Bagi warga ibu kota, nama Balai Sarbini di kawasan Semanggi tentu sudah tidak asing lagi sebagai tempat pergelaran konser musik dan acara megah. Namun, tak banyak generasi muda yang tahu bahwa nama gedung tersebut diambil dari nama seorang jenderal legendaris, pelopor hak-hak veteran, sekaligus komandan taktis yang berhasil memukul mundur pasukan Sekutu dalam pertempuran berdarah di Jawa Tengah.
Ia adalah Letnan Jenderal TNI (Purn.) H. Mas Sarbini Martodihardjo. Dilahirkan di Desa Indrosari, Buluspesantren, Kebumen pada 10 Juni 1914, Sarbini tumbuh menjadi salah satu pilar militer tangguh bentukan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjaga tegaknya kedaulatan NKRI.
Baca juga: Soebroto, Bos Besar OPEC dari Indonesia
Otak di Balik Pengepungan Ambarawa
Karier militer Sarbini dimulai di masa pendudukan Jepang. Ia menempuh pendidikan opsir Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada kurun waktu 1942–1945 dan lulus dengan pangkat Chudanco (Komandan Kompi) di Gombong, Kebumen.
Pasca-proklamasi kemerdekaan dan dibubarkannya PETA, Sarbini bergerak cepat membentuk sekaligus memimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) cabang Kebumen pada September 1945. Atas instruksi langsung dari Jenderal Soedirman, Sarbini kemudian didaulat menjadi Komandan Resimen Kedu I Divisi II TKR di Magelang dengan pangkat Letnan Kolonel.
Di sinilah sejarah emas itu tercipta. Pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Sekutu yang diboncengi NICA (Belanda) mencoba mengusik kedaulatan Indonesia di Jawa Tengah. Sebagai komandan pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Resimen Kedu Tengah, Letkol Sarbini memimpin langsung serangan kilat untuk mengepung musuh di Desa Jambu, Ambarawa.
Aksi ofensif yang berani ini menjadi pembuka dari rangkaian pertempuran hebat yang kelak melegenda sebagai Peristiwa Palagan Ambarawa. Sepanjang tahun 1945 hingga 1947, Sarbini menjadi momok menakutkan bagi pasukan Belanda di garda depan Semarang.
Menumpas PKI Madiun dan Bergerilya di Hutan
Baca juga: Imam Soedjai, Sang Jenderal yang Dituduh Berkhianat Oleh Penghianat
Ketangguhan Sarbini kembali diuji saat internal republik diguncang pengkhianatan. Ketika meletus pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948, Sarbini yang menjabat sebagai Komandan STC (Sub-Teritorium Commando) Divisi III Diponegoro bergerak taktis menyapu bersih sisa-sisa pasukan pemberontak di wilayah Magelang dan sekitarnya.
Tak lama berselang, Belanda kembali meluncurkan Agresi Militer II dan menduduki Yogyakarta. Sebagai Komandan STC/Wehrkreise II, Sarbini menolak menyerah. Ia memboyong pasukannya masuk ke dalam hutan, memimpin perang gerilya yang melelahkan dari wilayah Magelang, Kedu, hingga menembus Banyumas demi menjaga kobaran api perlawanan republik.
Menjadi Menteri Pertahanan Bung Karno
Memasuki era pemerintahan pasca-revolusi, dedikasi militer dan loyalitasnya membawa Sarbini masuk ke dalam jajaran kabinet. Pada masa-masa penuh pergolakan politik tahun 1966, Mayor Jenderal TNI M. Sarbini dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Dwikora II. Posisi strategis ini diembannya sebelum akhirnya estafet kepemimpinan Kementerian Pertahanan diserahkan kepada Letnan Jenderal TNI Soeharto.
Di luar karier militernya yang mentereng, kehidupan pribadi Sarbini terhitung sangat harmonis. Ia mempersunting Ny. Salami, putri dari R. Sastrowihardjo, di Kutoarjo, Purworejo pada 24 Agustus 1944. Pasangan ini setia mendampingi hingga maut memisahkan.
Bapak Veteran Indonesia
Atas kepeduliannya yang luar biasa terhadap nasib para mantan pejuang kemerdekaan yang kerap terlupakan, Letjen TNI H. M. Sarbini dinobatkan sebagai Bapak Veteran Indonesia. Guna menghormati jasanya bagi para pensiunan tentara, namanya diabadikan pada Gedung Veteran RI atau Balai Sarbini di Plaza Semanggi, Jakarta Pusat.
Sang jenderal pejuang ini mengembuskan napas terakhirnya pada 21 Agustus 1977 dalam usia 63 tahun. Tak hanya di Ibu Kota, tanah kelahirannya di Kebumen juga memberikan penghormatan abadi dengan mendirikan SMK Jenderal M. Sarbini. Kisah heroik sang komandan taktis dari Kebumen ini akan selalu hidup, setiap kali gema kemerdekaan dan nama Semanggi disebut. (*)
Editor : S. Anwar