Kisah Rasulullah SAW Ketika Dilempari Batu di Thaif

Reporter : Redaksi
Foto ilustrasi

Setelah wafatnya Abu Thalib—paman yang selama ini melindunginya—tekanan dan gangguan terhadap Rasulullah SAW di Mekah semakin berat. Dalam situasi yang sulit itu, beliau memutuskan untuk menuju Thaif, sebuah kota yang terletak sekitar 60 mil dari Mekah, dengan harapan penduduknya mau menerima ajaran Islam dan memberikan dukungan kepada dakwah beliau.

Namun apa yang diharapkan tidak terjadi. Warga Thaif justru menolak keras ajaran yang dibawanya. Mereka bahkan memprovokasi anak-anak dan orang-orang kasar untuk mengusir Rasulullah SAW dengan lemparan batu dan hinaan ketika beliau hendak meninggalkan kota tersebut. Tubuh beliau terluka, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin.

Baca juga: Ayub, Warga Krembangan Bhakti Surabaya Gelar Aqiqah, Dihadiri Habib Musthofa Jamal Al Aydrus

Di tengah rasa sakit dan kelelahan yang mendalam, Rasulullah SAW menengadahkan doa kepada Allah SWT, mengadukan segala kelemahan, beban, dan ujian yang menimpanya. Doa itu menjadi salah satu doa paling menyentuh dalam sejarah dakwah beliau—sebuah ungkapan pasrah, harap, dan tawakal sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Baca juga: Air Mata Nabi : Tragedi Husain di Karbala

Melihat penderitaan itu, Allah SWT mengutus malaikat untuk menawarkan balasan bagi penduduk Thaif—bahkan kehancuran sekalipun. Tetapi Rasulullah SAW, dengan hati yang penuh kasih sayang, menolak tawaran tersebut. Beliau berharap bahwa kelak akan lahir dari keturunan mereka orang-orang yang beriman dan menerima petunjuk Allah.

Baca juga: Bani Shaybah Penjaga Kunci Kabah

Peristiwa ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga pelajaran agung tentang kesabaran, keteguhan hati, dan kasih sayang seorang nabi. Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam ujian yang paling berat pun, doa dan harapan hanya kepada Allah SWT adalah kekuatan terbesar seorang mukmin.

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru