12 Juli 100 SM Lahir Julius Caesar, Tokoh yang Mengubah Nasib Romawi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Julius Caesar
Julius Caesar
grosir-buah-surabaya

12 Juli 100 SM (sebelum Masehi) merupakan salah satu tanggal yang paling sering dikaitkan dengan kelahiran Gaius Julius Caesar, tokoh yang kemudian menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah dunia kuno. Meskipun terdapat perdebatan di kalangan sejarawan mengenai apakah ia lahir pada 12 Juli atau 13 Juli tahun 100 SM, sebagian besar tradisi kuno dan kalender Romawi yang masih bertahan menunjuk pada tanggal 12 Juli sebagai hari kelahirannya. 

Perdebatan tersebut muncul karena perbedaan penanggalan dan interpretasi sumber-sumber kuno seperti karya Cassius Dio. Sementara sejumlah kalender Romawi kuno (Fasti Amiterni dan Fasti Antiates) mencatat bahwa Julius Caesar lahir pada tanggal yang kemudian diperingati setiap tahun oleh masyarakat Romawi.

Ketika Julius Caesar lahir, dunia Mediterania sedang berada dalam masa yang penuh gejolak. Republik Romawi (Res Publica Romana) telah berkembang menjadi kekuatan dominan di kawasan Laut Tengah setelah kemenangan dalam Perang Punisia melawan Kartago pada abad ke-2 SM. Namun di balik kejayaan tersebut, Roma menghadapi berbagai masalah internal yang semakin serius. 

Kesenjangan antara golongan aristokrat dan rakyat biasa melebar, konflik politik semakin keras, dan berbagai perang sipil mulai mengancam stabilitas negara. Pada masa inilah lahir seorang anak dari keluarga bangsawan tua yang kelak mengubah jalannya sejarah Romawi secara permanen.

Dalam sejarah perkembangannya, Republik ini diwarnai oleh pembagian kelas antara kaum bangsawan (Patrician) dan rakyat biasa (Plebeian). Kaum Plebeian memperjuangkan hak politiknya hingga tercipta hukum tertulis pertama, yaitu Hukum Dua Belas Tabel.

Pada masa ini, wilayah Romawi meluas hingga mencakup seluruh kawasan Mediterania melalui serangkaian penaklukan militer, termasuk Perang Punisia melawan Kartago. Menjelang akhir era Republik, ketegangan politik dan perang saudara muncul, hingga akhirnya sistem ini runtuh pada tahun 27 SM dan beralih menjadi Kekaisaran Romawi di bawah kepemimpinan Augustus

Julius Caesar lahir di kota Rome sebagai anggota keluarga gens Julia, salah satu keluarga patrician atau bangsawan tertua di Roma. Keluarga Julia mengklaim bahwa garis keturunan mereka berasal dari Lulus (Ascanius), putra pahlawan legendaris Troya, yaitu Aeneas. 

Karena Aeneas diyakini merupakan putra dewi Venus dalam tradisi Romawi, keluarga Julii secara simbolis menghubungkan dirinya dengan asal-usul ilahi. Klaim genealogis semacam ini sangat penting dalam budaya politik Romawi karena memberikan legitimasi dan prestise kepada keluarga yang bersangkutan. 

Meskipun memiliki silsilah terhormat, keluarga Caesar pada masa kelahirannya tidak termasuk keluarga terkaya atau paling berpengaruh di Roma. Mereka berasal dari kalangan aristokrat lama yang prestise sosialnya masih tinggi, tetapi kekuatan politik dan ekonominya tidak sebesar beberapa keluarga senator lainnya.

Ayahnya bernama Gaius Julius Caesar (nama sama seperti anaknya), seorang pejabat Romawi yang pernah menjabat sebagai praetor. Sementara ibunya adalah Aurelia Cotta, perempuan yang dalam berbagai sumber kuno dikenal memiliki kecerdasan, disiplin, dan pengaruh besar terhadap pendidikan anaknya. 

Banyak sejarawan Romawi kemudian memuji Aurelia sebagai salah satu ibu paling berhasil dalam membentuk karakter tokoh besar Roma. Dalam masyarakat Romawi, pendidikan awal anak-anak bangsawan sangat menekankan retorika, hukum, sastra Latin, sastra Yunani, dan kemampuan berbicara di depan umum. 

