Semakin Tinggi Tekanan Darah, Semakin Cepat Dipanggil Tuhan?
Hari ini saya mengikuti seminar InaSH – Indonesian Society of Hypertension Annual Meeting – di Jakarta. Topiknya klasik tapi tidak pernah basi: hipertensi. Dan seperti biasa, selalu ada pertanyaan yang terdengar sederhana tapi sebenarnya dalam sekali, “Dok, kalau tekanan darah tinggi, apa benar bisa bikin meninggal lebih cepat?”
Pertanyaan ini menarik, karena di masyarakat kita hipertensi sering dianggap penyakit “biasa saja”. Tidak nyeri, tidak batuk, tidak demam. Banyak orang merasa sehat-sehat saja. Jadi muncul logika sederhana: kalau tidak terasa apa-apa, berarti tidak berbahaya. Padahal, berdasarkan data dan pengalaman klinis, justru di situlah letak bahayanya.
Secara umum, penelitian besar selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan darah, semakin tinggi pula risiko kematian akibat penyakit pembuluh darah, terutama stroke dan serangan jantung. Salah satu penelitian yang sering dikutip adalah meta-analisis besar oleh Sarah Lewington dan Richard Peto yang terbit di The Lancet tahun 2002.
Penelitian ini melibatkan sekitar satu juta orang dari 61 studi prospektif. Hasilnya menunjukkan hubungan yang konsisten: kenaikan sekitar 20 mmHg tekanan sistolik berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat stroke dan penyakit jantung secara signifikan. Dan yang menarik, hubungan ini terlihat bahkan mulai dari angka yang oleh banyak orang dianggap “tidak terlalu tinggi”.
Kemudian pada tahun 2014, penelitian oleh Eleni Rapsomaniki dan timnya yang juga terbit di The Lancet menganalisis data sekitar 1,25 juta orang di Inggris. Mereka menemukan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi tidak hanya lebih berisiko mengalami penyakit jantung dan stroke, tetapi kejadian itu juga datang lebih cepat, sekitar lima tahun lebih awal dibanding mereka yang tekanannya normal. Lima tahun mungkin terdengar singkat. Tapi lima tahun bisa berarti melihat anak lulus sekolah, menikah, atau sekadar menikmati masa pensiun dengan tenang.
Di kalangan usia muda pun cerita ini tidak berbeda. Tahun 2020, penelitian meta-analisis oleh Dong Luo dan rekan-rekannya di BMJ, melibatkan sekitar 4,5 juta dewasa muda dengan masa tindak lanjut hampir 15 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa bahkan peningkatan tekanan darah yang masih di kategori “sedikit naik” sudah berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular di kemudian hari. Jadi hipertensi bukan monopoli usia 60 tahun ke atas. Ia bisa mulai “menabung masalah” sejak usia 20–30 tahun.
Ada juga penelitian yang menyoroti durasi hipertensi. Studi dari UK Biobank yang dipublikasikan tahun 2022 di jurnal kardiovaskular internasional, melibatkan sekitar 450 ribu orang, menunjukkan bahwa semakin lama seseorang hidup dengan hipertensi—misalnya lebih dari 10–15 tahun—semakin tinggi risiko penyakit jantung dan kematian secara umum. Artinya, bukan hanya seberapa tinggi angkanya, tetapi sudah berapa lama tekanan itu dibiarkan.
Kalau kita mau jujur, tekanan darah itu seperti tekanan dalam pipa air di rumah. Kalau tekanannya terlalu tinggi terus-menerus, lama-lama pipa bisa retak, bocor, atau pecah. Pembuluh darah kita pun demikian.
Ia mungkin kuat, elastis, dan setia bekerja tanpa keluhan. Tapi tekanan yang berlebihan dalam jangka panjang membuatnya aus lebih cepat. Kerusakan itu tidak selalu terasa, sampai suatu hari muncul stroke mendadak atau serangan jantung yang tidak memberi aba-aba.
Di Indonesia, masalahnya menjadi lebih kompleks. Berdasarkan data nasional, sekitar sepertiga orang dewasa mengalami hipertensi. Namun dari jumlah itu, hanya sebagian yang terdiagnosis, dan dari yang terdiagnosis pun hanya sebagian yang terkontrol dengan baik. Ini seperti punya kebocoran atap, tahu bocor, tapi memilih menaruh ember saja tanpa pernah memperbaiki sumber masalahnya.
Dalam praktik sehari-hari, saya sering bertemu pasien yang berkata, “Dok, saya kan masih kuat naik tangga.” Lalu beberapa bulan kemudian datang dengan keluhan dada terasa berat atau wajah mendadak mencong.
Saya tidak pernah menyalahkan mereka. Banyak yang memang tidak mendapatkan edukasi yang cukup, atau merasa obat itu hanya untuk orang yang “sudah parah”. Padahal, berdasarkan penelitian-penelitian tadi, menurunkan tekanan darah bukan sekadar menurunkan angka di alat, tetapi menurunkan risiko kejadian besar yang bisa memendekkan usia.
Apakah ini berarti setiap orang dengan tekanan darah tinggi pasti meninggal lebih cepat? Tentu tidak sesederhana itu. Kehidupan manusia dipengaruhi banyak faktor: genetik, gaya hidup, lingkungan, akses layanan kesehatan. Namun secara umum, data menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terkontrol meningkatkan risiko kematian lebih dini, terutama melalui komplikasi pembuluh darah.
Yang sering luput adalah pola pikir kita. Kita lebih takut pada penyakit yang dramatis, yang membuat kita terbaring lemah. Sementara hipertensi yang “diam” justru kita anggap remeh. Kita rajin servis mobil tiap beberapa bulan, tapi jarang mengecek tekanan darah sendiri. Kita menghitung cicilan rumah dengan detail, tapi tidak menghitung risiko kesehatan jangka panjang.
Bagi saya, pertanyaan “Apakah tekanan darah tinggi membuat kita lebih cepat dipanggil Tuhan?” bukan soal takdir, melainkan soal tanggung jawab. Berdasarkan bukti ilmiah, tekanan darah tinggi yang dibiarkan memang berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi dan lebih cepat. Tapi kita masih punya ruang untuk mengubah jalannya cerita: dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat, pola makan yang lebih bijak, aktivitas fisik teratur, dan berhenti merokok.
Pada akhirnya, Tuhan memberi kita tubuh dengan sistem yang luar biasa cerdas. Tugas kita bukan menantang batasnya, tetapi merawatnya. Mari kita mulai dari hal sederhana: cek tekanan darah, pahami angkanya, dan jangan tunggu sampai tubuh berteriak. Semoga kita semua diberi kesehatan, umur yang berkah, dan kesadaran untuk saling mengingatkan. Jika menurut Anda tulisan ini bermanfaat, silakan bagikan. Bisa jadi, satu kali share menyelamatkan satu keluarga dari kehilangan yang terlalu cepat. (*)
*) Penulis : Dr. Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah)
Editor : Bambang Harianto