Di panggung ekonomi nasional, nama Drs. H. Marzuki Usman, S.E., M.A., yang menyandang gelar adat Sri Paduko Alam Mangkunegeri, dikenal sebagai salah satu arsitek utama modernisasi pasar modal Indonesia. Pria kelahiran 30 September 1943 ini memiliki rekam jejak emas sebagai birokrat tulen, akademisi tepercaya, serta pakar ekonomi yang sukses mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang pentingnya dunia investasi.
Memiliki darah campuran Minangkabau dari sang ayah, H. Usman Abul, dan Melayu Jambi dari ibunya, Cholijah, anak keempat dari sembilan bersaudara ini tumbuh menjadi tokoh bangsa lintas rezim yang sangat disegani.
Baca juga: Kemenparekraf Gelar Pelatihan Santri Digitalpreneur di Ponpes Qomaruddin Gresik
Dari Aktivis Kampus Menuju Duke University
Kecintaan Marzuki pada dunia organisasi dan akademis telah mengakar sejak masa mudanya di Yogyakarta. Ia tercatat aktif sebagai penggerak di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Yogyakarta (1963–1966) serta Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada periode 1967–1969.
Setelah berhasil meraih gelar sarjana dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1969, kecerdasannya menarik perhatian dua tokoh ekonomi legendaris Indonesia, J.B. Sumarlin dan Ali Wardhana. Atas rekomendasi dan bantuan keduanya, Marzuki mendapatkan beasiswa prestisius dari Ford Foundation untuk melanjutkan studi di Duke University, Durham, North Carolina, Amerika Serikat, hingga sukses menyabet gelar Master of Arts pada tahun 1975.
Tangan Dingin di Bapepam: Pencetus "Booming" Pasar Modal Indonesia
Sebelum dipercaya masuk ke jajaran kabinet, Marzuki Usman menorehkan prestasi monumental saat menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Pasar Modal (Bapepam) Departemen Keuangan. Di posisi inilah ia berhasil mendobrak ketakutan publik dan mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya berinvestasi di pasar saham.
Karier cemerlangnya berlanjut ketika ia ditunjuk sebagai Komisaris Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ). Strategi pemasaran agresif dan visioner yang ia tekankan kepada jajaran direksi terbukti sangat ampuh. Di bawah pengawasannya, BEJ mencetak sejarah dengan mengalami fenomena booming investasi yang luar biasa. Media-media kala itu mencatat momen ikonik di mana ribuan calon investor rela mengantre panjang demi memburu dan membeli saham di pasar modal tanah air. Atas dedikasi tak bertepi ini, ia dianugerahi kehormatan sebagai Penasihat Senior Bursa Efek Indonesia (BEI) seumur hidup.
Baca juga: Wishnutama Kusubandio, Raja Rating Televisi yang Menembus Kursi Menteri
Dipercaya Memimpin Kementerian di Dua Era Presiden
Kapasitas kepemimpinan dan integritasnya membuat Marzuki dipanggil oleh dua presiden yang berbeda untuk mengomandoi sektor-sektor strategis negara:
Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi pada era Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie.
Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada era Kabinet Persatuan Nasional di bawah kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Baca juga: Kisah Widiyanti Putri Wardhana Jadi Konglomerat Agrobisnis
Pengabdian Tanpa Batas: Dunia Akademis dan Korporasi
Meski memiliki kesibukan tinggi di tingkat nasional, Marzuki tidak pernah melupakan akar akademisnya. Ia mendedikasikan ilmunya sebagai dosen di berbagai universitas ternama, mulai dari FE-UGM, UII, FE-UI, Program PPN-UI, LPPI, Magister Manajemen UGM, hingga membidani pendidikan di daerah asalnya melalui FE Universitas Jambi, Universitas Batanghari Jambi, dan STIE Muhammadiyah Jambi. Di kancah internasional, ia juga dipercaya menjadi anggota Dewan Penasihat Duke Islamic Studies Center (DISC) di Amerika Serikat.
Di sektor korporasi, tangan dinginnya banyak dipakai untuk mengawal kesehatan perusahaan-perusahaan besar. Ia pernah mengemban tugas sebagai Komisaris maupun Presiden Komisaris di Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, PT PAL, Perum Astek, PT Indorama Tekstiel, PT Grant Thornton Indonesia, PT Alam Sutra, hingga PT Perkebunan Nusantara VI. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar