Ketika Somba Terpaksa Memilih Jalan Pemberontakan
Manado, awal 1958. D.J. Somba bukan prajurit yang lahir dari kenyamanan kota besar. Ia berasal dari keluarga sederhana Minahasa, dan pada masa pendudukan Jepang ia bergabung dalam Pembela Tana Air (PETA), organisasi semi militer yang menjadi tempat lahirnya banyak perwira Republik.
Ketika Indonesia merdeka, Somba tak ragu masuk ke TNI.
Ia membuktikan diri sebagai pemimpin yang berani, disiplin, dan sangat dekat dengan para prajuritnya. Sampai awal 1950-an, namanya harum sebagai komandan Resimen Infanteri 24 (RI-24) di Manado.
Rakyat mengenalnya sebagai perwira yang turun langsung ke sawah, ke rumah-rumah rakyat, dan bahkan ikut memanggul karung beras bantuan untuk daerah-daerah terpencil.
“Pa Somba itu bukan cuma tentara,” kenang seorang warga tua Minahasa dalam arsip sejarah.
“Dia itu anak daerah yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal.”
Perjalanannya tampak lurus. Hingga ia menyaksikan sendiri bahwa pembangunan Indonesia tidak berjalan adil.
Karea suara daerah tak didengar, memasuki pertengahan 1950-an, daerah-daerah di luar Jawa, termasuk Sulawesi Utara, mulai bersuara, pembangunan terlalu Jawa sentris, tenaga kerja tidak diperhatikan, dana daerah minim, dan aspirasi militer daerah hampir tidak pernah sampai ke Jakarta.
Di titik inilah Somba mulai berubah. Somba bukan orang yang mudah marah. Tapi ia bukan pula orang yang diam ketika rakyatnya menderita.
Para pemimpin lokal memintanya mewakili aspirasi daerah. Somba menulis laporan, mengirim telegram, bahkan berangkat langsung ke Jakarta untuk memohon pemerataan. Namun, ketika semua usaha hanya dibalas janji-janji yang tak pernah ditepati, akhirnya D.J Somba mulai kekecewaan.
Puncaknya pada Tahun 1957–1958, gerakan PERMESTA (Perjuangan Rakyat Semesta) meletus di Sulawesi Utara sebagai kritik terhadap pemerintah pusat. Para tokoh militer dan sipil meminta Somba mengambil posisi. Di satu sisi, Somba masih prajurit Republik. Di sisi lain, ia adalah anak daerah yang tak sanggup melihat rakyatnya terus dimarjinalkan.
Pada 17 Februari 1958, Somba mengambil keputusan yang mengubah seluruh hidupnya Sebagai Gubernur Militer KDM-SUT, ia memutus hubungan komando dengan Pemerintah pusat. Keputusan itu tak lahir dari ambisi. Ia lahir dari rasa sakit yang menumpuk bertahun-tahun.
Dalam catatan arsip lokal, seorang prajurit Permesta pernah berkata “Letkol Somba bukan pemberontak. Dia hanya memilih berdiri di antara kami yang sudah terlalu lama menunggu keadilan.”
Namun bagi Jakarta, tindakannya jelas sebuah pemberontakan. Somba dicopot dari keanggotaan Angkatan Darat. Somba kini resmi menjadi pemimpin militer Permesta.
Di dalam struktur militer Permesta, Somba memimpin pasukan besar. Arsip sejarah BI Institute mencatat adanya ribuan mantan KNIL yang bergabung dan memperkuat barisan.
Perang pun pecah, Pemerintah melancarkan Operasi Merdeka, gabungan pasukan darat, laut, dan udara. Manado dibombardir dari udara, daerah pedalaman digempur berkali-kali Rakyat sipil menjadi korban. Rumah-rumah terbakar, sekolah runtuh, keluarga terpisah.
Namun Somba tidak pernah meninggalkan rakyatnya. Ia dikenal sering berada di garis depan, menyelamatkan warga, mengevakuasi luka-luka, membagi sisa logistiknya kepada pengungsi.
Dalam masa ketika ia disebut pemberontak, Somba justru menunjukkan sisi paling manusiawi sebagai pemimpin.
Menjelang tahun 1961, kedua pihak mulai lelah. Perang saudara tidak menghasilkan pemenang namun hanya menghadirkan luka. Dengan perantara tokoh seperti F.J. “Broer” Tumbelaka, dimulai negosiasi panjang.
Akhirnya pada 4 April 1961, di Malenos, disepakati deklarasi perdamaian bahwa Permesta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dokumen itu ditandatangani oleh para pemimpin Permesta, termasuk Somba, dan diumumkan di depan rakyat.
Somba berdiri tegap, mirip ketika ia masih perwira TNI dulu, namun kali ini ia tampak lebih tua, lebih letih, lebih berhati-hati memilih kata.
Seorang saksi mengingat ucapannya, “Kami pulang bukan karena kalah, tapi karena rakyat sudah cukup menderita.”
Pemerintah pusat memberikan amnesti.
Somba sempat kembali bekerja di lembaga intelijen negara (BAKIN). Ia menjalani hari-hari tua dengan tenang.
Pada 12 November 1983, sang mantan pahlawan pemberontak pemersatu itu berpulang.
"D.J. Somba bukan tokoh hitam-putih', Ia adalah pahlawan yang membela bangsanya. Somba adalah pemberontak yang memperjuangkan keadilan daerah. Ia adalah manusia yang terseret arus sejarah besar yang kadang tidak memberi ruang untuk jalan tengah.
Di mata sebagian rakyat Sulawesi Utara, ia tetap pejuang Minahasa yang berani.
Di mata negara, ia pernah menjadi ancaman. Namun dalam sejarah, ia dikenang sebagai tokoh kompleks, seorang perwira yang memilih jalur sulit demi suara rakyat.
Karena terkadang, pahlawan bukan mereka yang selalu benar. Tetapi mereka yang berani mengambil risiko terbesar demi sesuatu yang mereka yakini benar. (*)
*) Source : Rapakat
Editor : S. Anwar