Pada 5 Juni 1919, rakyat Salumpaga, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah, melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Belanda dan raja Toli-Toli. Sejumlah orang meninggal pada hari itu, salah duanya kontrolir Belanda dan raja Toli-Toli.
Keberanian rakyat Salumpaga tersebut tidak lepas dari organisasi Serikat Islam yang baru muncul awal 1900 di Sulawesi Tengah. Abdul Muis selaku Wakil Ketua CSI datang langsung dan berpidato di hadapan ribuan rakyat Toli-Toli pada Mei 1919, satu bulan sebelum kejadian berdarah itu.
Baca juga: Kronik Mongondow dan Minahasa
Usai permohonannya yang kesekian kali ditolak oleh kontrolir J.P. de Kat Angelino, Imam Haji Hayyun dengan lantang berteriak mengucapkan "Allahu akbar."
Takbir itu menggerakkan Otto menghunuskan kelewangnya pas di kepala Angelino, kemudian di bagian leher, selanjutnya sejumlah tebasan di paha kiri yang membuat kontrolir muda itu menghembuskan napas terakhirnya.
Di waktu bersamaan, Hasan menikam petugas pajak C Suatan tepat di bagian jantung yang berakhir dengan kematian.
Raja Toli-Toli, Muhammad Ali Bantilan (Mogi Haji Ali) pun bernasib sama, mati ditombak dari belakang oleh Kampaeng ketika berusaha melarikan diri. Selain itu, ada opas kerajaan Toli-Toli dan lima polisi yang juga mati dalam peristiwa pemberontakan rakyat Salumpaga pada 5 Juni 1919.
Apa yang terjadi sehingga rakyat yang sehari-harinya pergi ke sawah dan melaut berani melawan pemerintah kolonial, raja, dan sejumlah Polisi?
Ini karena kerja paksa (Heerendiensten) yang diterapkan oleh kontrolir bernama J.P. de Kat Angelino untuk rakyat Toli-Toli, tak terkecuali rakyat Salumpaga.
Salumpaga merupakan kampung pesisir menghadap ke Laut Sulawesi. Rakyatnya sehari-hari pergi ke laut dan ke sawah. Namun, mereka meninggalkan sawah dan perahu hanya untuk membangun jalan di Labuan Dede Kalangkangan, kampung yang tak jauh dari Kota Toli-Toli.
Jarak antara Labuan dan Salumpaga jika saat itu, menggunakan perahu memakan waktu sekitar 12 jam, sementara kalau jalan kaki sekitar 36 jam. Berjumlah 50 orang dari Salumpaga melaksanakan tugas tersebut. Mereka bekerja selama 6 hari dengan persedian makan dan minum terbatas yang dibawa sendiri dari kampung.
Pihak Belanda dan kerajaan Toli-Toli tidak menyediakan makanan. Selain persediaan bekal yang sudah habis, alasan mereka kembali pulang karena Ramadan segera tiba. Ramadan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu untuk menjalankan ibadah. Namun, kepulangan mereka menjadi kemarahan bagi pihak Belanda.
Sebelum kembali ke Salumpaga, para pekerja sempat menyampaikan usulan ke mandor agar kontrolir menunda kerja rodi selama bulan Ramadan. Mereka akan kerja lagi setelah bulan puasa. Usulan tersebut diteruskan oleh mandor kepada Kepala Distrik Toli-Toli Utara yang dijabat oleh Haji Muhammad Saleh Bantilan, adik kandung dari Raja Toli-Toli. Usulan para pekerja tidak mendapat respons. Akhirnya, mereka mengambil keputusan berani untuk pulang dengan menaiki perahu pada malam hari.
Ada dua orang yang senang atas pembengkangan rakyat Salumpaga tersebut, yakni Iman han Haji Hayyun dan Maros. Dua tokoh ini sangat disegani dan didengar oleh rakyat Salumpaga. Haji Hayyun adalah penasihat Sarekat Islam Salumpaga, sementara Maros merupakan Ketua Sarekat Islam Salumpaga dan seorang suku Bajo.
Abdul Karim sebagai Kepala Kampung Salumpaga mendengar langsung apa keluhan dari rakyatnya, pergi ke Toli-Toli untuk melaporkan ke kepala distrik yang selanjutnya diteruskan ke raja Toli-Toli dan kontrolir.
Laporan diterima. Raja Toli-Toli dan kontrolir Angelino segera berangkat ke Kampung Salumpaga. Mereka membawa kepala distrik, mantri pajak C. Suatan, lima polisi bersenjata. Rombongan ini berangkat ke Salumpaga menggunakan perahu.
Semua pekerja yang melarikan diri diminta untuk berkumpul. Kontrolir J.P. de Kat Angelino sambil berdiri dan bertanya, kenapa kalian berani melawan Pemerintah?
Salah satu di antara pekerja menjawab, kami disuruh oleh ketua Serikat Islam. Kontrolir Angelino marah dan mempertanyakan, kok Serikat Islam ikut campur terkait kepentingan rakyat dan Pemerintah?
Dalam hal ini, Maros menjadi orang yang tersudut. Namun, Iman Haji Hayyun tidak tinggal diam, ia langsung berdiri dan membela para pekerja.
"Mereka tidak melawan pemerintah dan tidak pula melarikan diri, melainkan persedian bekal makanan para pekera telah habis," ucap Haji Hayyun, seperti ditulis oleh Juraid dalam tesisnya.
