Perjuangan Hidup Teten Masduki dari Anak Petani Garut Jadi Menteri

Reporter : Redaksi
Teten Masduki

Banyak orang percaya bahwa nasib seseorang sudah digariskan sejak lahir. Namun, panggung sejarah Indonesia berulang kali mematahkan mitos tersebut lewat lahirnya tokoh-tokoh besar dari rahim kesederhanaan. Salah satu bukti nyata bahwa kerja keras dan integritas mampu mendobrak keterbatasan adalah kisah hidup Teten Masduki.

Bagi Anda yang sering mengikuti perkembangan berita nasional, wajahnya tentu sudah sangat tidak asing. Ia adalah sosok yang dipercaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menakhodai Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) dalam Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga: Berstatus Wajib Lapor di Polda Metro Jaya, dr Tifa : Kebenaran Tidak Bisa Dihentikan

Namun, siapa sangka jika menteri yang kini mengurusi hajat hidup jutaan pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia ini dulunya adalah seorang anak petani dari pelosok Garut? Mari kita bedah perjalanan hidupnya yang penuh dengan keteladanan dan inspirasi ini!

Dibesarkan di Sawah, Mengasah Empati Sejak Belia

Akar kehidupan Teten Masduki tertanam kuat di tanah agraris Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat. Lahir pada 6 Mei 1963, Teten tumbuh besar di lingkungan keluarga petani tradisional. Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat keringat dan perjuangan masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya dari hasil bumi.

Kehidupan pedesaan yang penuh keterbatasan itulah yang justru menumbuhkan empati dan kepekaan sosialnya yang sangat tinggi. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SMAN 1 Cicalengka, Teten memutuskan merantau ke Bandung untuk kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung—yang kini dikenal sebagai Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Uniknya, di sana ia mengambil jurusan Kimia. Kendati setiap hari berkutat dengan rumus sains dan laboratorium, hati Teten justru lebih terpikat pada formula perubahan sosial. Di sela-sela kesibukan kuliahnya, ia mulai aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa dan diskusi yang membela hak-hak rakyat kecil yang terpinggirkan.

Menjadi "Pendekar" Anti-Korupsi yang Disegani

Lulus dari kampus, Teten tidak memilih jalur aman sebagai pengajar konvensional. Ia memilih jalan pedang sebagai aktivis kemanusiaan dan buruh. Namanya mencuat ke panggung nasional ketika ia bersama beberapa rekan sejawatnya mendirikan Indonesia Corruption Watch (ICW) pada tahun 1998, tepat di tengah pusaran reformasi.

Baca juga: Pengusaha Alsintan asal Kabupaten Madiun Sebut Janji Jokowi Palsu

Sebagai pentolan ICW (Indonesia Corruptions Watch), Teten menjelma menjadi sosok "pendekar" anti-korupsi yang sangat vokal. Ia konsisten membongkar berbagai skandal penyalahgunaan kekuasaan tanpa rasa takut. Integritasnya yang kokoh di jalur jalanan inilah yang membuat namanya harum dan disegani, baik oleh kawan maupun lawan politik.

Kiprahnya sempat bergeser ke ranah politik praktis pada tahun 2012 ketika ia maju sebagai Calon Wakil Gubernur mendampingi Rieke Diah Pitaloka dalam Pilgub Jawa Barat 2013. Meski duet yang dikenal dengan nama "PATEN" ini berakhir di posisi kedua, raihan hampir 6 juta suara menjadi bukti nyata bahwa sosok Teten sangat dicintai masyarakat akar rumput.

Menembus Benteng Istana dan Membela "Wong Cilik"

Melihat kapasitas manajerial dan keteguhan prinsip Teten, Presiden Joko Widodo menariknya masuk ke dalam ring 1 Istana. Pada 2 September 2015, ia dilantik menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan. Di posisi krusial ini, Teten menjadi salah satu orang kepercayaan yang mengawal langsung program-program strategis presiden.

Puncak kepercayaan itu kembali datang pada 23 Oktober 2019, saat ia didapuk menjadi Menteri Koperasi dan UKM. Jabatan ini seolah menjadi lingkaran penuh (full circle) bagi kehidupan Teten. Anak petani yang dulu menyaksikan langsung kesulitan ekonomi di desa, kini memegang kendali penuh untuk menyelamatkan dan menaikkan kelas jutaan pelaku UMKM di Indonesia.

Baca juga: Queen Bee Syndrome Iriana, Penyebab Runtuhnya Kerajaan Joko Widodo

Di bawah komandonya, kementerian ini bergerak agresif mendorong digitalisasi pasar tradisional dan mengawal inovasi koperasi agar mampu bersaing di era modern. Salah satu fokus nyatanya adalah memperkuat pusat pelatihan simber daya manusia (SDM), seperti optimalisasi UPT Pelatihan Koperasi dan usaha kecil menengah (UKM), demi memastikan pelaku usaha cilik tidak digilas zaman.

Pelajaran Berharga dari Sang Anak Petani

Kisah Teten Masduki adalah pengingat berharga bagi kita semua, terutama generasi muda. Bahwa dari mana pun kita berasal—bahkan dari keluarga petani di pelosok daerah sekalipun—kesempatan untuk mengabdi pada negara di level tertinggi selalu terbuka lebar. 

Teten membuktikan bahwa modal terbesar untuk menjadi seorang pemimpin bukanlah privilege atau tumpukan materi, melainkan konsistensi, keberpihakan pada rakyat, dan benteng integritas yang tidak pernah runtuh oleh godaan kekuasaan. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru