Seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Patah Mojokerto, Mukhamad Alfan ditemukan tewas mengambang di Sungai Brantas, masuk Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, pada Senin, 5 Mei 2025, sekitar pukul 17.00 WIB. Saat ditemukan oleh Achmad Atem, kondisinya mengenaskan.
Kondisi tubuh Mukhamad Alfan telah membusuk, mengalami pembengkakan, serta rambut yang sebagian besar telah rontok. Belakangan diketahui, ada upaya pembunuhan terhadap Mukhamad Alfan.
Baca juga: Otak Pembunuhan di Wonokusumo Surabaya Ditangkap, Motif Hutang Piutang
Pelakunya ialah Rio Filian Tono (28 tahun). Dalam proses sidang di Pengadilan Negeri Mojokerto mengungkap fakta bahwa Rio Filian Tono terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana percobaan melakukan pembunuhan berencana terhadap Mukhamad Alfan.
Oleh karena itu, Rio Filian Tono divonis dengan pidana penjara selama 8 tahun. Vonis dijatuhkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mojokerto, dengan Ketuanya ialah Jenny Tulak, dalam sidang yang digelar pada Senin, 26 Januari 2026.
Rio Filian Tono terbukti melanggar ketentuan Pasal 459 Undang-Udang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) Jo Pasal 17 ayat 1 Undang-Udang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP).
Kronologi kematian Mukhamad Alfan ini berawal pada Jumat, 2 Mei 2025, sekitar pukul 09.00 WIB, berlokasi di kebun barat PT Sosro di Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Pada saat Rifki Raditia Pratama sedang bermain futsal bersama dengan Samsul Arifin, Muhammad Alfan, Afif Muzaki Arif alias Apep, dan beberapa teman lainnya.
Pada saat permainan berlangsung, terjadi pergesekan hingga bersitegang antara Rifki Raditia Pratama dengan Samsul Arifin yang mengakibatkan Rifki Raditia Pratama tidak terima. Karena merasa tidak terima, Rifki Raditia Pratama menantang Samsul Arifin untuk berkelahi di belakang pabrik Sosro yang terletak tidak jauh dari tempat bermain futsal dengan disaksikan oleh Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki Arif alias Apep.
Akibat perkelahian tersebut, Rifki Raditia Pratama mengalami kekalahan dengan kondisi wajah yang memar dan luka lebam.
Sekitar pukul 17.30 WIB, Rifki Raditia Pratama pulang ke rumahnya yang beralamat di Dusun Bendomungal, Desa Kedungmungal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, yang kemudian bertemu dengan ibunya yaitu Rini Cahyani dan ayahnya yaitu Khoiril, yang menanyakan memar dan luka lebam pada wajah Rifki Raditia Pratama. Dijawab oleh Rifki Raditia Pratama beralasan bahwa memar dan luka lebam pada wajahnya disebabkan oleh terjatuh dari sepeda.
Sekitar pukul 18.00 WIB, Khoiril meminjam handphone milik Dani Kurniawan untuk menghubungi Rio Filian Tono yang merupakan paman dari Rifki Raditia Pratama untuk memberitahu terkait dengan memar dan luka lebam pada wajah Rifki Raditia Pratama.
Sekitar pukul 18.45 WIB, Rio Filian Tono menghampiri Rifki Raditia Pratama yang sedang berada di rumah neneknya yang beralamat di Dusun Bendomungal, Desa Kedungmungal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Di lokasi tersebut, Rio Filian Tono bertemu dengan Rifki Raditia Pratama dan melihat langsung kondisi wajah Rifki Raditia Pratama yang mengalami memar dan luka lebam yang dialaminya.
Rio Filian Tono menanyakan kepada Rifki Raditia Pratama dengan mengucap “Mari lapo awakmu?”
Dijawab oleh Rifki Raditia Pratama dengan mengucap “Gelot lek”.
Rio Filian Tono melihat kondisi Rifki Raditia Pratama yang mengalami memar dan luka lebam di bagian mata bagian kanan dan kiri, serta pelipis bagian kanan.
Rio Filian Tono mengucap kepada Rifki Raditia Pratama, “Awakmu iki duel opo di kroyok?”
Dijawab oleh Rifki Raditia Pratama, “Duel lek karo Samsul”.
Mendengar jawaban Rifki Raditia Pratama tersebut, kemudian Rio Filian Tono menyangka bahwa memar dan luka lebam tersebut merupakan akibat dari pengeroyokan.
Dengan nada marah dan emosi, Rio Filian Tono menyampaikan kepada Rifki Raditia Pratama bahwa ingin membalas dengan memukul pelaku pengeroyokan tersebut, bahkan menyatakan bahwa apabila perlu akan dibunuh untuk membalas perbuatan tersebut.
Setelah itu, Rio Filian Tono mengajak Rifki Raditia Pratama pulang ke rumahnya dengan berboncengan menggunakan sepeda motor milik Rio Filian Tono. Dalam perjalanan, Rio Filian Tono kembali mengucapkan, “Awakmu iki dikeroyok, aku gak terimo ngeneki. Pasti iki wes direncanokno ambek areke. Engko tetep tak golei arek iku. Tak antemane arek iku, opo tak patenane” (Kamu ini dikeroyok saya tidak terima. Seperti ini nanti tetap saya cari. Saya pukuli anak itu atau saya bunuh).
