Malaikat Tanpa Sayap Itu Bernama Habib Muhsin Al Jufri

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Habib Muhsin Al Jufri (pakai celana)
Habib Muhsin Al Jufri (pakai celana)
grosir-buah-surabaya

Beberapa tahun yang lalu di sebuah kampung kecil padat penduduk di tengah Kota Solo bernama Losari, Semanggi, ada seseorang yang meninggal karena diabetes parah. Jasadnya sangat bau akibat bekas luka diabetes.

Almarhum juga miskin dan sepertinya tanpa keluarga. Warga pada manjauh, belum ada yang mau mengurus jenazahnya karena bau. Sampai lah berita itu kepada Habib Muhsin Al Jufri (Habis Fosmil). Habib Muhsin Al Jufri dengan beberapa orang langsung datang ke lokasi untuk mengurus jenazah tadi, tanpa jijik tanpa ragu hingga selesai dimakamkan.

Yaps, Malaikat tanpa sayap itu bernama Habib Muhsin Fosmil. Nama Fosmil adalah nama yayasan yang beliau dirikan dahulu (kalau tidak salah Beliau dengan Habib Syekh) jaman masih merintis dakwah. Yayasan Fosmil bergerak di bidang sosial.

Banyak sekali kaum fuqoro dan masakin yang terbantu dengan adanya Habib Muhsin Al Jufri ini dan forumnya.

Abul Fuqoro mungkin yang pantas disematkan kepada Habib Muhsin Al Jufri. Tak jarang Habib Muhsin Al Jufri datang ke desa desa terpencil untuk mengadakan bakti sosial, baik pembagian sembako, pinjaman modal kecil tanpa bunga, daging kurban, pasar murah, dan lain-lain. Bahkan sempat membuka klinik gratis. Hanya memasukan uang seikhlasnya di kotak.

Sempat berjalan baik dan bagus. Entah kenapa berhenti karena alasan birokrasi (mungkin karena klinik berbayar jadi sepi).

Kini, Habib Muhsin Al Jufri menyediakan beberapa tabung oksigen gratis untuk dipinjamkan kepada mereka yang membutuhkan. 

Masyarakat Pasar Kliwon, Kota Solo, sudah tidak asing lagi dengan aksi sosial beliau yang luar biasa. Salah satunya ya penulis sendiri. Ketika itu, aku masih jadi guru honorer di Madrasah dengan gaji tak seberapa. Kehamilan istriku sudah menginjak masa lahir. Dan kami memutuskan untuk lahiran di Pulau Lombok, tempat istri saya.

Saat itu uang sudah mulai menipis buat tiket dan keperluan lainnya. Dan ternyata harus operasi.

Beberapa hari sebelum operasi sesar yang membutuhkan dana banyak karena belum ada Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS), Habib Muhsin Al Jufri menelpon saya.

Saya tidak bisa lupa. Bilangnya, “Ya Syarif, tanpa mengurangi rasa hormat, Ana akhuk (saya saudaramu). Bilang berapa butuhnya buat operasi. Jangan malu. Ana kirim uangnya.”

Dan benar saja. Habib Muhsin Al Jufri biayai kelahiran anak pertama saya. Bahkan beliau bilang kau harus pulang ke Solo. Jangan takut tidak bisa pulang. Bilang berapa uang tiket.

Kasus seperti saya ini yang beliau bantu sudah banyak. Bahkan yang lebih memprihatinkan dari saya.

Ada orang pernah datang ke kantor Yayasan Fosmil. Sudah mau bunuh diri. Orang tua yang ditinggal anaknya dalam keadaan sakit. Tak diurus, tinggal di gubuk apa adanya.

Sudah hampir gantung diri karena putus asa. Akhirnya pelan-pelan permasalahanya dibantu Habib Muhsin hingga selesai.

Habib Muhsin Al Jufri ini apakah orang kaya? Tidak. Beliau hidup apa adanya. Bekerja keras cari nafkah. Memang untuk kegiatan sosial, ada donatur donatur juga yang membantu. Tapi beliau tidak mau mengambil gaji dari kegiatan itu. Padahal sudah diijinkan. Bahkan Habib Muhsin Al Jufri mau dikasih mobil untuk operasional pribadi beliau oleh salah satu donator. Beliau tidak mau.

Habib Muhsin Al Jufri adalah malaikat tanpa sayap. Yang tak henti-hentinya meringankan penderitaan si miskin... si sakit... si bingung .. si pengangguran...

Pasar Kliwon bangga dengan adanya Habib Muhsin Al Jufri. Semoga sehat Afiat panjang umur selalu. (*)

*) Source : Samber Nyowo Mulachela