56 Tahun Dibangun, Sariwangi Mati Karena Ambisi Partner Sendiri
Belajar dari tragedi pailit Rp 1 triliun Sariwangi.
Merek legendaris Sariwangi yang selalu ada di dapur-dapur Indonesia ini adalah salah satu contoh paling fatal pemilihan partner yang tidak sejalan dan sebisi.
PT Sariwangi AEA, dulu adalah perusahaan keluarga asli yang mendirikan merek teh ini sejak awal. Tapi semua bubar jalan, karena salah partneran.
Ambisi Suksesor dan Proyek Rp 1 Triliun
Tragedi ini bermula ketika manajemen diserahkan ke generasi penerus. Berniat mulia ingin memodernisasi perkebunan teh di Ciwidey, sang suksesor memutuskan melakukan investasi raksasa: memasang sistem penyiraman air otomatis (water sprinkler).
Merencanakan Jangka Panjang Pake Keputusan Jangka Pendek
Teknologinya canggih, tapi eksekusi finansialnya berantakan. Mereka mendanai proyek jangka panjang yang lama balik modalnya ini menggunakan utang bank jangka pendek. Sebuah blunder fatal dalam dunia corporate finance.
Niatnya Inovasi, Hasilnya Likuiditas Mati
Di atas kertas, sistem penyiraman otomatis itu terlihat menjanjikan. Tapi di lapangan, kebun teh butuh waktu tahunan untuk menaikkan hasil panen, sementara tagihan utang bank dan bunganya terus berjalan mencekik leher setiap bulan.
Arus kas bulanan perusahaan langsung kering karena pendapatan tidak mampu mengejar cicilan.
Pada tahun 2015, mereka mulai gagal bayar ke konsorsium bank, hingga akhirnya resmi diketok pailit oleh pengadilan dengan sisa utang lebih dari Rp 1 triliun.
Melihat kasus ini, kita bisa ambil pelajaran kalau business partner Anda, co-founder, atau jajaran direksi operasional yang Anda beri kuasa hari ini, mereka semua adalah suksesor Anda. Begitu Anda delegasikan eksekusi uang dan kebijakan ke mereka, hidup-mati perusahaan ada di tangan mereka. (*)
Editor : S. Anwar