Jejak Kuasa Bambang Soesatyo Dari Panggung Senayan hingga Kursi Komisaris
Bambang Soesatyo atau dikenal dengan sebutan Bamsoet merupakan politisi Partai Golongan Karya (Golkar) yang namanya malang melintang di dunia perpolitikan di Indonesia. Tidak itu saja, dia dikenal sebagai pengusaha yang sukses di berbagai bidang.
Terbaru, selain menyandang status sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Bambang Soesatyo menduduki jabatan baru sebagai Komisaris PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Bambang Soesatyo diangkat jadi Komisaris PT Lippo Karawaci Tbk dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Jumat (8/5/2026). Salah satu keputusan yang paling menyita perhatian adalah pengangkatan Bambang Soesatyo sebagai Komisaris Independen perseroan.
Tokoh yang dikenal lewat panggung politik nasional itu kini masuk ke jajaran elite emiten properti milik Grup Lippo.
Anak Tentara Bergelimang Harta
Bambang Soesatyo atau Bamsoet lahir dari keluarga militer di Jakarta pada 10 September 1962. Lulusan sarjana ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia pada tahun 1990. Pada tahun 2023, Bambang Soesatyo meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Terbuka dan doktor ilmu hukum dari Universitas Padjadjaran.
Berdasarkan Laporan Harta Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total kekayaan bersih Bamsoet per Januari 2025 mencapai sekitar Rp 210 miliar.
Dari Wartawan ke Senayan
Sebelum dikenal sebagai politikus, Bamsoet lebih dulu berkarier di dunia media. Dia pernah menjadi wartawan di Harian Prioritas dan majalah Vista yang terafiliasi dengan Surya Paloh.
Dia juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Info Bisnis (1991) dan Harian Suara Karya (2004).
Bambang Soesatyo masuk politik dan terpilih jadi anggota DPR RI pada tahun 2009. Lalu terpilih menjadi Ketua DPR RI periode 2018-2019 dan Ketua MPR RI periode 2019-2024. Kini, Bambang Soesatyo duduk di Komisi III DPR RI periode 2024-2029.
Masuk Lingkaran Batu Bara
Saat bisnis batu bara booming di Kalimantan pasca tahun 2004, Bambang Soesatyo ikut masuk ke sektor tambang. la pernah menjadi Direktur PT Siwani Makmur Tbk (SIMA) serta terlibat di PT Kodeco Timber bersama pengusaha batu bara Haji Isam.
Pada periode tahun 2009 hingga 2014, Bambang Soesatyo menjadi Direktur di PT Kodeco Timber.
Politikus dengan Garasi Mewah
Di luar politik, Bambang Soesatyo dikenal sangat dekat dengan dunia otomotif. la menjabat Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) dan aktif di berbagai komunitas moge. Koleksi kendaraannya jadi sorotan. Isi garasinya mencakup Rolls-Royce Phantom, Bentley Mulsanne, Ferrari, Lamborghini, Tesla Model X & Model S, Hummer, Mercedes-Benz S400, dan Harley Davidson (1995 & 1993).
Kontroversi Satwa Liar
Bambang Soesatyo sempat disorot mengenai satwa liar, mulai dari Singa Putih Afrika hingga koleksi pajangan satwa.
Kontroversi memuncak pada tahun 2023 saat muncul dugaan kepemilikan kulit harimau awetan yang dikritik aktivis lingkungan dan Greenpeace. la membantah dan menyebut koleksi tersebut hanya imitasi dan satwa yang dipeliharanya berasal dari penangkaran legal dan berizin resmi.
"Keluarga dan teman adalah anak tangga untuk mencapai sukses. Untuk itu, nilai-nilai sebuah pertemanan atau persahabatan harus dijaga. Ketika menjabat sebagai Ketua DPR ataupun menjadi Ketua MPR, saya selalu menghindari konflik. Jurus yang selalu saya terapkan adalah merangkul, bukan memukul. Bagi saya seribu kawan masih terlalu sedikit, satu musuh sudah terlalu banyak," kata Bambang Soesatyo.
Deretan Kontroversi Bambang Soesatyo
Simulator SIM (2013): Bamsoet pernah diperiksa KPK sebagai saksi kasus korupsi simulator SIM Polri.
e-KTP (2018): la diperiksa sebagai saksi terkait dugaan aliran dana proyek.
Etik MPR (2023): Bamsoet mendapat teguran tertulis karena dianggap melanggar kode etik soal pernyataan amandemen UUD 1945.
Revisi UU KPK : Mendukung revisi UU KPK yang kala itu ramai dikritik karena dianggap melemahkan lembaga antirasuah.
Kini, langkah Bambang Soesatyo kembali berlanjut. Dari panggung Senayan, menuju kursi komisaris perusahaan sekaligus wakil rakyat di kursi anggota dewan. (*)
Editor : Bambang Harianto