Kisah Kiai Djazuli Sang Blawong Pendiri Ponpes Al Falah Ploso
Di Ploso, Kediri, masyarakat mengenangnya dengan satu julukan yang begitu khas : Sang Blawong. Julukan itu bukan datang dari sembarang orang. Yang memberikannya adalah KH Zainuddin dari Mojosari, Kabupaten Mojokerto, seorang ulama sepuh yang diam-diam memperhatikan santri muda bernama Mas'ud.
Suatu hari beliau memanggilnya :
"Co... ayo mondok di dalam pondok."
Mas'ud menjawab pelan, "Kulo mboten gadah sangu, Pak Kyai...
Tapi KH Zainuddin tetap berkata :
"Ayo, Co... besok kowe arep dadi Blawong."
Mas'ud belum paham arti kata itu. Baru belakangan ia tahu... Blawong adalah burung perkutut istimewa dari lingkungan kerajaan. Suaranya indah, merdu, dan membuat siapa pun diam mendengarkan. Dan ternyata dawuh itu benar.
Kelak, suara ilmu Kiai Djazuli benar-benar menggema jauh melampaui zamannya.
Perjalanan Ilmu yang Tidak Biasa
KH Ahmad Djazuli Utsman lahir di Ploso pada 16 Mei 1900. Beliau sempat mengenyam pendidikan umum sampai Batavia, bahkan duduk di bangku STOVIA. Namun atas dawuh KH Ma'ruf Kedunglo, ayah beliau memanggilnya pulang. Dari situlah perjalanan ilmunya dimulai.
Beliau mondok dari satu pesantren ke pesantren lain : Gondanglegi Nganjuk, Sono Sidoarjo, Mojosari, Tebuireng, hingga Tremas.
Hidup beliau penuh prihatin. Bekal pas-pasan. Makan sederhana. Pernah bertahan hidup dengan menulis kitab kuning lalu menjualnya demi biaya mondok. Tapi cintanya pada ilmu tidak pernah surut.
Ngaji di Tengah Padang Pasir
Saat berangkat haji ke Tanah Suci, beliau tidak berhenti belajar. Di kapal beliau tetap nderes dan menghafal kitab. Ketika situasi politik di Hijaz memanas dan perjalanan ditutup, beliau bersama sahabat-sahabatnya tetap nekat berjalan kaki dari Makkah ke Madinah demi berziarah kepada Rasulullah.
Padang pasir terbentang. Bekal menipis. Kaki luka. Tubuh melemah. Namun satu hal tidak berhenti : mereka tetap ngaji di tengah gurun.
Beliau pernah dawuh :
"Ana thoriqoh ta'lim wa ta'allum."
Jalanku adalah belajar dan mengajar
Merintis Al-Falah dari Nol
Tahun 1924, beliau mulai mengajar di Ploso. Awalnya hanya di serambi masjid Santrinya sedikit. Bangunannya sederhana. Lantainya bahkan pernah hanya dari bata merah. Karena itu madrasah awalnya dikenal dengan nama Madrasah Abang.
Tapi pelan-pelan Allah tumbuhkan. Santri datang dari berbagai daerah. Asrama dibangun. Madrasah berkembang. Dan lahirlah Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, yang sampai hari ini terus melahirkan generasi penerus ilmu.
Istiqamah Sampai Akhir
Meski pesantren besar, Kiai Djazuli tetap istiqamah mengajar sendiri. Bahkan saat sakit beliau masih mendampingi santri. Tidak banyak bicara. Tidak mengejar kemasyhuran. Tapi hidupnya dihabiskan untuk ilmu dan umat.
Beliau wafat pada 10 Januari 1976. Masyarakat Ploso mengiringi kepergian beliau dengan duka mendalam. Konon, ada anak-anak yang melihat langit seperti bertabur bunga saat beliau wafat. Seolah alam pun ikut melepas kepergian Sang Blawong.
Hari ini nama KH Ahmad Djazuli Utsman tetap hidup lewat Al-Falah dan ribuan santri yang mewarisi ilmunya. Beliau mengajarkan satu hal penting : Bahwa ilmu yang besar lahir dari kesungguhan.
Dan suara seorang alim tak harus keras... cukup tulus, istiqamah, lalu Allah sendiri yang membuatnya terdengar jauh.
Sebagaimana dawuh yang disampaikan KH Nurul Huda Djazuli :
"Pesan penting dari Simbah KH Ahmad Djazuli Utsman, Kiai Djazuli yang dipesankan selama ini hanya ngaji. Tidak pernah pesan kamu ngaji kamu harus bekerja, dan lain sebagainya, tidak pernah."
Kalimat sederhana itu terasa dalam sekali. Karena dari Simbah Kiai Djazuli kita belajar : ngaji dulu, tekuni dulu, istiqamahi dulu. Dan dari sanalah Allah bukakan jalan keberkahan. (*)
Editor : S. Anwar