Mungkin banyak yang tahu bagaimana Korea Utara mencapai perempat final Piala Dunia tahun 1966 dengan salah satunya mengalahkan Italia. Namun, yang banyak orang tidak tahu adalah respon tetangga mereka sendiri, Korea Selatan melihat musuh mereka melangkah jauh di Piala Dunia.
Gemilangnya Korea Utara Di Pildun 1966
Baca juga: Daftar Peserta Piala Dunia 2026
Korea Utara tampil mengejutkan pada gelaran Piala Dunia tahun 1966 setelah pada pertandingan terakhir grupnya melawan tim kuat Italia. Mereka mampu mengalahkan "Azzuri" dengan skor 1-0 lewat gol Pak Doo-ik dan maju ke perempat final. Meski akhirnya harus kalah dengan Portugal yang saat itu diperkuat Eusebio.
Nyatanya, Korea Utara mendapat simpati dari banyak orang karena menjadi "underdog" yang mengalahkan salah satu kekuatan sepak bola dunia.
Cemburu Prestasi dan Ideologi
Tentunya ada yang tak senang dengan kisah "underdog" Korea Utara, yakni tetangga mereka sendiri yakni Korea Selatan. Tidak hanya dari segi prestasi, karena Korea Selatan saat itu baru sekali ikut Piala Dunia pada tahun 1954 dan hanya berakhir di babak grup setelah dihajar Turki dan Hungaria.
Namun juga ada ketakutan bahwa musuh besar mereka, sekaligus ideologi komunis yang mereka anut akan mendapatkan simpati besar dari seluruh dunia. Hal inilah membuat Pemerintah turun tangan. Salah satunya membentuk tim sepak bola dengan menggandeng Badan Intelijen mereka, yakni Korean Central Inteligence Agency (KCIA) lewat kepalanya saat itu, Kim Hyong-uk.
Merekrut Paksa Pemain Terbaik Korea Selatan
Klub baru akhirnya berdiri pada tahun 1967 oleh KCIA dan dinamakan sebagai Yangji FC. Misi dari klub ini tidak hanya untuk sepak bola saja. Namun politik dimana tujuan klub ini salah satunya adalah sebagai propaganda anti-komunis dan menggembleng para pemain terbaik Korea Selatan agar bisa mengalahkan Korea Utara dikemudian hari.
Dan sebagai klub milik intelijen, beberapa pemain terbaik Korea Selatan, mungkin di masa sekarang setara Park Ji-sung atau Son Heung-min dipaksa untuk bermain di klub ini atas nama patriotisme dan perang terhadap komunisme, beberapa dari mereka dinaikan paksa ke truk tentara untuk dibawa ke markas KCIA.
Baca juga: Raja Playboy yang Memilih Pemain Skuad Timnas Rumania Untuk Piala Dunia
Latihan Keras dan Pengawasan Ketat
Meski begitu, para pemain diberi gaji tinggi dan bermain bersama Yangi FC sudah dianggap sebagai wajib militer, sehingga ke depannya tak perlu mengikuti wamil (wajib militer) reguler. Meski begitu, mereka diharuskan tinggal di markas KCIA dan menerima latihan keras di fasilitas latihan KCIA dengan satu misi : melumat para pemain Korea Utara.
Selain itu, para pemain juga diawasi dengan ketat. Kiper Lee Se-yeon berujar, ketika mereka diberikan hari libur, ia bersama beberapa rekan diam-diam mabuk-mabukan di sebuah bar di Myeongdong.
Ketika kembali ke kamp latihan, pelatih mereka Choi Jeong-min bertanya, kemana saja selama liburan, Lee menjawab hanya beristirahat di rumah saja. Namun pelatih Choi kemudian tersenyum dan melemparkan beberapa foto dirinya yang sedang mabuk di bar.
Menghilang Begitu Saja
Baca juga: Untung Rugi TVRI Membeli Hak Siar Piala Dunia 2026
Namun, mereka juga diberikan kesempatan untuk berlatih di Eropa selama 105 hari di negara-negara seperti Jerman Barat, Perancis dan Yunani. Dan dengan latihan sangat keras, Yangji FC mendominasi Liga lokal saat itu (K-League baru dibentuk pada tahun 1983).
Mereka bahkan berhasil menembus final Liga Champions Asia pada tahun 1969. Namun, umur klub ini hanya singkat karena bubar pada 17 Mei 1970 tanpa menyelesaikan misi utama mereka untuk menghantam Korut, seiring dengan mundurnya Kim Hyong-uk sebagai kepala KCIA pada tahun 1969 akibat banyak melakukan korupsi.
Kini, klub profesional Korea Selatan yang berhubungan dengan militer mungkin hanya Sangmu FC yang merupakan klub khusus para pemain yang sedang wamil. (*)
*) Source : Inspechistory
Editor : Redaksi