Masyarakat Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, mempunyai tradisi unik dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap tahunnya. Tradisi tersebut dikenal dengan Cokaiba.
Tradisi Cokaiba diperingati oleh 3 negeri, yaitu Negeri Patani, Weda, dan Maba di Kabupaten Halmahera Tengah, atau disebut Negeri Gamrange. Tradisi Cokaiba identik dengan pemakaian topeng berbentuk setan (Cokaiba yang berarti "bermuka setan") dan tarian untuk mengungkapkan kegembiraan dan kedamaian atas kehadiran Nabi Muhammad SAW.
Cokaiba memiliki makna sosial yang mendalam, menciptakan kekerabatan, dan menjaga nilai-nilai budaya di bumi Fagogoru. Dari riwayatnya, Cokaiba telah berkembang sejak zaman para raja sekitar abad ke-12, ketika Islam mulai masuk ke kawasan Halmahera Tengah.
Sultan Tidore kemudian menyatukan ritual ketiga tetua Gamrange (Weda, Patani, dan Maba) dengan menggunakan istilah Cokaiba, yang berarti topeng setan.
Cokaiba memiliki empat jenis yang merepresentasikan elemen kehidupan, yaitu :
- Cokaiba Yai : dari kayu, melambangkan api.
- Cokaiba Gofatau : dari bambu, melambangkan angina.
- Cokaiba Iripala : dari pelepah pohon sagu, melambangkan air.
- Cokaiba Nok : melambangkan tanah.
Empat jenis Cokaiba ini mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari empat unsur dasar, yaitu api, udara, air, dan tanah. Tradisi ini digelar setiap malam 12 Rabiul Awal, dimulai setelah salat Isya hingga menjelang pagi.
Seorang Budayawan atau Jojau Kesultanan Tidore, Amin Faaroek menjelaskan, Cokaiba terdiri dari kata Coka dan Iba. Coka dalam bahasa Tidore berarti Setan Iblis. Sedangkan Iba berarti dia yang bersedih tapi ikut bergembira. Kemudian disebut Negeri Gamrange, itu Negeri Weda, Negeri Patani, Negeri Maba.
“Weda, orang tahu wilayah itu sebagai wilayah Negeri Patani sampai Pulau Gebe. Negeri Maba sampai ke Kecamatan Wasile (Kabupaten Halmahera Timur). Jadi, disebut Gamrange itu cuma mancakup Negeri Weda, Negeri Patani, Negeri Maba. Padahal, Negeri Patani masuk wilayah dengan Pulau Gebe, Maba dengan Wasile. Cokaiba kemudian merangkai 3 Negeri itu, diilustrasikan dalam perayaan Maulud. Nah ini kaitan dengan lahirnya Rasulallah,” kata Amin Faaroek.
Amin Faaroek menjelaskan, tradisi Cokaiba berkembang sejak era Kesultanan Tidore, yaitu Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin pada abad ke-18 (1757–1779). Kala itu, Sultan Jamaluddin belum memiliki wilayah. Kemudian Sultan Jamaluddin berupaya turun dengan membawa ilustrasi permainan Cokaiba yang dihadiahkan kepada Negeri Weda, Patani, Maba, dan Wasile.
“Jadi Cokaiba ada ada macam-macam. Ada Cokaiba Yai, Cokaiba Gofatau, Cokaiba Iripala, Cokaiba Nok. Cokaiba Gofatau memakai topeng yang pakai pelepah sagu. Cokaiba Nok yang membungkus muka. Jadi mereka berpasangan. Karena setan dan iblis pasangan gitu. Jadi di hari kelahiran Rasulallah, semua mahluk di dunia ikut bergembira termasuk Cokaiba. Kemudian orang mengilustrasikan dia dalam perayaan Maulud Nabi. Karena itu sejarah,” jelasnya.
Amin Faaroek membantah jika tradisi Cokaiba disebut perbuatan syirik. Menurutnya, Cokaiba adalah tradisi syukuran untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW saat 12 Rabiul Awal.
“Jadi, acara syukuran saat 12 Rabiul Awal semalam suntuk. Kadang orang bilang syirik, yang mana? Padahal itu syukuran. Baca doa dan syukuran. Orang Tidore yang muslim memahami,” katanya. (*Anhar)
Editor : S. Anwar