Roesmin Noerjadin, Pemimpin Tim Aerobatik Pertama TNI AU
Dalam catatan sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), nama Roesmin Noerjadin menempati posisi yang amat sakral. Ia adalah sosok penerbang tempur legendaris yang kepiawaiannya di udara hanya bisa disejajarkan dengan Marsekal Muda TNI (Anumerta) Leo Wattimena.
Menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Udara (Men/Pangau) dari 31 Maret 1966 hingga 10 November 1969, pria kelahiran 31 Mei 1930 ini bukan sekadar birokrat militer, melainkan seorang kesatria angkasa sejati yang kelak juga dipercaya mengabdi sebagai Menteri Perhubungan.
Bocah Priyayi Kebumen yang Terkenal Pemberani
Meskipun dilahirkan di Malang, Roesmin Noerjadin sejatinya tumbuh besar di kampung halaman orang tuanya. Ia terlahir dari keluarga priyayi Jawa yang berasal dari Dusun Plarangan, Karanganyar, Kebumen—sebuah wilayah yang dahulu berstatus kabupaten tersendiri.
Menghabiskan masa kecil dan mudanya di Kebumen, Roesmin mengenyam pendidikan di Sekolah Taman Siswa Karanganyar. Sejak masih belia, aura kepemimpinan dan sifat pemberaninya sudah sangat menonjol di antara teman sebayanya. Sifat inilah yang kemudian membawanya masuk ke dunia militer tanpa ragu.
Melesat Bersama Skadron 3 Pemburu dan Jet MiG-17
Karier dirgantara Roesmin dimulai setelah ia lulus dari Sekolah Penerbang pada tahun 1952 dengan pangkat Letnan Muda Udara I. Titik awal perjuangannya di angkasa dimulai saat ia ditempatkan di Skadron 3 Pemburu yang berbasis di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.
Roesmin adalah tipe prajurit yang haus akan ilmu. Berbagai pendidikan militer papan atas dilaluinya tanpa hambatan, mulai dari Kursus Staf Angkatan I (1950), latihan komando di dalam negeri, hingga dikirim ke Inggris untuk menempuh Flight Instructor School pada tahun 1964.
Puncak reputasinya sebagai penerbang legendaris terukir indah di awal tahun 1960-an. Bersama para penerbang andal dari Skadron Udara 11, Roesmin ikut membidani lahirnya tim aerobatik pertama TNI AU yang menggunakan jet tempur canggih kala itu, MiG-17 buatan Uni Soviet.
Dengan sandi udara "Elang", Roesmin Nurjadin bergantian dengan Leo "Eagle" Wattimena bertindak sebagai Leader (pemimpin formasi) dalam pertunjukan udara memukau yang menghipnotis publik Indonesia. Tim legendaris ini juga diperkuat oleh para penerbang top seperti Mayor Pnb Ibnu "Scorpion" Subroto, Mayor Pnb Manetius "Blue Angel" Mudsijan, dan Kapten Pnb Sukardi.
Penyelamat AURI di Tengah Badai Politik 1966
Karier diplomatik dan manajerial Roesmin juga sangat cemerlang. Ia pernah dipercaya menjadi Atase Udara KBRI di Bangkok, hingga dipindahkan ke Moskow, Rusia, pada tahun 1965 saat hubungan militer kedua negara sedang mesra-mesranya.
Namun, tugas paling berat datang pada 2 Mei 1966. Pasca-peristiwa G30S, posisi AURI berada dalam situasi politik yang sangat panas dan kurang menguntungkan. Di tengah turbulensi politik nasional tersebut, Roesmin Nurjadin yang kala itu berpangkat Laksamana Muda Udara diangkat untuk memimpin AURI.
Dengan tangan dingin, ketenangan, dan kepemimpinannya yang tegas, ia berhasil melakukan konsolidasi internal, menyelamatkan institusi, dan membawa TNI AU melewati masa-masa paling kritis dalam sejarahnya. Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Laksamana Madya Udara pada 17 Juli 1966.
Akhir Hayat Sang Elang Dirgantara
Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kedaulatan udara dan transportasi Indonesia, sang elang akhirnya harus mendarat untuk selamanya. Roesmin Noerjadin wafat di RS Hasan Sadikin, Bandung, pada 8 September 1994 dalam usia 64 tahun karena sakit.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa, bakti, dan keberaniannya yang luar biasa, jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan.
Tak hanya itu, namanya kini diabadikan secara abadi sebagai nama pangkalan udara utama di Sumatra, yaitu Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau, agar generasi penerus bangsa selalu ingat akan kisah sang Elang Penjaga Langit Nusantara. (*)
Editor : S. Anwar