Setelah mengantar Rifki Raditia Pratama, Rio Filian Tono langsung kembali ke rumahnya.
Sekitar Pukul 20.27 WIB, Rio Filian Tono mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp kepada Rifki Raditia Pratama dengan mengatakan, “Biyasa e moleh jam piro?” (Biasanya pulang jam berapa?), dengan maksud dan tujuan untuk mengetahui waktu pulang sekolah dari Samsul Arifin, Mukhamad Alfan, dan Afif Muzaki Arif alias Apep.
Dijawab oleh Rifki Raditia Pratama, “12.30”.
Dijawab oleh Rio Filian Tono, “Brarti ark en gedung lor” (Berarti anak-anak berada di gedung Utara), dengan maksud Rio Filian Tono memastikan bahwa mereka berada di gedung Utara.
Kemudian dijawab kembali oleh Rifki Raditia Pratama, “Ngeh plg”.
Rifki Raditia Pratama mengatakan kepada Rio Filian Tono, “Arek kls 3”.
Kemudian Rifki Raditia Pratama mengirim foto Samsul Arifin, Mukhamad Alfan, dan Afif Muzaki Arif alias Apep.
Pukul 21.21 WIB, Rio Filian Tono menginformasikan kepada Rifki Raditia Pratama dengan mengatakan, “Iyoo iki arek2 ws tak lompok no” (Ini anak-anak sudah saya kumpulkan).
Baca juga: Tewaskan 2 Orang, Oknum Polisi di Mojokerto Cuma Divonis 1 Tahun Penjara
Dijawab oleh Rifki Raditia Pratama, “Ngeh”.
Pada saat yang sama sekira pukul 21.20 WIB, pada saat Rio Filian Tono menginformasikan bahwa dia sudah mengumpulkan teman-temannya, Rio Filian Tono saat itu sedang bersama dengan Hildan dan Aril.
Rio Filian Tono duduk satu meja dengan Mochamad Pendik dan Taufik di warung kopi yang terletak di Dusun Kebon, Desa Kebondalem, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, sebagaiamana Rio Filian Tono menyampaikan kepada Hildan, Aril, Mochamad Pendik dan Taufik bahwa Rifki Raditia Pratama yang merupakan keponakannya dikeroyok oleh Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki Arif.
Lalu Rio Filian Tono mengajak untuk mendatangi Samsul Arifin, Muhammad Alfan dan Afif Muzaki Arif dengan mengatakan, “Dik, ponakanku lo di kroyok arek, mene ikut a samperin anak yang ngroyok ponakanku ?”
Adapun Hildan, Aril, Mochamad Pendik dan Taufik tidak merespon ajakan dari Rio Filian Tono. Rio Filian Tono mengajak Aril untuk mendatangi Samsul Arifin, Muhammad Alfan dan Afif Muzaki Arif ke SMK Raden Patah. Akan tetapi oleh Aril ajakan tersebut ditolak karena Aril sedang ada pelajaran bengkel.
Diwaktu yang sama sekira pukul 21.23 WIB, Rifki Raditia Pratama yang mengetahui bahwa terdakwa telah mengumpulkan teman-teman Rio Filian Tono. Karena khawatir Rio Filian Tono akan membunuh Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki, Rifki Raditia Pratama mengirim pesan melalui Whatsapp meminta agar Rio Filian Tono tidak membunuh Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki dengan berkata, “Ojk dipateni lek sak no” (Jangan dibunuh, kasihan).
Rio Filian Tono hanya menjawab bahwa besok, yakni hari Sabtu, 3 Mei 2025, Rio Filian Tono akan datang menemui Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki, untuk membalas dendam atas perbuatan Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki, kepada Rifki Raditia Pratama dengan mengirim pesan kepada Rifki Raditia Pratama, “Ak mne nek bdal jam 11 nek gak jam 10 (Aku besok berangkat jam 11 kalau tidak jam 10)”.
Rio Filian Tono meminta kepada Rifki Raditia Pratama untuk merahasiakan rencananya tersebut kepada siapapun termasuk kepada orang tua Rifki Raditia Pratama.
Pada Sabtu, 3 Mei 2025, sekitar pukul 10.00 WIB, Rio Filian Tono dengan perasaan sakit hati dan ingin membalas dendam kepada Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki, berangkat dari rumahnya langsung menuju ke sekolah SMK Raden Rahmat beralamat di Jalan Hasanudin nomor 79, Mojosari, Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, dengan menggunakan 1 unit sepeda motor Honda Vario warna hitam, dengan tujuan untuk mencari Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki.
Setelah tiba di lokasi SMK Raden Rahmat, Rio Filian Tono tidak menemukan Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki dikarenakan belum waktu pulang sekolah.
