Kiprah Henry Yosodiningrat sebagai Panglima Perang Anti Narkotika

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Henry Yosodiningrat
Henry Yosodiningrat
grosir-buah-surabaya

Nama Henry Yosodiningrat telah lama menjadi jaminan mutu dalam jagat hukum dan gerakan sosial di Indonesia. Lahir pada 1 April 1954, sosoknya dikenal luas publik lewat dwi-tunggal perannya: seorang advokat papan atas yang disegani sekaligus pendiri sekaligus Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat). Lewat organisasi inilah, Henry mendedikasikan hidupnya sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan generasi muda dari cengkeraman barang haram.

Tidak hanya aktif di meja hijau dan gerakan sosial, Henry juga mengepakkan sayapnya ke dunia politik praktis. Melalui perahu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ia sukses melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR-RI untuk periode 2014–2019, di mana ia vokal mengawal isu-isu hukum dan keadilan.

Masa Kecil yang Dinamis dan Petualangan Akademik

Karakter Henry yang tangguh, adaptif, dan berwawasan luas terbentuk dari masa kecilnya yang sangat dinamis. Sebagai putra seorang Camat, Henry harus rela menjalani masa kanak-kanak dengan berpindah-pindah sekolah mengikuti tugas sang ayah.

Pendidikan dasarnya ia tempuh berpindah-pindah mulai dari SR di Pasar Krui, Pugung Tampak, Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Liwa, hingga akhirnya menamatkan masa SD di SD Negeri 8 Metro pada tahun 1967. Setali tiga uang dengan masa kecilnya, masa remaja Henry pun dipenuhi petualangan. Lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Metro pada 1970, ia sempat bergonta-ganti sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), mulai dari SMA Negeri Metro, pindah ke SMA Negeri 3 Palembang, kembali lagi ke Metro, hingga akhirnya merantau jauh ke Yogyakarta.

Di Kota Pelajar inilah fondasi hukumnya dibangun kuat. Henry resmi menjadi alumni Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan merengkuh gelar Sarjana Hukum (S.H.) pada tahun 1981.

Darah Bangsawan dan Gelar Kapitan Mahkota Raja

Di luar jubah hukum dan panggung politiknya, Henry Yosodiningrat merupakan sosok yang memegang teguh akar budaya dan adat istiadat leluhurnya. Ia merupakan keturunan lurus generasi ke-13 dari Sai Batin marga Pugung Penengahan, sebuah posisi adat yang sangat dihormati di tanah Lampung.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap garis keturunan dan adat yang disandangnya, Henry dianugerahi gelar adat "Kapitan Mahkota Raja" saat ia melangsungkan pernikahan dengan sang istri, Rr. Soeltiana Endang Moerniningsih.

Perpaduan antara ketegasan seorang pendekar hukum, komitmen total melawan narkoba, serta kehormatan sebagai putra daerah Lampung menjadikan Henry Yosodiningrat sebagai salah satu figur nasional yang terus menginspirasi penegakan hukum di Indonesia. (*)

*) Source : Nasrul Koto PSU