Gagah berani Imam Haji Hayyun dalam membela orang-orang Salumpaga dengan suara lantang di hadapan kontrolir dan raja Toli-Toli.
Haji Hayyun meneruskan ucapannya dengan kalimat pembelaan seperti ini :
"... telah tiba bulan puasa, maka pada saat ini saya mohon kiranya Kontrolir dapat mengabulkan permohonan mereka untuk bekerja kembali setelah berakhirnya bulan puasa. Saya sendiri sanggup memimpin mereka untuk bekerja kembali apabila bulan puasa telah selesai dengan kondisi fisik dan tenaga yang lebih siap."
Kontrolir J.P. de Kat Angelino menganggap hanya angin lalu permintaan Haji Hayyun tersebut dan meminta seluruh pekerja kembali ke Toli-Toli untuk meneruskan pekerjaan jalan.
Pertemuan tersebut berakhir.
Baca juga: Fakta di Balik Patung Raksasa di Ibu Kota Jakarta
Kontrolir Angelino bersama rombongan berangkat ke Kampung Pinjan yang diduga mereka akan menagih pajak.
Sementara para pekerja dimobilisasi oleh Imam Haji Hayyun dan Maros untuk mengadakan pertemuan di rumah Haji Hayyun. Rapat tersebut mengonsolidasi bahwa keputusan mereka untuk kembali kerja rodi usai bulan Ramadan sudah final.
Kontrolir Angelino harus menerima keputusan mereka. Seandainya ditolak, maka sesuai kesepakatan bersama bahwa pemberontakan harus dilaksanakan.
Para Polisi luput mencegah pertemuan tersebut, sehingga pada malam 4 Juni 1919, rakyat Salumpaga yang sedang salat Tarawih di Masjid Salumpaga dibubarkan oleh polisi bersenjata.
Jemaah panik dan ketakutan. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Mereka bingung tujuan polisi membubarkan orang Islam yang sedang menunaikan ibadah Terawih.
Ternyata, Polisi takut rakyat Salumpaga yang sedang salat Terawih akan mengadakan pertemuan untuk melawan kehendak Pemerintah. Pembubaran tersebut menyulut kemarahan penduduk Salumpaga.
Keesokan harinya, tepat jam 7 pagi, 5 Juni 1919, pemberontakan rakyat Salumpaga terjadi. Kabar pemberontakan rakyat Toli-Toli pada 5 Juni 1919 segera tersebar ke seluruh wilayah Hindia Belanda, hingga ke Belanda.
Sembilan hari pasca pemberontakan tersebut, pemerintah kolonial bergerak mendatangi Salumpaga dengan membawa dua infanteri serdadu Belanda yang dibantu oleh Raja Muda Toli-Toli Tagelan Muhammad.
Sekitar 100 pria ditangkap tak berdaya. Para pemimpin pemberontakan, seperti Imam Haji Hayyun, Maros, Kampaeng, Otto, Kombong, dan Hasan menjadi sasaran utama dalam penangkapan tersebut.
Penangkapan ini menjadi penanda berakhir perlawanan rakyat Toli-Toli di Salumpaga.
Sementara nama Kombong (43 tahun), Otto (45 tahun), Hasan (40 tahun), Zakariah (47 tahun) dihukum mati di tiang gantung.
Kombong, Otto, dan Hasan dieksekusi pada 27 September 1922, sedangkan Zakariah telah lebih dulu dilakukan di Rumah Tahanan Makassar pada akhir 1921.
Baca juga: Alih Fungsi Haji Lebih Ganas Dari 350 Tahun Penjajahan Belanda
Pimpinan pemberontakan Imam Haji Hayyun dibuang ke Nusakambangan.
Aktor pemberontakan rakyat Salumpaga adalah anggota Sarekat Islam yang baru saja mendapatkan suntikan semangat langsung dari Jenderal Central Serikat Islam (CSI) Sosrokardono dan Wakil Ketua CSI Abdul Muis pada Mei 1919, satu bulan sebelum pemberontakan. Dua tokoh ini datang ke Toli-Toli, Sulawesi Tengah, untuk menyampaikan sejumlah pesan untuk rakyat Toli-Toli.
Pada 18 Mei 1919, Abdul Muis yang juga dikenal sebagai penulis novel Salah Asuhan memberi pidato di depan ribuan rakyat Toli-Toli. la menyampaikan enam hal agama, penindasan, kerja paksa, tuntutan Syarikat Islam dalam anggaran dan pajak, pendidikan untuk rakyat, dan pandangan Syarikat Islam tentang tata hukum.
Menurut Juraid, "Kehadiran Serikat Islam di Tolitoli dengan berbagai atribusi dan misi yang diembannya tertangkap makna kesadaran hati yang tumbuh pada masyarakat pribumi yang sebelumnya mau diperlakukan sewenang-wenang, tapi kini siap untuk merebut kembali haknya."
Pemberontakan rakyat Toli-Toli pada 1919 adalah puncak dari beberapa pemberontakan yang terjadi di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah :
Perlawanan rakyat Moutong, Parigi Moutong pada 1902.
Perlawanan rakyat Kulawi, Sigi pada 1904.
Gerakan perlawanan rakyat Biromaru, Sigi pada 1905.
Perjuangan rakyat Mori, Morowali pada 1907.
Gerakan sosial di Peore, Poso pada 1907.
*) Source : Safar Nurhan
Editor : S. Anwar