Rio Filian Tono kembali menghubungi Rifki Raditia Pratama untuk menanyakan dan meminta foto kembali dari Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki dengan cara berkomunikasi sekitar pukul 10.28 WIB melalui aplikasi WhatsApp, yang dikatakan oleh Rio Filian Tono kepada Rifki Raditia Pratama, “Ngge ak kirimono foto e seeng arek ngoro mbek arek Mbangsal”.
Kemudian dibalas oleh Rifki Raditia Pratama mengirim 1 foto, yang pada foto tersebut menandai Mukhamad Alfan menggunakan lingkaran merah.
Pada pukul 10.34 WIB, Rifki Raditia Pratama mengirim 1 foto kembali yang pada foto tersebut menandai Samsul Arifin dan Afif Muzaki.
Rio Filian Tono menuju ke rumah Muhammad Teguh Firmansyah untuk menanyakan informasi dan memperlihakan foto Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki. Karena Muhammad Teguh Firmansyah mengenal dan mengetahuinya, Rio Filian Tono mengajak Muhammad Teguh Firmansyah untuk Bersama-sama menuju ke sekolah SMK Raden Rahmat menggunakan sepeda motor yang berbeda.
Baca juga: Tim Gabungan Polres Murung Raya Tangkap Pembunuh Di Desa Olung Siron
Sekitar pukul 12.30 WIB, Rio Filian Tono bersama dengan Muhammad Teguh Firmansyah tiba di sekolah SMK Raden Rahmat. Rio Filian Tono menyuruh Muhammad Teguh Firmansyah untuk mencari keberadaan Samsul Arifin, Mukhamad Alfan dan Afif Muzaki Arif.
Muhammad Teguh Firmansyah masuk ke dalam sekolah dan bertemu dengan Samsul Arifin, Mukhamad Alfan. Muhammad Teguh Firmansyah mengajak mereka untuk bertemu dengan Rio Filian Tono di gedung sebelah Utara. Setelah bertemu dengan Rio Filian Tono, dengan nada keras Muhammad Teguh Firmansyah mengucap, “Iki mas arek e mas” (Ini mas anaknya).
Samsul Arifin mengucap kepada Rio Filian Tono sambil menunjuk ke arah Mukhamad Alfan, “Iki mas arek melok-melok mas”.
Dengan nada keras, Rio Filian Tono mengucap “Ayo dijelasno nang omahe Mbakku ae”, dan “Ayo wes melok aku karo2 ne” (Ayo dijelaskan di rumah kakak saya saja) dan (Ayo ikut saya kalian berdua).
Rio Filian Tono memaksa untuk Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan tersebut untuk ikut bersama Rio Filian Tono dengan cara berboncengan 3 menggunakan 1 unit sepeda motor Honda Vario warna hitam milik Rio Filian Tono, sementara Muhammad Teguh Firmansyah pulang ke rumahnya.
Sekitar pukul 12.45 WIB, Rio Filian Tono bersama Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan tiba di rumah Khoirul yang beralamat di Desa Kedungmungal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.
Sesampainya di rumah tersebut, terdapat Khoiril, dan Rini Cahyani yang berada dalam rumah. Sesampainya di depan rumah Khoiril, kemudian Rio Filian Tono, Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan turun dari motor tersebut.
Samsul Arifin dan Muhammad Alfan tetap berada dekat dengan sepeda motor milik Rio Filian Tono. Kemudian, Rio Filian Tono sambil berjalan memasuki rumah dengan emosi dan nada keras mengucapkan, “Ndi iki pedange iki” (Dimana pedangnya ini).
Mendengar ucapan keras dari Rio Filian Tono tersebut, Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan yang sedang berada di dekat sepeda motor milik Rio Filian Tono tekejut, merasa takut dan terancam, sehingga secara spontan Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan berlari dengan penuh ketakutan menuju ke arah Utara.
Mengetahui Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan berlari, Rio Filian Tono bersama Khoiril mengejar Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan sampai mendekati Sungai Brantas. Pada saat berlari Samsul Arifin dan Mukhamad Alfan berpencar: Samsul Arifin berlari menuju ke arah Barat mendekati Sungai Brantas, sedangkan Mukhamad Alfan ke arah Timur mendekati Sungai Brantas.
Pada saat melakukan pengejaran, Rio Filian Tono bersama dengan Khoiril melihat adanya seseorang yang menggunakan seragam sekolah di dekat kebun jagung dengan jarak pandang kurang lebih 50 meter. Setelah di dekati oleh Khoirul dan Rio Filian Tono, saat itu hanya menemukan sepasang sepatu dan tas sekolah milik Mukhamad Alfan yang selanjutnya sepasang sepatu dan tas tersebut dibawa ke rumah Khoiril.
Pada Senin, 5 Mei 2025, sekitar pukul 17.00 WIB bertempat di Sungai Brantas masuk Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, Achmad Atem menemukan sesosok mayat yang diketahui dengan kondisi tubuh yang telah membusuk, mengalami pembengkakan, serta rambut yang sebagian besar telah rontok.
Kemudian Achmad Atem segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Prambon dan yang telah dilakukan penyelidikan dan di indentifikasi merupakan mayat Mukhamad Alfan. (*)
Editor : Redaksi