Media Kehilangan Rumah, dari Dominasi Newsroom ke Era Influencer dan Homeless
Sebagai wartawan dengan pengalaman bekerja lumayan panjang di media arus utama, saya melihat lanskap media di Indonesia berubah drastis dalam dua dekade terakhir. Media arus utama yang dulu menjadi penjaga gerbang informasi, kini menghadapi tekanan dasyat dari media sosial, influencer, dan maraknya fenomena “homeless media” — kanal informasi tanpa newsroom dan tanpa rumah institusional.
Di era algoritma, perhatian publik lebih ditentukan engagement ketimbang verifikasi. Akibatnya cukup serius! Batas antara jurnalisme, propaganda, hiburan, dan pencitraan semakin kabur. Sementara media mainstream kehilangan pembaca muda, iklan, dan otoritasnya sebagai sumber utama informasi.
Perlu dipahami, homeless media adalah istilah untuk kanal atau akun media yang tidak memiliki “rumah” media formal seperti situs berita, koran, majalah, radio, atau televisi, tetapi aktif memproduksi dan menyebarkan konten layaknya media profesional melalui platform media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, X, atau Facebook.
Disebut “homeless” alias tidak punya rumah karena mereka tidak bergantung pada domain berita, newsroom besar, atau institusi pers konvensional. Seluruh aktivitas medianya hidup langsung di platform digital.
Nah, perubahan terbesar dalam industri media bukan lagi soal teknologi, melainkan perpindahan otoritas. Jika dulu legitimasi informasi lahir dari newsroom, editor, dan verifikasi berlapis, kini legitimasi dibentuk oleh algoritma dan perhatian publik.
Tapi, di era media sosial, siapa yang paling dipercaya belum tentu yang paling akurat, melainkan yang paling dekat secara emosional dengan audiens. Itulah sebabnya influencer dan homeless media tumbuh sangat cepat: mereka berbicara dengan bahasa internet, bergerak cepat, dan memahami psikologi engagement lebih baik dibanding media konvensional.
Saya kadang dalam hati bertanya, kenapa media konvensional tidak bisa cepat mempelajari itu semua? Atau ini karena persoalan 'DNA' yang berbeda?
Kalau mau jujur, ini sih pendapat saya ya, fenomena homeless media menunjukkan krisis yang lebih dalam: runtuhnya model bisnis media arus utama. Ini nggak usah dipungkirilah.
Koran-koran harian yang saat ini masih mencetak halamanannya [umumnya media arus utama] , berapa eksemplar sih yang mereka cetak? Ratusan ribu atau puluhan ribu eksemplar? Kok saya nggak begitu yakin ya... Paling cuma ribuan eksemplar. Itupun hanya untuk memastikan kepada pengiklan bahwa korannya masih ada, masih hidup, masih eksis [meski sudah tidak ada atau langka sekali orang membaca koran] kalau tak mau mengatakan berusaha keras menolak punah.
Loh, sekarang itu eranya engagement. Kalau koran atau majalah cetak sudah tidak ada yang baca, lantas engagement-nya dimana kalau tetap terus dicetak?
Ketika iklan digital dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok, newsroom kehilangan kemampuan membiayai jurnalisme berkualitas dalam skala besar. Banyak jurnalis akhirnya bermigrasi menjadi kreator independen demi bertahan hidup. Ironisnya, media mainstream yang dulu mengkritik sensasionalisme kini ikut mengejar pola viral yang sama — clickbait, headline emosional, dan konten pendek — demi bertahan dalam ekonomi perhatian (attention economy).
Bagi Pemerintah, situasinya jauh lebih kompleks. Negara tidak lagi cukup hanya menguasai narasi melalui media formal karena percakapan publik kini tersebar di ribuan akun, kanal, dan komunitas digital. Masalahnya, algoritma cenderung memperbesar konflik, kemarahan, dan kontroversi. Akibatnya, komunikasi publik yang rasional sering kalah oleh konten yang emosional.
Di masa depan, pertarungan bukan lagi antara media versus media, melainkan antara kredibilitas versus viralitas. Dan itu menjadi tantangan terbesar demokrasi digital saat ini. (*)
*) Penulis : Deddy H Pakpahan
Editor : S. Anwar