Di panggung kebijakan publik dan ekonomi-politik nasional, nama Andrinof Achir Chaniago dikenal sebagai salah satu pemikir yang kritis dan visioner. Pria kelahiran 3 November 1962 ini merupakan seorang akademisi senior yang rekam jejaknya melintasi batas-batas menara gading universitas.
Andrinof Chaniago a sukses mendedikasikan ilmu dan keahliannya di berbagai sektor krusial, mulai dari kabinet pemerintahan hingga menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkemuka.
Baca juga: Putra Pemilik Liek Motor Dipenjara karena Pengrusakan Kantor Bank Mandiri
Langkah pengabdian Andrinof berakar kuat di dunia pendidikan. Sebagai pakar kebijakan publik, ia memiliki kedekatan intelektual dan menjadi sahabat diskusi yang erat bagi Joko Widodo (Jokowi) sejak sang Presiden masih merintis karier kepemimpinan sebagai Wali Kota Solo. Kedekatan yang dibangun di atas kesamaan visi pembangunan tersebut membawa Andrinof masuk ke dalam lingkaran utama perumusan kebijakan nasional.
Mengomandoi Visi Pembangunan Nasional di Bappenas
Usai Jokowi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, Andrinof dipercaya mengemban amanah besar sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam Kabinet Kerja. Sejak dilantik pada 27 Oktober 2014, ia mengomandoi arah arah cetak biru pembangunan nasional yang berfokus pada pemerataan ekonomi dan penguatan konektivitas antarwilayah.
Meski masa jabatannya di kabinet terhitung singkat karena adanya dinamika perombakan (reshuffle) pemerintahan pada 12 Agustus 2015, pemikiran dan fondasi perencanaan yang diletakkannya tetap menjadi acuan penting bagi jalannya roda pembangunan.
Menjelma Jadi Jangkar Strategis di Berbagai BUMN Raksasa
Baca juga: Anak Sulung Bos Showroom Liek Motor Bikin Onar di Bank Mandiri
Kepakaran Andrinof di bidang analisis makro dan tata kelola organisasi membuat pemerintah kembali memanggilnya untuk memperkuat sektor korporasi pelat merah. Kiprahnya di dunia BUMN dimulai pada 29 Oktober 2015, saat ia resmi ditunjuk menjabat sebagai Komisaris Utama PT Angkasa Pura I (Persero) menggantikan Suratto Siswodiharjo. Di sana, ia mengawal modernisasi dan perluasan jaringan bandara di wilayah tengah dan timur Indonesia hingga Maret 2017.
Keberhasilan tersebut membawa kariernya melompat ke sektor perbankan. Pada Maret 2017, Andrinof dipercaya menduduki kursi Komisaris Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Di bank yang berfokus pada sektor UMKM ini, ia bertugas mengawali transformasi digital demi memperluas inklusi keuangan masyarakat bawah hingga tahun 2020.
Amanah berikutnya datang melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiri tahun 2020, di mana ia didapuk memegang posisi strategis sebagai Wakil Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pengalaman panjangnya di birokrasi dan korporasi keuangan menjadi modal kuat bagi Bank Mandiri untuk terus mencetak kinerja positif di tengah tantangan ekonomi global.
Kembali ke Khitah Pendidikan dan Pengabdian Sosial
Baca juga: Ketika Danantara Diawasi oleh Penjahat
Setelah menyelesaikan masa baktinya yang gemilang sebagai Wakil Komisaris Utama Bank Mandiri pada tahun 2024, Andrinof memilih untuk kembali ke habitat asalnya. Ia memutuskan untuk pulang ke dunia akademis dan fokus membagikan ilmu serta pengalamannya kepada generasi penerus bangsa.
Kini, Andrinof Chaniago aktif mengajar sebagai Dosen Ekonomi-Politik pada Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Di samping kesibukannya di ruang kelas, Andrinof juga mendedikasikan waktu dan pemikirannya dalam berbagai kegiatan aksi sosial dan komunitas publik.
Perjalanan hidup Andrinof Chaniago memberikan potret nyata dari seorang teknokrat sejati. Baginya, posisi menteri ataupun komisaris utama BUMN adalah ruang pengabdian sementara, namun dedikasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lewat jalur pendidikan adalah komitmen utama yang abadi. (*)
Editor : S. Anwar