Pendidikan semacam ini menjadi fondasi penting bagi Caesar muda yang kelak terkenal sebagai orator ulung, penulis berbakat, sekaligus negarawan yang mampu memengaruhi massa melalui pidato dan tulisan.

Masa kecil Caesar berlangsung ketika Republik Romawi sedang mengalami pertarungan politik antara dua kelompok besar yang dikenal sebagai Optimates dan Populares. Optimates merupakan kelompok aristokrat konservatif yang mempertahankan dominasi Senat, sedangkan Populares berusaha memperoleh dukungan rakyat melalui reformasi politik dan ekonomi. 

Konflik antara kedua kelompok ini menjadi latar belakang hampir seluruh perjalanan hidup Caesar. Keluarganya memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh Populares, terutama melalui hubungan kekerabatan dengan Gaius Marius, salah satu jenderal terbesar Roma yang menjadi lawan politik utama Lucius Cornelius Sulla. Persaingan antara Marius dan Sulla berkembang menjadi perang saudara yang brutal dan meninggalkan bekas mendalam pada generasi muda Caesar.

Ketika Sulla berhasil merebut kekuasaan dan menjadi diktator pada tahun 82 SM, Caesar yang masih berusia belasan tahun berada dalam posisi berbahaya, la telah menikahi Cornelia, putri dari sekutu politik Marius bernama Lucius Cornelius Cinna. 

Sulla memerintahkan Caesar menceraikan Cornelia sebagai bentuk pemutusan hubungan politik dengan kubu lawan. Caesar menolak perintah tersebut. Penolakan ini membuatnya kehilangan sebagian warisan, kehilangan jabatan keagamaan, dan bahkan memaksanya melarikan diri dari Roma untuk menghindari penangkapan. 

Keberaniannya menghadapi Sulla pada usia muda sering dianggap sebagai salah satu petunjuk awal mengenai karakter politiknya yang keras dan tidak mudah tunduk pada tekanan. Menurut tradisi yang kemudian dicatat oleh para penulis kuno, Sulla bahkan dikatakan pernah memperingatkan bahwa dalam diri pemuda itu terdapat "banyak Marius".

Setelah kematian Sulla pada 78 SM, Julius Caesar mulai membangun karier publiknya secara bertahap. la bertugas dalam militer, mempelajari retorika, dan mulai tampil sebagai pengacara serta politikus muda. 

Salah satu kisah paling terkenal dari masa mudanya adalah ketika ia diculik oleh bajak laut di Laut Aegea sekitar tahun 75 SM. Menurut sumber kuno, Julius Caesar tidak menunjukkan rasa takut kepada para penculiknya. Bahkan ia bercanda bahwa uang tebusan yang mereka minta terlalu rendah dibandingkan nilai dirinya. 

Setelah dibebaskan, ia mengumpulkan pasukan, memburu para bajak laut tersebut, menangkap mereka, dan menjatuhkan hukuman. Kisah ini menjadi salah satu anekdot yang paling sering digunakan untuk menggambarkan keberanian, kepercayaan diri, dan ambisi luar biasa yang telah dimiliki Julius Caesar sejak usia muda.

Karier politik Julius Caesar berkembang melalui tahapan yang dikenal sebagai cursus honorum, yaitu jenjang jabatan resmi dalam Republik Romawi. la menjabat sebagai quaestor, kemudian aedile, lalu pontifex maximus pada tahun 63 SM, sebuah jabatan keagamaan tertinggi yang memberinya pengaruh besar dalam kehidupan publik Romawi. 

Pada tahun-tahun berikutnya, ia semakin terkenal karena kemampuannya membangun jaringan politik, menyelenggarakan pertunjukan publik, serta memperoleh dukungan rakyat. Namun ambisi politik tersebut juga membuatnya terlilit utang dalam jumlah sangat besar karena biaya kampanye dan kegiatan publik yang luar biasa mahal.

Titik balik terbesar dalam karier Caesar terjadi pada tahun 60 SM ketika ia membentuk aliansi politik tidak resmi yang dikenal sebagai Triumvirat Pertama bersama Gnaeus Pompeius Magnus dan Marcus Licinius Crassus. Pompey merupakan jenderal paling terkenal di Roma saat itu. Sedangkan Crassus dikenal sebagai salah satu orang terkaya dalam sejarah Romawi. 

Melalui kerja sama tersebut, Caesar berhasil memperoleh jabatan konsul pada tahun 59 SM, sebelum kemudian mendapatkan komando militer di wilayah Galia.

