Sektor pertanian India mengalami peningkatan besar dalam impor pupuk, yang melonjak 60 persen menjadi 17,37 juta metrik ton selama April–November tahun fiskal 2026. Lonjakan ini didorong oleh penanaman tanaman musim dingin yang kuat dan curah hujan monsun yang melimpah, memastikan petani memiliki nutrisi yang mereka butuhkan—tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang beban subsidi pemerintah yang semakin besar.
Volume Impor Rekor untuk Pupuk Utama
Baca juga: Brasil Impor Pupuk Sebanyak 41 Juta Metrik Ton
Lonjakan ini sangat terasa untuk urea dan di-amonium fosfat (DAP):
Impor urea melonjak 120%, mencapai 7,17 juta metrik ton.
Impor DAP naik 54%, mencapai 3,25 juta metrik ton.
Varian NPK hampir berlipat ganda, naik mendekati 2,71 juta metrik ton.
Angka-angka ini mencerminkan permintaan domestik yang kuat dan ketergantungan India pada impor untuk unsur hara penting.
Dilema Pemerintah: Memastikan Pasokan vs Mengelola Subsidi
Meskipun lonjakan impor menjamin pasokan yang cukup untuk musim rabi (musim dingin), hal ini memiliki implikasi fiskal yang signifikan. Perkiraan menunjukkan total impor unsur hara tanah dapat melebihi 22,3 juta ton pada tahun fiskal 2026—peningkatan 41�ri tahun fiskal 2025.
Subsidi pupuk pemerintah, yang sudah cukup besar, diperkirakan akan meningkat lebih lanjut:
Pengeluaran FY25: 1,91 lakh crore (~$23 miliar)
Proyeksi FY26: 1,95 lakh crore (~$23,5 miliar)
Perkiraan anggaran untuk FY26: 1,67 lakh crore (~$20,1 miliar)
Ketergantungan pada Impor Tetap Tinggi
India terus sangat bergantung pada pemasok asing:
Sekitar 20% urea diimpor.
Baca juga: Pangsa Rusia dalam Ekspor Pupuk Nitrogen ke Amerika Serikat Naik
Dua pertiga konsumsi DAP berasal dari luar negeri.
Koridor metana (MOP) sepenuhnya diimpor.
Bahkan produksi domestik bergantung pada bahan baku impor seperti fosfat batuan. Untuk mengamankan pasokan, India telah menandatangani perjanjian jangka panjang dengan negara-negara termasuk Rusia dan Yordania.
Dilema Subsidi dan Stabilitas Harga
Meskipun biaya impor meningkat, harga pupuk eceran tetap stabil:
Urea: 242 per kantong 45 kg sejak 2012 (biaya produksi melebihi 2.600 per kantong)
Pupuk fosfat dan kalium: harga tidak lagi dikendalikan di bawah rezim Subsidi Berbasis Nutrisi (NBS) pada tahun 2010
Stabilitas ini menguntungkan petani tetapi meningkatkan tekanan fiskal dan dapat mendorong penggunaan berlebihan, yang berpotensi memengaruhi kesehatan tanah.
Baca juga: India akan Meningkatkan Impor Pupuk Sebesar 41 Persen
Implikasi bagi Pertanian dan Ekonomi
Lonjakan impor berdampak pada produktivitas pertanian dan keuangan pemerintah:
Memastikan pasokan yang memadai untuk tanaman musim dingin dan biaya input yang stabil bagi petani.
Meningkatkan tagihan subsidi, menguji disiplin fiskal.
Menandakan ketergantungan struktural pada rantai pasokan global, menyoroti kerentanan terhadap risiko geopolitik.
Bagi investor, tren ini menggarisbawahi pentingnya memantau produsen pupuk, distributor, dan perusahaan input pertanian, yang secara langsung terdampak oleh volume impor, subsidi, dan pola permintaan domestik.
Singkatnya: Ladang-ladang di India mendapat nutrisi yang baik musim dingin ini, tetapi kas negara merasakan dampaknya. Panen rabi yang melimpah mungkin akan segera terjadi—tetapi beban subsidi yang lebih berat juga akan terasa. (*)
Editor : Redaksi