Inten Soeweno, Putri Dokter Jenderal Soedirman
Di balik kelembutan parasnya, Hj. Endang Kusuma Inten Soeweno (lahir 2 Februari 1944) adalah perwujudan nyata dari ketangguhan, disiplin, dan pengabdian tanpa batas. Perempuan yang akrab disapa "Mbak Inten" ini dikenal luas dalam catatan sejarah sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan VI (1993–1998).
Jauh sebelum menduduki kursi menteri, garis hidupnya telah ditempa oleh nilai-nilai patriotisme yang diwarisi langsung dari sang ayah, serta ketegaran personal yang luar biasa dalam menghadapi ujian fisik.
Warisan Darah Juang: Putri Dokter Pribadi Jenderal Soedirman
Semangat pengabdian Mbak Inten bukanlah sesuatu yang hadir secara instan. Lahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara, ia merupakan putri dari dr. Koesen Hirohoesodo, seorang dokter spesialis sekaligus prajurit TNI yang tangguh. Dalam usia yang terbilang sangat muda, yakni 38 tahun, sang ayah sudah menyandang pangkat kolonel karena dedikasinya yang luar biasa.
Sejarah mencatat kiprah besar dr. Koesen saat fajar Agresi Militer Belanda II menyelimuti bumi pertiwi pada tahun 1949. Ia dipercaya mengemban tugas sakral sebagai dokter pribadi Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dengan setia, dr. Koesen mendampingi dan merawat sang Panglima yang tengah didera sakit parah di tengah rute gerilya, hingga detik-detik terakhir wafatnya Jenderal Soedirman di kediamannya di Kota Magelang, Jawa Tengah.
Darah juang dan keteguhan sang ayah itulah yang tertanam erat dalam nadi Inten Soeweno. Pada tahun 1967, setelah melalui masa perkenalan singkat selama empat bulan, ia memantapkan hati untuk menikah dengan Soeweno, seorang perwira TNI yang kelak berpangkat Letnan Jenderal.
Mengatasi Keterbatasan Fisik dengan Prestasi
Kehidupan tidak selalu berjalan mulus bagi Inten. Pada tahun 1979, sebuah musibah berat menimpanya di kediamannya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Akibat kecelakaan tersebut, tangan kanannya mengalami cedera fatal hingga terpaksa harus diamputasi dan digantikan dengan tangan palsu.
Bagi sebagian orang, kehilangan organ tubuh vital bisa menjadi akhir dari langkah produktif. Namun bagi Inten, keterbatasan tersebut justru menjadi bahan bakar untuk membuktikan bahwa kontribusinya bagi bangsa tidak berkurang sedikit pun. Ia menolak menyerah pada keadaan dan terus aktif bergerak.
Kariernya di organisasi kemasyarakatan bermula sejak anak-anaknya mulai tumbuh besar. Inten membina kapasitas kepemimpinannya di organisasi istri prajurit, Dharma Pertiwi, dalam kurun waktu 1975 hingga 1986. Kiprahnya yang cemerlang di dunia organisasi membuatnya dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Himpunan Wanita Karya (HWK).
Menembus Parlemen hingga Menakhodai Kementerian Sosial
Langkah politik Inten Soeweno kian mantap saat ia resmi bergabung dengan Golongan Karya (Golkar). Pada Pemilu 1987, ia berhasil menembus Senayan sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Kepercayaan konstituen yang besar membuatnya kembali terpilih untuk periode kedua pada Pemilu 1992 mewakili wilayah pemilihan Jawa Timur.
Dedikasi untuk Kaum Disabilitas dan Kesejahteraan Sosial
Puncak pengabdiannya terjadi pada 17 Maret 1993, saat Presiden Soeharto melantiknya sebagai Menteri Sosial. Penunjukan Inten dinilai sangat tepat dan sarat pesan simbolis. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan tangan palsu, Inten membawa empati yang sangat mendalam dan pemahaman autentik dalam merumuskan kebijakan sosial, khususnya dalam memperjuangkan hak-hak, aksesibilitas, dan pemberdayaan kaum disabilitas di Indonesia.
Selama lima tahun masa jabatannya, Kemensos gencar melakukan program pengentasan kemiskinan dan penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di seluruh penjuru tanah air.
Kini, nama Endang Kusuma Inten Soeweno abadi sebagai role model kepemimpinan perempuan Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan sebuah pesan kuat: bahwa latar belakang keluarga pejuang adalah amanah, dan keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berdiri tegak memimpin kesejahteraan bangsa. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : Bambang Harianto