Mualem Sang Panglima Aceh

Reporter : Redaksi
Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem

Banjir bandang dan longsor yang melanda 14 kabupaten/kota di Aceh sejak akhir November 2025, telah mengungsikan 660.642 jiwa, merusak ribuan rumah, dan infrastruktur, serta menelan Ratusan korban jiwa.

Di saat bencana ini memaksa ratusan ribu warga ke pengungsian, muncul sosok yang tak pernah absen dari lumpur: Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022, yang kini kembali turun langsung tanpa jabatan resmi.

Baca juga: Mualem Ultimatum Tambang Ilegal Angkat Kaki dari Aceh

Tanpa protokol, tanpa rombongan besar, tanpa kamera pribadi, Mualem setiap hari terlihat mengenakan baju loreng basah kuyup, mengangkat karung beras, memeriksa tenda bocor, hingga menggendong anak-anak yang trauma.

Ia mendatangi satu per satu posko pengungsian, menanyakan langsung kepada ibu-ibu: “Bayinya sudah dapat susu? Ada yang demam?”

Ketika ditanya wartawan apakah ia sudah makan, jawabannya selalu sama: “Biar mereka yang makan duluan.”

Baca juga: Surat Kesepakatan antara Pemerintah Aceh dan Sumatera Utara Terkait 4 Pulau

Sikap itu kontras tajam dengan sejumlah pejabat lain yang justru memilih meninggalkan daerah bencana di puncak krisis, salah satunya Bupati Aceh Selatan Selatan yang dikecam publik karena pergi umrah saat rakyatnya bertahan di tenda pengungsian.

Hingga hari ini, status bencana nasional belum juga ditetapkan meski kerugian materiil dan jumlah pengungsi jauh melampaui banyak bencana sebelumnya. Namun Mualem menolak larut dalam polemik birokrasi.

“Label tidak menyelamatkan nyawa. Yang menyelamatkan nyawa adalah logistik yang sampai, air bersih, dan dokter untuk anak-anak,” tegasnya.

Baca juga: Biodata Muzakir Manaf yang Jarang Diketahui Publik

Malam itu, di sela kelelahan yang terlihat jelas di wajahnya, Mualem sempat menunduk di depan kamera. Suaranya bergetar: “Saya bukan menangis karena Aceh hancur… tapi karena saya takut tak cukup kuat untuk mereka. ”

Bagi rakyat Aceh yang sedang terluka, kalimat itu lebih dari sekadar kata-kata. Itu adalah janji seorang panglima yang memilih tetap berdiri di lumpur, sampai air surut dan harapan kembali tumbuh. Aceh sedang menangis lagi. Tapi kali ini, ada satu orang yang menangis bersamanya dan tak pernah pergi. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru