Untung Rugi TVRI Membeli Hak Siar Piala Dunia 2026

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026
grosir-buah-surabaya

Saya izin share opini ah ya soal siaran Piala Dunia 2026 di Indonesia. Kayaknya lagi ramai. Bukan hanya sebagai penonton bola, tapi juga sebagai orang media yang pernah bekerja di dua media yang sama-sama pernah mengelola official broadcast Piala Dunia dan Piala Eropa.

Jadi seenggaknya saya tahu banget kalau membeli hak siar event sebesar ini tidak pernah mudah, urusan yang kompleks. Apalagi disaat industri media mainstream lagi tidak baik-baik aja seperti saat ini.

Karena itu, menurut saya, Televisi Republik Indonesia (TVRI) justru layak diapresiasi. Kenapa ?

Gini, Di tengah industri media yang sedang tidak baik-baik saja, TVRI mau maju ngambil lisensi siaran Piala Dunia 2026 untuk Indonesia. Biaya lisensi sekarang itu muahal banget. Dalam kondisi yang sulit kek sekarang, sulit pasti buat profit. Mana Adex (Advetorial Expenditure) udah pada pindah ke digital semua.

Bayangin kalau tidak ada media kita yang mau beli lisensi ini? Indonesia bisa tidak kebagian nonton Piala Dunia 2026.

Kita harus jujur baca konteksnya. Industri media mainstream hari ini tidak seperti 10 sampai 15 tahun lalu. Dulu, membeli hak siar Piala Dunia/ Piala Eropa bisa jadi mesin profit.

Sekarang situasinya berbeda. Iklan TV turun. Atensi publik terpecah. Biaya produksi dan distribusi tetap besar. Sayangnya lisensi FIFA sampe sekarang masih “heavy” ke model penyiaran ketimbang digital.

Bahkan ketika official broadcaster sebelumnya berasal dari swasta, tantangannya berat. Sepengetahuan saya, beberapa tahun belakangan ini, hak siar event olahraga besar tidak selalu berakhir manis secara bisnis. Karena harga lisensi naik, sementara pasar iklan media mainstream udah tidak sekuat dulu. 

Dalam situasi seperti itu, TVRI masuk. Bayangkan kalau akhirnya tidak ada satu pun media Indonesia yang mengambil hak siar Piala Dunia. FIFA mah pasti akan mencari pihak mana aja yang sanggup beli lisensi. FIFA tidak ada concern apakah itu TV publik atau swasta. Yang penting hak siarnya terjual sesuai skema.

Jadi dalam konteks ini, TVRI bukan sekadar “membeli tontonan bola”. TVRI menyelamatkan akses publik Indonesia terhadap Piala Dunia. Karena bagi banyak orang, Piala Dunia bukan hanya event olahraga. Piala Dunia itu ruang kebersamaan nasional. Dari warung kopi, pos ronda, rumah keluarga, sampai layar kecil di kamar kos.

Kita perlu clear dulu, biaya akuisisi hak siar TVRI itu bukan Rp 1,3 triliun. Angka yang disampaikan Direktur Utama (Dirut) TVRI, Fiki Satari adalah sekitar USD 65 juta. Kalau memakai kurs beberapa bulan lalu (saat transaksi) misalnya USD 1 = Rp 16.500, maka nilainya sekitar Rp 1,07 triliun.

Apa Rp 1,07 triliun itu kecil? ya enggak, gede juga. Tapi ya klo mau bahas sesuatu, datanya harus bener dulu. Dan soal harga lisensi, pengalaman saya, FIFA itu sangat rigid. Gak bisa dinego kek transaksi di pasar. Gak bisa “dicolek-colek”. Tidak bisa pakai cara-cara informal. 

Kalau satu negara membayar berbeda dengan negara lain, biasanya karena paket hak, benefit, wilayah, platform, dan ruang komersialnya juga berbeda. Kita harus betul-betul cek kontrak masing-masing negara sama FIFA, tidak cukup dari berita aja.

Sepengetahuan saya, lisensi TVRI bukan hanya untuk Piala Dunia 2026. Ada juga hak terkait Woman World Cup dan Piala Dunia U-17, juga IP pada rerun match, setidaknya berdasarkan informasi yang beredar. Jadi jangan membandingkan angka lisensi hanya dari satu headline. Harus dilihat : hak apa saja yang dibeli, untuk platform apa, dan benefit apa yang diterima.

Nah TVRI tidak bisa disamakan dengan televisi swasta. TVRI adalah Lembaga Penyiaran Publik. Ukuran keberhasilannya bukan semata rating, share, atau profit. Tugas utamanya adalah pelayanan publik: membuka akses informasi, pendidikan, hiburan sehat, dan menjangkau masyarakat seluas-luasnya, termasuk dalam hal ini Piala Dunia.

Maka ketika TVRI menggunakan anggaran negara untuk beli lisensi, ya memang seperti itu model operasionalnya. Konsekuensinya ya akan ada efisiensi. Akan ada prioritas ulang. Akan ada program lain yang harus menyesuaikan. Nah yang perlu dipahami, selama ini TVRI memang dibiayai oleh APBN (Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara), bukan hanya untuk Pildun aja. Jadi kalau sekarang ramai, pertanyannya kenapa baru skrng? Tahun tahun lalu kemana aja?

