Bakar Jerami, Subur Sesaat, Tagihannya Panjang
Sering lihat petani membakar jerami sisa panennya di sawah? Mengapa mereka melakukan itu?
Saya pernah bertanya (protes, tapi dalam hati) pada beberapa tetangga sawah yang melakukan itu. Jawabnya mengejutkan.
"Kalau habis dibakar, tanaman berikutnya tumbuh subur kok nyatanya. Kalau langsung dibajak malah kurang bagus tanamannya. Bisa asem-aseman".
Yang lain juga sama. Membenarkan. Loh? Kok bisa? Jangan-jangan dia benar, dan saya yang salah. Bagaimana ini?
Kenapa habis dibakar kok tanaman jadi lebih hijau?
Sebenarnya ungkapan itu tidak salah kalau habis bakar jerami, tanaman selanjutnya jadi lebih hiijau di awal.
Abu jerami itu memang pupuk. Begitu jerami kebakar di suhu 400 sampai 700 derajat, kaliumnya tidak ikut terbang. 80 sampai 90 persen kaliumtetap ngendap di abu.
Dari 5 ton jerami, abunya bisa setara hampir 2 karung KCl. Begitu kena air, kaliumnya langsung larut dan disedot akar. Makanya padi muda keliatan hijau tebal.
Abunya juga bersifat basa. Isinya CaO dan MgO mirip kapur dolomit. Buat tanah sawah yang pH-nya drop karena kebanyakan Urea, abu ini bisa naikin pH dikit.
Hara yang tadinya kejepit jadi lepas. Plus, telur penggerek dan spora jamur di jerami mati kebakar. Lahan bersih, hama awal musim berkurang. Jadi benar bahwa bakar jerami jadi menambah kesuburan? Tunggu dulu, itu baru cerita setengahnya.
Apa yang tersisa saat jerami dibakar?
Begitu api nyala, yang terbang duluan justru hara paling penting buat hidupnya tanah. Yang pertama karbon. Jerami itu 40 persen karbon. Sekali kebakar, 90 sampai 100 persennya jadi CO2 dan ngilang ke udara.
Padahal karbon ini nyawanya tanah. Dia yang bikin struktur tanah remah, nyimpen air, dan jadi makanan buat mikroba. Bakar 5 ton jerami sama aja buang bahan organik setara 2 ton kompos.
Sekali dua kali tidak kerasa. Tiap musim dibakar, tanah makin bantat, gampang keras pas kering, dan daya simpan airnya turun drastis.
Kedua nitrogen. Nitrogen di 5 ton jerami itu setara 20 sampai 30 kg Urea. Kebakar, 80 sampai 95 persennya jadi gas dan hilang. Hemat waktu bakar sejam, tapi musim depan kamu harus nombok Urea lebih banyak.
Ketiga belerang atau Sulfur. 60 sampai 70 persen Sulfur juga ikut jadi asap SO2. Padahal belerang yang bikin bulir padi bernas dan berbobot. Kalau tiap musim dibakar, tanah pasti pelan-pelan tekor Sulfur
Yang sisa di abu tinggal kalium, fosfor sekitar 70 sampai 80 persen, silika yang bandel 95 sampai 100 persen, sama kalsium magnesium. Ibaratnya kita masak, tapi daging sama sayurnya dibuang, yang dipakai cuma garem sama micin.
Asapnya Jadi Emisi, Mikroba Tewas
Urusan bakar jerami nggak cuma soal hara. Ada harga lain yang harus dibayar: udara dan kehidupan di tanah.
Satu hektar jerami dibakar itu bisa ngeluarin 3 sampai 5 ton CO2 ke atmosfer. Itu belum ngitung gas lain kayak metana dan N2O yang efek rumah kacanya lebih kuat.
Asapnya bikin sesak, ganggu pernapasan tetangga, dan nyata nyumbang pemanasan global. Padahal karbon dan nitrogen di asap itu harusnya balik ke tanah, bukan ke langit jadi polusi.
Di bawah, api juga memanggang permukaan tanah. Cacing, bakteri penambat N, jamur pelarut P yang tinggal di 5 cm lapisan atas pada mati. Padahal mereka tim kerja gratis yang ngolah hara buat padi. Sekali bakar, populasi mikroba bisa drop drastis. Tanah jadi makin mati.
Butuh waktu berbulan-bulan buat populasi mereka pulih lagi. Sementara tanah kehilangan karbon, mikroba juga hilang. Dobel ruginya.
Kenapa jerami langsung dibajak tanpa dibakar bikin tanaman setelahnya asem-asemen?
Keluhan “asem-asemen” itu nyata dan ada penjelasannya. Jerami punya C/N Ratio tinggi, sekitar 60 sampai 80. Artinya karbonnya melimpah, nitrogennya pelit. Mikroba yang tugasnya mbusukin jerami itu rakus nitrogen.
Begitu jerami mentah dibenamkan, mikroba langsung pinjam N dari tanah buat ngerombak karbon. Jatah N buat padi kesedot dulu. Makanya 2 sampai 3 minggu awal padi jadi kuning, kerdil, kayak keracunan. Proses ini namanya immobilisasi N. Lewat fase itu, N-nya dibalikin lagi sama mikroba plus bonus.
Nah, fase kuning di awal inilah yang bikin petani trauma dan milih bakar saja. Untuk itu, sebenarnya ada cara mengatasinya. Mudahnya, bantu agar jerami lebih cepat terdekomposisi dalam tanah.
Bakar: subur kilat, tidak dibakar: subur lama?
Jadi, bakar jerami itu memang bikin tanah "subur kilat". Soalnya dapat K instan, lahan bersih. Tapi, ini bisa dibilang subur yang ngutang. Kamu bayar pakai karbon, nitrogen, kesehatan tanah, dan udara bersih.
Tiap musim tanah makin kurus, makin rakus pupuk, makin nggak kuat nahan kemarau.
Berbeda dengan dibiarkan. Mungkin butuh waktu, tapi kesuburan tanah lebih terjaga.
Caranya tidak susah. Sebelum dibajak, semprot dekomposer, apakah dengan MOL bikinan sendiri, atau pabrikan semacam M21/EM4. Habis bajak, kasih jeda tanam 2 sampai 3 minggu, agar perombakannya tuntas.
Kira-kira begitulah ya. Selamat bekerja keras, janga lupa ngopi. Aku mau kembali persiapan tanam padi lagi ini. (*)
*) Source : Ronda Tani
Editor : S. Anwar