Mereka yang Memutuskan tidak Kembali Setelah Jepang Menyerah
Kisah Shigeru Ono, Mitsuyuki Tanaka, dan mereka yang seperti memilih bertahan.
September 1945.
Indonesia baru merdeka 1 bulan, Jepang baru menyerah kalah dari Sekutu 1 bulan, dan Sekutu dalam perjalanan merepatriasi Tentara Jepang di Indonesia dan menegakkan kembali Pemerintahan Sil Hindia Belanda di Indonesia yang sudah menyatakan diri merdeka.
Konflik terbaru yang nantinya bernama Perang Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia sudah di depan mata, dan ada pemain baru di kancah konflik ini. Tentara Jepang yang memutuskan untuk tidak pulang ke Jepang, desersi, dan bergabung dengan Pejuang Indonesia
Seperti yang diketahui hari ini, Jepang kalah perang. Dan sebagai pihak yang kalah perang, mereka diberi tugas oleh sekutu untuk menjaga keamanan daerah jajahan sekutu hingga Pihak Sekutu datang memulihkan keadaan. Dalam kasus Indonesia, Sekutu datang untuk memulihkan Pemerintahan Hindia Belanda.
Masalahnya, sebagian besar prajurit Jepang tidak bisa menerima hal ini. Apalagi kenyataanya Indonesia sudah merdeka dan Jepang sudah berjanji akan memerdekakan Indonesia.
Kesaksian Shigeru Ono
“Mereka sangat kasihan. Kemarahan saya menjadi semakin besar ketika saya teringat akan janji Jepang nanti akan memerdekakan Indonesia," kata Shigeru Ono dalam catatan hariannya yang dibukukan Eiichi Hayashi berjudul 'Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik (2011)’.
Dia, Tetsuo Katano, dan Shunichi Takigami akhirnya memutuskan keluar dari Tentara Jepang dan bergabung ke pihak Indonesia.
Kesaksian Mitsuyuki Tanaka
Kisah Mitsuyuki Tanaka juga tidak jauh berbeda. Sudah berpengalaman perang dari Front Manchuna Filipina, Malaya, hingga Papua, Mitsuyuki Tanaka malah jatuh cinta dengan Magelang. Tergerak hati akan perjuangan Kemerdekaan Indonesia, dia memutuskan untuk bergabung ke pihak Indonesia. Membuka gudang serata Jepang, dan ikut serta melewati Palagan Magelang dan Ambarawa di pasukan Lefkol Sarbini dan Ahmad Yanı serta bertahan terus hingga pengakuan kedaulatan Indonesia.
Dia berhasil menembak jatuh 2 pesawat P-51 Mustang dan atas Water Toren di Magelang.
Ketika Shigeru Ono sampai di Markas Indonesia, ternyata dia menemukan banyak bekas tentara Jepang dari berbagai kesatuan sudah ada disana bergabung. Sama seperti Shigeru, mereka juga marah dan sedih, banyak yang juga telah jatuh cinta dengan Indonesia. Tidak sedikit pula yang sudah memiliki pasangan orang Indonesia. Dan mereka rata-rata diminta melatih para pejuang.
Bagi mereka, perjuangan membebaskan Asia dari penjajahan barat belum selesai. Minimal mereka bisa membantu Indonesia Merdeka.
Tatsuo Ichiki (Abdul Rahman), Shigeru Ono (Rahmat), Mitsuyuki Tanaka (Sutoro), Toshio Tanaka (Hasan). Nagamoto Sugiyama (Sukardi), Syoji Yamaguchi (Husin), Goro Yamano (Abdul Majid), Isamu Harooka (Salehl Genji Hayashi (Subejo) Tatsuji Maekawa (Umar), Sakuo lehara (Suwadi) Wakabayashi (Hidayat), Hiura (Ali) adalah sebagian nama nama dari mereka yang bertahan. Mereka mengganti nama dengan nama Indonesia, dan hidup layaknya orang Indonesia.
Sebagian bahkan bertekad siap mati dan dikuburkan sebagai orang Indonesia.
Kisah Akhir.....
Eiichi Hayashi menyebutkan, dari data Yayasan Warga Persahabatan (YWP), seusai Perang Dunia II, tercatat 903 orang bekas tentara Jepang ikut perang kemerdekaan Republik Indonesia. Dari jumlah itu, 288 orang (32 persen) hilang, 243 orang (27 persen) gugur dalam perang, dan 45 orang (5 persen) kembali ke Jepang pada 1950.
Sisanya, 342 orang (36 persen) memilih tetap tinggal di Indonesia sebagai warga negara Indonesia (WNI).
Dan di Taman Makam Kalibata, terdapat satu sudut khusus dimana terdapat nama nama Jepang yang gugur membela kemerdekaan Indonesia. Sementara itu di Kuil Seisho Ji, Kota Minato, Tokyo, yang tepat berada di Tokyo Tower terdapat monumen yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 15 Februari 1958. Monumen itu bertuliskan "Kepada Tatsuo Ichiki dan Tomegoro Yoshizumi”. Kemerdekaan itu bukan hanya untuk satu bangsa, akan tetapi untuk seluruh bangsa yang ada di muka bumi ini. (*)
Editor : S. Anwar