Surat Terbuka Guru untuk Presiden Prabowo tentang Makan Siang Bergizi

Reporter : Redaksi
Andrimar

Program Makan Siang Bergizi (MBG) yang dilaksanakan Pemerintah melalui dapur-dapur Makan Siang Bergizi (MBG)  mendapat kritikan keras dari guru. Pelaksanaan Makan Siang Bergizi (MBG) bagi guru bukannya menambah manfaat, malah menambah beban kerja tanpa upah.

Kekecewaan guru tentang Makan Siang Bergizi (MBG) diungkap oleh Bapak Andrimar, seorang Guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Andrimar menulis Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia (RI) tentang pelaksanaan Makan Siang Bergizi (MBG) yang dinilainya tidak berjalan optimal. Berikut isi Surat Terbuka dari Andrimar.

Baca juga: Surat dari Dokter Ratna Setia Asih untuk Presiden Prabowo Subianto

Selamat pagi, Pak Prabowo, saya ingin bicara atas nama pribadi. Kabarnya MBG telah merekrut 290.000 tenaga kerja. Dana yang diambil 44�ri alokasi dana pendidikan bersumber dari 20% APBN.

Dulu kabarnya bernama MAKAN SIANG GRATIS, sekarang menjadi MAKAN BERGIZI. Saya tak mau menyebut "GRATIS" pak, karena makanan itu dari dana pendidikan yang sejatinya bisa meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru, maupun pemenuhan segala kebutuhan pendidikan.

Pak, dari sekian banyak tenaga kerja yang bapak angkat, kami, para guru menjadi budak dalam program ini. Kok bisa? Ya bisa. Kami bertugas membagikan makanan ini, mengumpulkan kembali, menghitung, dan mengembalikan rantang kepada pemasok.

Baca juga: Kejanggalan dalam Pengusutan Kasus Kepala SMAN 1 Luwu Utara

Kami TIDAK DIBAYAR, sementara jika ada rantang hilang kami WAJIB GANTI. Belum lagi ulah sebagian kepala daerah yang mengeluarkan pernyataan bahwa guru harus mencicipi MBG tersebut sebelum diserahkan kepasa siswa.

Jadi kami guru ini dijadikan apa??? Tumbal racun?? atau tikus labor? yang nanti kalau mati tinggal buang ke tong sampah.

Mohon dengan sangat, kaji kembali program ini. Perbaiki saja ekonomi negara ini, sejahterakan masyarakat, maka makan harian anak-anak mereka akan terpenuhi, tak perlu bapak yang menyediakan.

Baca juga: Prospek Gerakan Gibran Jadi Wapres 2 Periode

Saya khawatir nasinya, sayurnya, ikannya, nyangkut di kantong-kantong rekanan bapak. Nanti kantong mereka bau, dan beraroma tikus pula.

O iya, tambahan ya, pak. Anak-anak banyak yang tak suka makanan yang bapak suguhkan, tak bercabai, tak bersantan, tak berasa, dan kata anak-anak tak enak. Bertambah lagi kerja kami memujuk anak-anak agar mau makan dengan berbagai macam kilah dan rayu. Terima kasih. (*)

Editor : Zainuddin Qodir

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru