Lika Liku Perjalanan Tragis Juliari Batubara

Reporter : Redaksi
Juliari Batubara

Garis hidup seseorang terkadang menyerupai kurva yang menanjak tinggi hingga ke puncak, sebelum akhirnya menukik tajam akibat sebuah keputusan keliru. Dalam panggung politik dan kekuasaan di Indonesia, salah satu potret kejatuhan paling dramatis dan tragis dialami oleh Juliari Peter Batubara.

Bagi publik, namanya akan selalu lekat dengan ingatan kolektif tentang masa-masa sulit pandemi. Ia adalah menteri yang dipercaya mengurusi jaring pengaman sosial, namun harus mengakhiri karier politiknya dengan rompi oranye tahanan.

Baca juga: AM Tambunan Tokoh Kunci Parkindo

Padahal, jika menengok ke belakang, Juliari bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah seorang teknokrat muda berpendidikan mentereng dari Amerika Serikat dan mantan bos besar di berbagai perusahaan swasta. Bagaimana perjalanan hidupnya dari puncak kejayaan hingga menjadi pesakitan? Mari kita simak lika-likunya.

Berbekal Ilmu dari Negeri Paman Sam untuk Mengguncang Dunia Bisnis

Juliari menghabiskan masa remajanya di Jakarta dan menamatkan pendidikan di salah satu sekolah menengah paling kompetitif di ibu kota, SMA Negeri 8 Jakarta, pada tahun 1991. Setamat SMA, jalan kariernya kian terbuka lebar saat ia memutuskan merantau ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tinggi.

Ia tercatat belajar di Riverside City College sebelum akhirnya meraih gelar Business Administration degree with minor in Finance dari Chapman University, California, pada tahun 1997.

Pulang ke tanah air dengan gelar M.B.A di tangan, Juliari langsung menerobos jajaran elite korporasi. Otak bisnisnya teruji saat ia dipercaya menduduki kursi petinggi dan direksi di berbagai perusahaan besar, mulai dari PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (produsen pelumas), PT Arlinto Perkasa Buana, PT Bwana Energy, hingga PT Tridaya Mandiri. Kepiawaiannya di dunia usaha bahkan membawanya didapuk sebagai Ketua Harian Asosiasi Produsen Pelumas Indonesia (Aspelindo) selama tujuh tahun (2007–2014).

Langkah Mulus di Senayan hingga Kursi Bendahara Partai

Sukses mengamankan reputasi di dunia bisnis, Juliari memutuskan melebarkan pengabdiannya ke jalur politik praktis dengan bergabung bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Di sinilah jalurnya menuju puncak kekuasaan kian mulus.

Baca juga: Nasib Sugeng Purnomo, Terdaftar Sebagai Penerima Manfaat, Tapi Tidak Terima Bantuan

Ia sukses melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR-RI selama dua periode berturut-turut mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah I. Di parlemen, ia ditempatkan di Komisi VI—sebuah komisi yang sangat linier dengan latar belakangnya karena membidangi Perdagangan, Perindustrian, Investasi, dan BUMN. Karena loyalitas dan kemampuan manajerialnya yang rapi, partai berlambang banteng tersebut memberinya mandat krusial sebagai Wakil Bendahara Umum DPP PDI-P.

Kombinasi mentereng antara pengusaha sukses, lulusan luar negeri, dan politikus ulung inilah yang membuat Presiden Joko Widodo tanpa ragu memanggilnya ke Istana untuk menjabat sebagai Menteri Sosial pada Oktober 2019.

Plot Twist Tragis di Tengah Krisis Pandemi

Namun, badai besar datang tepat setahun setelah ia menjabat. Pada Desember 2020 dini hari, publik dikejutkan oleh Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Kementerian Sosial. Juliari ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana bantuan sosial (bansos) penanganan COVID-19 untuk wilayah Jabodetabek.

Skandal ini memicu gelombang kemarahan publik yang luar biasa masif. Ironi terasa begitu menyakitkan karena dugaan aliran komisi (fee) sebesar Rp10.000 per paket sembako tersebut diambil dari hak masyarakat kecil yang sedang bertaruh nyawa di tengah krisis ekonomi dan kesehatan global.

Baca juga: Inten Soeweno, Putri Dokter Jenderal Soedirman

Perjalanan persidangannya pun diwarnai drama, termasuk momen saat Juliari membacakan nota pembelaan (pledoi) yang memohon keringanan hakim demi memikirkan dampak psikologis anak dan istrinya. Namun, palu hakim tetap diketuk dengan tegas. Pada 23 Agustus 2021, ia dijatuhi vonis 12 tahun penjara, denda membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp14,5 miliar, serta pencabutan hak politik untuk dipilih selama 4 tahun setelah bebas nanti.

Pelajaran Berharga dari Sebuah Kejatuhan

Kisah perjalanan hidup Juliari Batubara menjadi refleksi yang sangat mahal bagi kita semua. Latar belakang pendidikan tinggi di luar negeri, kekayaan dari gurita bisnis, dan posisi politik yang strategis ternyata tidak menjadi jaminan jika benteng integritas runtuh.

Lika-liku tragis ini mengingatkan panggung publik bahwa kekuasaan laksana pisau bermata dua; ia bisa menjadi jalan pengabdian yang mulia, atau justru menjadi perangkap yang menghancurkan seluruh reputasi yang telah dibangun sepanjang hidup. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru