Sutan Muhammad Zain, Sang Maestro Bahasa Asal Pariaman

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sutan Muhammad Zain
Sutan Muhammad Zain
grosir-buah-surabaya

Setiap kali kita menulis atau mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia yang baku, ada jejak pemikiran seorang putra Minangkabau legendaris di dalamnya. Sosok tersebut adalah Profesor Sutan Muhammad Zain. 

Lahir di Sungai Pasak, Padang Pariaman pada tahun 1886, beliau adalah pakar bahasa terkemuka yang meletakkan dasar-dasar gramatika bahasa Indonesia modern. Melalui karya-karyanya, fondasi bahasa nasional kita dibentuk dari struktur bahasa klasik menjadi bahasa modern yang dinamis.

Pribumi Pertama Peraih Ijazah Tertinggi Bahasa Melayu di Leiden

Kecintaan Sutan Muhammad Zain pada dunia bahasa sudah terlihat sejak usia muda. Pada tahun 1911, ia dipercaya menjadi guru Bahasa Melayu di Prince Hendrik School, Batavia. 

Kecerdasannya yang luar biasa membawa guru muda ini terbang ke Belanda pada tahun 1923 setelah memenangkan beasiswa bergengsi di Rijksuniversiteit Leiden. Disana, ia mengukir sejarah sebagai pribumi Indonesia pertama yang berhasil meraih ijazah tertinggi dalam penguasaan Bahasa Melayu di dunia akademik internasional—sebuah pencapaian yang diakui secara luas oleh kalangan ilmiah Eropa saat itu.

Pencetus Kata Benda dan Kata Kerja Melalui "Djalan Bahasa Indonesia"

Selain menjadi akademisi, Sutan Muhammad Zain adalah seorang aktivis pergerakan yang gigih. Ia sempat memimpin Pengurus Besar Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada era 1914–1922, serta menjadi anggota Gemeente Raad (Dewan Kotapraja) hingga Volksraad (Dewan Rakyat).

Puncak kontribusi monumentalnya terjadi pada masa pendudukan Jepang. Di tengah situasi serba sulit, ia menyusun buku tata bahasa revolusioner berjudul "Djalan Bahasa Indonesia".

Berkat buku inilah, untuk pertama kalinya masyarakat Indonesia mengenal istilah-istilah struktural tata bahasa yang kita gunakan sampai sekarang, seperti kata benda, kata kerja, kata sandang, kata sifat, dan seterusnya.

Tak berhenti di sana, pada tahun 1951, Sutan Muhammad Zain meluncurkan "Kamus Modern Bahasa Indonesia". Karya agung ini kelak disempurnakan oleh ahli bahasa legendaris generasi berikutnya, J.S. Badudu, menjadi "Kamus Lengkap Badudu-Zain" yang diterbitkan pada tahun 1992 dan menjadi rujukan utama jutaan pelajar di Tanah Air.

Melahirkan 'Klan' Intelektual Top Indonesia

Kehebatan Sutan Muhammad Zain tidak hanya tercermin dari karya tulisnya, tetapi juga dari caranya mendidik keluarga. Menikah dengan Siti Murin, pasangan ini melahirkan anak-anak yang kelak menjadi tokoh-tokoh besar penentu arah sejarah bangsa di berbagai bidang :

Anak Kiprah & Pencapaian

Dr. Sutan Zairin Zain (Diplomat Senior dan Duta Besar RI di berbagai negara sahabat).

Sutan Rustam Zain (Tokoh pergerakan, salah satu pembentuk laskar Pemuda Republik Indonesia/PRI). 

Drg. Yetty Rizali Noor (Tokoh emansipasi, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Trisakti, Ketua Umum Kowani, dan Anggota DPR). 

Prof. Sutan Harun Alrasjid Zain (Rektor Universitas Andalas, Gubernur Sumatra Barat dua periode, dan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi). 

Ir. Sutan Maliksyah Zain (Insinyur lulusan Insitut Teknologi Bandung /ITB yang sukses menjabat sebagai Direktur Pantja Niaga di Jepang).

Akhir Hayat Sang Penjaga Gerbang Bahasa

Setelah mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengangkat harkat martabat bahasa persatuan, Sutan Muhammad Zain mengembuskan napas terakhirnya pada 6 April 1962 dalam usia 76 tahun. Sutan Muhammad Zain terserang stroke di dalam pesawat dalam perjalanan dinas udara dari Amerika Serikat menuju Tokyo, Jepang. 

Jenazahnya kemudian dipulangkan ke tanah air dan dimakamkan dengan takzim di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat. Warisan intelektualnya akan selalu hidup setiap kali bahasa Indonesia dituturkan di seluruh penjuru dunia. (*)