Apa yang bisa Anda beli dengan uang satu ringgit atau setara 2,5 gulden di masa lalu? Bagi remaja asal Sukoharjo ini, uang sekecil itu—ditambah modal nekat—rupanya menjadi tiket awal yang mengubah seluruh garis takdir hidupnya menjadi seorang petinggi militer di Indonesia.
Bagi generasi hari ini, nama Jenderal TNI (Purn.) Poniman mungkin dikenal sebagai salah satu tokoh besar bangsa. Beliau adalah Kepala Staff TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-13 periode 1980–1983 yang kemudian dipercaya menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia (1983–1988).
Baca juga: Notaris Asal Gedangan Gugat Satreskrim Polresta Sidoarjo
Namun, di balik 17 bintang penghargaan yang menghiasi seragamnya, masa muda Poniman adalah potret sebuah kenekatan yang luar biasa demi membela tanah air.
Anak Kesayangan yang Menolak Zona Nyaman
Lahir di Sukoharjo pada 18 Juli 1926, Poniman sebenarnya hidup berkecukupan. Sang ayah, Kertowidjojo, merupakan seorang Lurah. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara, Poniman adalah tumpuan harapan dan anak kesayangan keluarga.
Di sekolah (HIS dan MULO Surakarta), Poniman tumbuh menjadi remaja yang cerdas, fasih berbahasa Belanda serta Inggris, dan sangat disukai guru-gurunya. Namun, hatinya berontak setiap kali melihat kesewenang-wenangan penjajah terhadap rakyat kecil. Gairah untuk menjadi tentara pun membara di dadanya.
Rencana Rahasia di Stasiun Balapan
Keinginan Poniman untuk merantau ke Bandung demi masuk militer ditentang oleh kedua orang tuanya. Tapi bagi Poniman, menyerah bukan pilihan.
Baca juga: Klarifikasi dan Hak Jawab Notaris Hendra Hadi Budianto atas Pemberitaan Lintas Perkoro
Suatu hari, dengan diam-diam ia membawa sepeda milik ayahnya menuju Stasiun Balapan Surakarta, ditemani seorang sahabat. Saat itu, uang di dompetnya hanya satu ringgit—jauh dari kata cukup untuk membeli tiket kereta ke Bandung.
Otak cerdasnya pun berputar. Demi menutupi kekurangan ongkos, Poniman dengan nekat melepas dinamo yang terpasang di sepeda ayahnya untuk dijual!
Setelah memegang tiket kereta, ia menyerahkan kembali sepeda "tanpa dinamo" itu kepada sahabatnya untuk dibawa pulang, sembari menitipkan pesan maaf kepada sang ayah. Dengan langkah mantap, ia naik ke gerbong kereta, merantau seorang diri menjemput takdir.
Dari Alun-Alun Bandung Menuju Puncak Militer
Baca juga: Di Balik Bebasnya Notaris Nafiaturrohmah di Pengadilan Tipikor Surabaya
Sesampainya di Bandung, garis tangan Poniman mulai terbuka. Saat sedang berjalan-jalan di Alun-Alun Kota Bandung, pandangannya tertuju pada selembar pengumuman: dibuka pendaftaran tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Tanpa ragu, pemuda Sukoharjo ini langsung mendaftarkan diri.
Langkah berani dengan modal dinamo sepeda itu terbukti tidak sia-sia. Pendidikan demi pendidikan militer ia lahap dengan gemilang. Kariernya melesat, hingga akhirnya ia bertransformasi menjadi salah satu jenderal terbaik yang disegani, memimpin seluruh angkatan darat, dan masuk dalam jajaran kabinet menteri.
Jenderal Poniman wafat pada 30 April 2010 dalam usia 83 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata. Kisah hidupnya menjadi bukti nyata, bahwa kesuksesan besar sering kali dimulai dari sebuah keberanian yang dinilai mustahil oleh orang lain. (*)
Editor : Bambang Harianto