Rasulullah SAW Bermimpi Melihat Istana Umar bin Khattab di Surga

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi
grosir-buah-surabaya

Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana rasanya jika Rasulullah SAW melihat rumah Anda di surga?

Suatu malam, Rasulullah SAW mengalami sebuah mimpi yang sangat menggetarkan. Di dalam surga, beliau melihat sebuah istana yang begitu megah. Namun ketika beliau hendak mendekatinya, beliau bertanya, "Milik siapa istana ini?"

Jawaban yang beliau terima membuat para sahabat terdiam.

Istana itu... milik Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Umar dikenal sebagai sosok yang tegas, pemberani, bahkan pernah menjadi musuh Islam sebelum Allah membukakan hatinya. Setelah memeluk Islam, hidupnya berubah total. Ia mengorbankan harta, tenaga, dan dirinya demi agama Allah.

Namun, ada satu sifat Umar yang sangat dikenal Rasulullah SAW, yaitu rasa cemburunya kepada keluarganya (ghirah). Sifat itu bukan lahir dari hawa nafsu, melainkan dari kehormatan dan penjagaan terhadap keluarganya.

Justru karena mengetahui sifat itulah, Rasulullah SAW memperlihatkan akhlak yang begitu mulia.

Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam tidurnya beliau melihat dirinya berada di surga.

Di sana tampak sebuah istana yang indah. Di dekatnya berdiri seorang wanita yang sedang berwudu di sisi istana itu.

Beliau pun bertanya,

"Milik siapakah istana ini?"

Malaikat menjawab,

"Istana ini milik Umar bin Khattab."

Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW sebenarnya ingin masuk dan melihat lebih dekat keindahan istana tersebut. Namun seketika beliau teringat akan sifat cemburu Umar.

Beliau pun mengurungkan niatnya dan memilih tidak memasukinya.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW menceritakan mimpi itu kepada Umar di hadapan para sahabat.

Begitu mendengarnya, Umar tidak mampu menahan air mata.

Dengan penuh haru ia berkata,

"Wahai Rasulullah, apakah kepada engkau aku akan cemburu?"

Kalimat itu menunjukkan betapa besar cinta, penghormatan, dan ketundukan Umar kepada Rasulullah SAW. Ia merasa tidak pantas bila sifat cemburunya sampai membuat Rasulullah SAW mengurungkan niatnya.

Suasana majelis pun dipenuhi rasa haru. Bukan hanya karena kabar gembira tentang istana di surga, tetapi juga karena indahnya adab antara seorang nabi dengan sahabat yang sangat dicintainya.

Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak hanya lahir dari keberanian atau banyaknya amal, tetapi juga dari keimanan yang tulus, akhlak yang mulia, dan rasa hormat kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW menjaga perasaan sahabatnya, sementara Umar menunjukkan adab yang luar biasa kepada Rasulullah SAW. Hubungan mereka dibangun di atas iman, kasih sayang, dan saling menghormati.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda:

"Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku berada di surga. Tiba-tiba ada seorang wanita sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku bertanya, 'Milik siapakah istana ini?' Mereka menjawab, 'Milik Umar bin Khattab.' Aku pun teringat akan kecemburuan Umar sehingga aku berpaling."

Mendengar hal itu, Umar berkata:

"Apakah kepada engkau aku akan cemburu, wahai Rasulullah?"

*) HR. Sahih al-Bukhari no. 3242 dan Sahih Muslim no. 2395. Hadis ini sahih dan disepakati (muttafaq 'alaih').

Jika kisah ini menguatkan iman Anda, bagikan kepada keluarga dan sahabat. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW dan mengumpulkan kita di surga bersama orang-orang saleh. Aamiin.

Allahummasholli ala sayyidina Muhammad wa ala Ali sayyidina Muhammad.