Lembaran sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia selalu diwarnai oleh aksi-aksi heroik yang menantang kemapanan kekuasaan. Salah satu fragmen paling dramatis dan monumental terjadi pada pertengahan Januari 1974. Sebuah gelombang perlawanan yang dimotori oleh intelektual muda Universitas Indonesia (UI) berhasil mengguncang jantung ibu kota, melahirkan peristiwa sejarah yang kelak abadi dikenang sebagai Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Besas Januari).
Di balik gemuruh aksi tersebut, berdiri sosok Dr. Hariman Siregar. Lahir pada 1 Mei 1950, pria yang dikenal memiliki garis pemikiran tajam dan vokal ini merupakan tokoh utama sekaligus motor penggerak perlawanan. Bersama jajaran elite aktivis mahasiswa era itu—seperti Syahrir, Muhammad Aini Chalid, dan Judilherry Justam—Hariman mengonsolidasikan amarah publik atas dominasi modal asing menjadi sebuah gerakan koreksi total terhadap jalannya pemerintahan.
Baca juga: Kisah Dokter Hampir Menyerah Saat Ujian Alih Program, Lulus Berkat Tawakkal
Ironi Intervensi yang Berujung Bumerang
Sebelum gelombang unjuk rasa itu memuncak, dinamika politik kampus di Universitas Indonesia sebenarnya sudah memanas. Hariman Siregar terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa (DM) UI melalui proses pemilihan yang tidak biasa. Ruang demokrasi kampus kala itu sempat diintervensi secara mendalam oleh tangan-tangan kekuasaan Orde Baru, yang diorkestrasi langsung oleh sosok intelijen kuat, Ali Murtopo.
Penguasa berharap, intervensi tersebut dapat menjinakkan basis massa mahasiswa terbesar di Indonesia agar sejalan dengan agenda stabilitas politik pemerintah. Namun, kalkulasi politik tersebut meleset total.
Alih-alih menjadi kepanjangan tangan rezim, Hariman Siregar justru menggunakan legitimasi jabatannya untuk berbalik arah. Ia mengambil posisi berseberangan, menjadi kritikus paling lantang terhadap kebijakan ekonomi dan politik represif Orde Baru.
Baca juga: Kisah Mochtar Kusumaatmadja, sang Penggagas Wawasan Nusantara
Titik Balik 15 Januari dan Jeruji Besi
Puncaknya terjadi pada 15 Januari 1974. Bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Jakarta, puluhan ribu mahasiswa dan elemen masyarakat tumpah ke jalan.
Aksi protes menentang gurita modal asing dan tuntutan pemberantasan korupsi yang awalnya berjalan damai, dalam sekejap berubah menjadi kerusuhan massal yang melumpuhkan Jakarta. Asap mengepul di berbagai sudut kota, menandai pecahnya konfrontasi terbuka antara rakyat dan penguasa.
Baca juga: Kritik Keras Guru Besar Kriminolog Universitas Indonesia Terhadap Polri
Merespons guncangan politik yang hebat tersebut, rezim Orde Baru bertindak cepat dan represif guna meredam eskalasi. Gelombang penangkapan massal dilakukan tanpa ampun. Sebagai pucuk pimpinan gerakan, Hariman Siregar beserta beberapa tokoh mahasiswa penting lainnya dituding sebagai dalang utama di balik kekacauan tersebut.
Melalui proses peradilan yang sarat dengan atmosfer politik, Hariman akhirnya dijebloskan ke dalam jeruji besi. Meski raga mereka terpenjara demi membungkam gejolak perlawanan, peristiwa Malari di tahun 1974 telah terlanjur menancapkan tonggak sejarah yang dalam: bahwa idealisme mahasiswa tidak akan pernah bisa diredam, bahkan oleh intervensi penguasa yang paling perkasa sekalipun. (*)
Editor : Bambang Harianto