Mengenang Stasiun Secang, Stasiun Kereta Api Terbesar di Magelang

Reporter : -
Mengenang Stasiun Secang, Stasiun Kereta Api Terbesar di Magelang
Stasiun Secang

Tahun 2021 lalu saya kembali berkunjung ke sebuah bekas stasiun bernama stasiun Secang di kabupaten Magelang setelah pertama kalinya saya kesini antara tahun 2009-2010. Stasiun ini memang sudah lama mati sekiranya sejak tahun 1976/77 karena alasan bahwa dahulu jalur-jalur cabang sudah tak mampu lagi bisa dipertahankan, sebab merugi dari sisi pendapatan. Contohnya seperti jalur KA yang melewati bekas stasiun Secang yakni jalur mulai dari Yogyakarta - Ambarawa via Secang.

Stasiun Secang dahulu resmi beroperasi sejak tanggal 15 Mei 1903 bersamaan dengan pembukaan jalur antara St. Magelang Kota (kebonpolo) hingga Secang sepanjang 10 km. Jalur itu merupakan jalur terusan setelah selesainya jalur Yogyakarta - Magelang tahun 1898 yang dibangun oleh perusahaan KA swasta yang berkantor pusat di gedung Lawang Sewu bernama NIS (Nederlands Indische Spoorweg).

Dari Secang lalu 2 jalur baru dibangun kembali dengan mengambil stasiun ini sebagai titik awal percabangan, ke utara arah Ambarawa dirampungkan tahun 1905 dan ke barat yakni Temanggung hingga Parakan di 1907.

Lintasan sepur ini kemudian menjadi sangat sibuk karena beberapa pabrik gula di utara Yogyakarta dan komoditas ekspor unggulan dari Temanggung berupa Tembakau dikirimkan ke pelabuhan Semarang via Ambarawa - Secang, selain fungsi untuk angkutan penumpang.

Seorang Titiek Puspa bahkan mempunyai kenangan tak terlupakan ketika ia harus mengungsi dalam suasana mencekam pada perang Agresi Militer di stasiun ini yang ia terangkan dalam buku biografinya berjudul "Titiek Puspa a legendary Diva";

"Bapak membawa kami ke stasiun. Ibu sedang mengandung saat itu. Kami mendapatkan tempat di kereta. Hanya cukup untuk kami berdiri, saking banyaknya penumpang! entah menuju kemana. Itulah perjalanan yang dikenang sebagai "kereta api terakhir" dari Ambarawa. Kereta itu membawa ribuan pengungsi pada malam hari. Peperangan di Ambarawa kemudian merusak stasiun itu. Kereta terus berjalan, dan berhenti di stasiun Secang , Magelang. Ada sebuah keajaiban terjadi, seorang tetangga kami di Semarang, oom kamil mendengar ada kereta berisi ribuan pengungsi dari Kutoarjo dan Ambarawa. Nalurinya mengatakan ada keluarga ibu dikereta itu. Malam itu ia berinisiatif berjalan ke stasiun dan menanti kereta tiba. Bukan main leganya kami, ketika ia muncul di antara ribuan pengungsi yang berseliweran setelah turun dari kereta.Kami berpelukan penuh kerinduan. Ibu menangis karena lega, kami punya orang yang bisa dijadikan gantungan harapan. Kami dibawa oom kamil ke Temanggung yang relatif lebih aman," ungkap Titiek Puspa.

Kondisi bangunan bekas stasiun memang tergolong masih utuh tapi terlihat tidak cukup baik. Atap / overkapping yang memayungi area peron sudah tidak ada karena dulu PJKA sempat memindahkannya ke St. Tanah Abang sebelum dielektrifikasi. Yang tersisa hanyalah bangunan utama stasiun, gudang dan depo lokomotif yang tinggal puingnya saja. (*)

*) Source : Nevy Eka Pattiruhu

Editor : Bambang Harianto