih mereka contoh bahwa orang dari timur, dari keluarga biasa, bisa tembus Eropa.
Sekarang ada 7 anak yang saya bimbing. Yang pertama sudah lulus S2 di Belanda, yang kedua lagi S2 di Jepang. Dua-duanya dari Nusa Tenggara Timur. Satu anak dari Alor, anak petani rumput laut, sekarang lagi S2 di Skotlandia soal bioteknologi kelautan.
Mereka kirim pesan: "Bang Dom, saya bisa sampai sini karena liat perjuangan abang dulu."
Rasanya... itu gak bisa dihitung dengan rupiah atau krona Norwegia. Saya ingat pesan almarhum bapak: "Dom, kalau ko pi jauh, jang lupa di mana ko pu akar. Akar yang kuat itu yang bikin pohon bisa tetap berdiri."
Jadi, inilah saya, Domianus Ture Londa. Masih tinggal di Bergen yang dingin, tapi hati selalu hangat karena tahu di kampung, ada banyak akar baru yang mulai tumbuh.
Saya percaya, dari Rote sampai Tromsø, dari pesisir Alor sampai Skotlandia, anak-anak Indonesia timur akan terus bermunculan. Dan saya cuma ingin jadi jembatan kecil yang membantu mereka menyeberang. (*)
Editor : Bambang Harianto