Program transmigrasi era Orde Baru sering disebut sebagai salah satu proyek perpindahan penduduk terbesar di dunia. Keberhasilan program makro ini tentu tidak lepas dari tangan dingin seorang konseptor ulung yang mendedikasikan hidupnya untuk kaum tani dan nelayan. Sosok itu adalah Martono.
Menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dalam Kabinet Pembangunan IV (1983–1988), pria kelahiran Kebumen, 17 Mei 1925 ini dikenal sebagai peletak dasar-dasar manajemen penyelenggaraan transmigrasi modern di Indonesia. Dari seorang gerilyawan muda yang memanggul senjata, ia bertransformasi menjadi pelindung para petani dari ancaman penguasaan tanah oleh orang-orang kota.
Baca juga: Dua Fraksi Usulkan Perubahan Komposisi AKD DPRD Kabupaten Pasuruan
Dari Komandan Tentara Pelajar hingga Atase Pendidikan di Tokyo
Sama seperti tokoh besar angkatannya, masa muda Martono ditempa oleh aroma mesiu Revolusi Fisik. Saat Belanda mencoba merebut kembali kemerdekaan Indonesia, pemuda asal Jawa Tengah ini langsung turun ke medan gerilya. Rekam jejak militernya mentereng; ia dipercaya menjadi Komandan Tentara Pelajar Batalyon 300 di Yogyakarta, dan kemudian naik menjadi Komandan Detasemen III Brigade 17 Tentara Pelajar.
Uniknya, di sela-sela waktu mengangkat senjata melawan penjajah, Martono masih menyempatkan diri untuk mengajar anak-anak sekolah menengah. Jiwa pendidik ini pula yang membawanya merintis karier di birokrasi sipil pasca-kemerdekaan. Puncaknya, Martono dikirim ke luar negeri untuk menjabat sebagai Atase Pengajaran pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang sepanjang tahun 1960 hingga 1964.
Motor Penggerak Kosgoro dan Parlemen Orde Baru
Sepulang dari Negeri Sakura, Martono langsung terjun ke panggung politik praktis yang saat itu mulai memasuki transisi Orde Baru. Ia merupakan salah satu tokoh kunci Kosgoro (Koperasi Serba Guna Gotong Royong)—sebuah organisasi berbasis pemberdayaan ekonomi yang didirikan oleh para mantan Tentara Pelajar pada tahun 1957.
Baca juga: Caci Maki Terhadap Bahlil Lahadalia, Cyberbullying di Politik Indonesia
Melalui gerbong Kosgoro yang menjadi salah satu pilar cikal bakal lahirnya Golkar, Martono melenggang ke Senayan. Ia mengabdi sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi Karya selama satu dekade penuh, mulai tahun 1968 hingga 1978.
Bapak Transmigrasi dan Pencetus Alat Sakti Bodem Korektor
Melihat loyalitas dan kemampuannya yang serbadiagram, Presiden Soeharto mula-mula mendapuknya sebagai Menteri Muda Transmigrasi. Karena dinilai sukses meletakkan manajemen yang rapi, posisi tersebut kemudian ditingkatkan menjadi Menteri Transmigrasi penuh pada tahun 1983.
Sebagai menteri, Martono dihadapkan pada tantangan berat: menyulap lahan telantar di luar Pulau Jawa menjadi kawasan pertanian yang produktif bagi para transmigran. Di sinilah namanya mendadak viral di kalangan petani seluruh Indonesia. Ia memperkenalkan sebuah terobosan teknologi agronomi yang sangat populer kala itu bernama Bodem Korektor—sebuah alat khusus yang digunakan untuk memperbaiki struktur dan menyuburkan tanah-tanah kritis di lokasi transmigrasi.
Baca juga: Target Wongso Negoro Usai Terpilih Sebagai Ketua DPD Golkar Gresik
"Komitmen Martono pada dunia agraria tidak luntur usai turun dari kursi menteri. Hingga akhir hayatnya, ia dipercaya memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebagai Ketua Umum, dan selalu pasang badan membela hak-hak kepemilikan tanah petani lokal."
Akhir Perjalanan Sang Pejuang Kaum Tani
Martono mengembuskan napas terakhirnya pada 13 Desember 1992 dalam usia 67 tahun. Ia pergi dengan meninggalkan cetak biru pemukiman transmigrasi yang hingga hari ini telah berkembang menjadi kota-kota kabupaten baru di berbagai penjuru Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Atas segala dedikasinya dari garis depan pertempuran hingga garis depan swasembada, namanya abadi sebagai pahlawan bagi jutaan kaum tani Indonesia. (*)
Editor : Bambang Harianto