Keputusan ini akan mengubah nasib Roma dan juga nasib Caesar sendiri.

Antara 58 SM hingga 50 SM, Julius Caesar memimpin serangkaian kampanye militer yang dikenal sebagai Perang Galia (Bellum Gallicum). Dalam perang tersebut ia menaklukkan wilayah yang sekarang mencakup sebagian besar France, Belgium, sebagian Switzerland, dan wilayah sekitarnya. Kemenangan-kemenangan ini tidak hanya memperluas wilayah Romawi secara signifikan, tetapi juga menjadikan Caesar sebagai tokoh paling populer dan berbahaya di republik. 

la menulis sendiri laporan perang tersebut dalam karya terkenal Commentarii de Bello Gallico, yang hingga kini menjadi salah satu sumber utama mengenai kampanye militernya.

Kesuksesan militer Julius Caesar menimbulkan ketakutan di kalangan banyak senator. Mereka khawatir bahwa seorang jenderal dengan pasukan yang sangat loyal dapat mengancam sistem republik. Ketegangan akhirnya memuncak pada tahun 49 SM ketika Senat memerintahkan Caesar melepaskan komandonya. 

Sebagai tanggapan, ia menyeberangi Sungai Rubicon bersama pasukannya. Tindakan tersebut dianggap sebagai pemberontakan terhadap otoritas negara dan memicu perang saudara. Dari peristiwa inilah muncul ungkapan terkenal "Alea iacta est" yang berarti "dadu telah dilempar", simbol keputusan yang tidak dapat ditarik kembali.

Perang saudara yang berlangsung antara tahun 49-45 SM berakhir dengan kemenangan Julius Caesar atas pasukan Pompey dan para pendukung Senat. Setelah serangkaian kemenangan di Italia, Yunani, Mesir, Afrika Utara, dan Hispania, Caesar menjadi penguasa paling kuat dalam sejarah Republik Romawi. 

la kemudian melaksanakan berbagai reformasi, termasuk restrukturisasi pemerintahan, perluasan kewarganegaraan, reformasi administrasi provinsi, dan penyusunan Kalender Julian (Calendarium Julianum) yang menjadi dasar sistem kalender modern selama lebih dari enam belas abad. Bahkan nama bulan Juli (July) berasal dari namanya sebagai bentuk penghormatan yang diberikan setelah kematiannya.

Pada tahun 44 SM, Julius Caesar menerima gelar dictator perpetuo atau diktator seumur hidup. Bagi banyak senator, gelar tersebut dianggap sebagai bukti bahwa republik sedang bergerak menuju monarki. Kekhawatiran inilah yang mendorong terbentuknya konspirasi yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius Longinus. 

Pada 15 Maret 44 SM, hari yang dikenal sebagai Ides of March, Caesar ditikam berkali-kali dalam sidang Senat yang berlangsung di kompleks Teater Pompey di Roma. Pembunuhan tersebut tidak menyelamatkan republik sebagaimana yang diharapkan para konspirator. Sebaliknya, peristiwa itu memicu perang saudara baru yang akhirnya mengakhiri Republik Romawi untuk selamanya.

Warisan terbesar Julius Caesar justru muncul setelah kematiannya. Putra angkat sekaligus ahli waris politiknya, Augustus, berhasil mengalahkan seluruh lawan politik dan mendirikan Kekaisaran Romawi (Imperium Romanum) pada tahun 27 SM. 

Dengan demikian, perjalanan sejarah yang dimulai dari kelahiran seorang anak bangsawan pada 12 Juli 100 SM berujung pada transformasi terbesar dalam sejarah Romawi: perubahan dari republik yang dipimpin Senat menjadi kekaisaran yang dipimpin seorang kaisar.

Banyak sejarawan menilai bahwa tidak ada tokoh lain dalam sejarah Romawi yang meninggalkan jejak sedalam Julius Caesar. Pengaruhnya terlihat dalam politik, militer, hukum, administrasi, bahasa, kalender, hingga konsep kekuasaan yang kemudian ditiru oleh banyak penguasa dunia. Bahkan gelar Caesar kelak melahirkan istilah Kaiser di Jerman dan Tsar/Czar di Rusia, menunjukkan bahwa lebih dari dua ribu tahun setelah kelahirannya, nama Julius Caesar masih menjadi simbol kekuasaan dan kepemimpinan di berbagai peradaban. (*)

*) Source : Venezia membaca