Karena itu, jangan salah menyimpulkan ketika siaran TVRI terasa “clean” dan tidak dipenuhi iklan. Bukan berarti TVRI tidak perform jualan. Model bisnis TVRI memang berbeda. TVRI bukan televisi swasta yang KPI (key performance index) utamanya mengejar profit iklan. Kalau saya mah seneng : kapan lagi nonton Piala Dunia relatif bersih dari jeda iklan yang too much, ya gak?

Pemasukan TVRI juga gak bisa dibaca seperti revenue swasta. Kalau TVRI mencari pendapatan, sebagian besar datang dari ekosistem dalam negeri juga. Jadi ya muter lagi ke publik.

Akses utama TVRI adalah free-to-air. Sekarang setelah ASO (Analog Switch Off), akses itu melalui TV digital. Dan menurut saya, jangkauan FTA (free to air) Digital TVRI adalah salah satu yang paling luas di Indonesia. Browsing aja. Ini Gratis. Cukup pakai TV digital atau STB dan antena yang benar. Kalau belum muncul, scan ulang dan arahkan antena ke arah lain. 

FTA (free to air) digital memang berbeda dengan analog. Dulu, di analog, gambar penuh “semut” masih dianggap siaran. Di digital, kalau sinyal tidak memenuhi ambang batas, gambar bisa hilang total. Jadi bukan selalu karena siarannya tidak ada. Kadang persoalannya ada pada posisi antena, scan channel, atau kualitas penerimaan sinyal. 

Yang menarik, TVRI juga tidak membuat siaran ini terlalu eksklusif. Setahu saya, akses dibuka lewat FTA (free to air), TVRI Sport, jaringan TV berlangganan tertentu kayak Indihome, Transvision, K Vision dan OTT (over the top) seperti MAXstream serta Fola Play. Ini penting. Karena logika TVRI bukan menutup akses demi rating, tapi justru membuka akses seluas-luasnya. 

Dulu, pengalaman saya, kalau siarannya FTA (free to air), sering kali tayangan di jaringan berlangganan diblok. Kenapa? Agar penonton diarahkan ke FTA, rating naik, lalu iklan ikut masuk. TVRI tidak mengambil pendekatan itu. TVRI tidak terlalu memikirkan rating sebagai output utama. Yang dikejar adalah akses publik. Makanya dibuka kepada siapapun yang mau bekerja sama.

Untuk penonton mobile, TVRI juga membuka akses ke OTT tertentu. Sejauh ini yang kita tahu ada MAXstream dan Fola Play. Saya yakin bukan karena TVRI hanya mau memberi akses kepada dua OTT (over the top) itu saja. Bisa jadi, karena merekalah yang menyambut tawaran TVRI untuk memperluas akses siaran.  

Kita bicara OTT (over the top) ya, menayangkan Piala Dunia itu tidak mudah. Concurrent user bisa mencapai jutaan orang sekaligus. Ini membutuhkan infrastruktur data yang sangat kuat. Kok YouTube bisa? Ya karena YouTube game-nya lain. Pasarnya global. Investasi infrastrukturnya beratus-ratus kali lebih besar daripada OTT (over the top) lokal. Gak apple to apple. Harus dibenahi? setuju.

Jadi kalau (over the top) down saat pertandingan besar, itu belum tentu masalah TVRI. TVRI membuka akses. Tapi teknologi, server, kapasitas trafik, dan pengalaman pengguna di (over the top) adalah tanggung jawab platform OTT tersebut. Solusi paling aman tetap : kembali ke FTA TVRI. Ada TVRI Nasional. Ada TVRI Sport. 

Saya juga sudah nanya soal pengaturan pertandingan di TVRI Nasional dan TVRI Sport. Karena format Piala Dunia 2026 berbeda. Pesertanya lebih banyak. Ada pertandingan yang berjalan bersamaan. Maka pembagiannya dilakukan melalui dua kanal : satu di TVRI Nasional, satu di TVRI Sport. Nanti masuk fase akhir, kanalnya akan semakin jelas. 

Lalu soal lisensi internet, ini juga perlu diluruskan. Lisensi internet bukan berarti TVRI boleh menayangkan live match Piala Dunia secara bebas di YouTube, Instagram, TikTok, atau platform sosial media lain. Itu big no. FIFA sangat ketat soal ini. Live match tetap harus mengikuti platform yang diizinkan dalam lisensi. 

Lisensi internet lebih berkaitan dengan hak digital tertentu. Misalnya membuat highlight, cuplikan, berita, rerun tertentu, konten editorial, dan penggunaan logo atau IP resmi FIFA sesuai batas kontrak. Jadi jangan dibayangkan “punya lisensi internet” berarti bebas live streaming pertandingan di semua platform.

Jadi, kritik boleh. Transparansi tetap perlu. Angka lisensi boleh ditanya. Penggunaan APBN harus diawasi. Tapi jangan sampai logikanya keliru. Dalam situasi industri media yang berat, TVRI justru maju mengambil risiko agar rakyat Indonesia tetap bisa menonton Piala Dunia. Gak kebayang kalau kita “garing” gak bisa nonton Piala Dunia kan? Menurut saya, itu layak diapresiasi. (*)

*) Penulis : Prabu Revolusi