Juliana Marins dan Orang Eropa Penakluk Istana Sakral Dewi Anjani

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Juliana Marins
Juliana Marins
grosir-buah-surabaya

Rinjani bukan sekedar gunung, melainkan mahkota sakral Pulau Lombok—sebuah altar alam; tujuan semedi, dimana para pencari ketenangan bersujud dalam sunyi, doa-doa mengalun dalam upacara Mulang Pekelem oleh umat Hindu, tempat para leluhur Sasak diyakini bersemayam dalam damai.

Mendaki gunung Rinjani adalah salah satu hal yang paling sakral bagi masyarakat Suku Sasak dan juga Hindu di masa lalu. Bukan sebuah pendakian menaklukkan ego, memamerkan kemampuan, apalagi untuk berselfie. Mereka ke rinjani untuk sebuah ziarah suci, menuju atap bumi Sasak. Tak semua orang boleh mendekatinya, dan tak sembarangan cara dapat digunakan untuk menjejaknya. Setiap langkah harus disertai dengan doa, ritual, dan rasa takzim terhadap sang Ibu Bumi — Dewi Anjani..

Saking sakralnya, bahkan ketika negeri ini berada di bawah otoritas Hindia Belanda, Heinrich Zollinger pada tahun 1846 tetap harus mendapatkan izin langsung dari raja Ratoe Agung Gede Ngurah Karangasem di Puri Pringgarata untuk bisa mendaki Gunung Rinjani.

Keberangkatannya bahkan harus diiringi oleh petinggi Sasak untuk memastikan bahwa tidak ada ritual yang terlewatkan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Anjani, Ibu dari bumi Sasak. Meskipun saat itu Zollinger tak dapat mencapai puncak, kisah Zollinger inilah yang kemungkinan menginspirasi orang Eropa lainnya seperti Hans Fruhstorfer untuk turut menjejak titik tertinggi pulau Lombok pada tahun 1896.

Dikutip dari surat kabar Java-bode edisi 9 September 1896, dalam pendakiannya itu Fruhstorfer berhasil mencapai puncak Rinjani dan menjadikannya orang Eropa pertama yang berhasil melakukannya. Meskipun demikian beberapa sumber lain mengatakan bahwa orang Eropa pertama yang berhasil mencapai puncak Rinjani adalah J.L.M. van Schaik pada tahun 1908 yang menceritakan perjalanannya dalam De Heilige Rinjani. Silahkan baca kisah perjalanannya di akun Dian Latif.

Dalam De Heilige Rinjani, Van Schaik memaparkan dengan cukup lengkap proses ritual pendakian yang dilakukannya. Mulai dari Sembalun, dimana pesta desa digelar; gadis gadis menari mengelilingi lingkaran diiringi irama gamelan, disaksikan oleh para pemangku dan pendeta, bukan sebagai hiburan, melainkan bagian dari proses ritual yang mengiringi ziarah suci.

Dihari pendakian, para pemangku terlebih dahulu menyiapkan aneka sesaji, sebagai persembahan kepada para penjaga alam mistis Rinjani dibawah kuasa Dewi Anjani; Mas Prewati di gerbang Sajang, Kerta Gumi di Cemara Siu, Betara Selaq di Sangkareang, dan Inaq Lokaq di kaki Baru Jari.

Memasuki gerbang rinjani, Doa dan ritual digelar, persembahan disajikan; orang Hindu biasanya mempersembahkan Boerit Wangi, sementara orang Sasak mempersembahkan Gula Kelapa, keduanya sebagai lambang ketulusan.

Selama berada di dalam kawasan Gunung Suci Rinjani, mereka diharuskan mengenakan pakaian serba putih. Bukan untuk bergaya agar seragam, tetapi sebagai lambang kesucian niat mengunjungi rumah sang Ibu, Dewi Anjani.

Segala kegiatan yang dilakukan di kawasan Gunung Rinjani mengharuskan penggunaan kain putih, termasuk ketika mandi di sekitar danau Segara Anak, maupun di titik titik aik kalak atau Hot Springs.

cctv-mojokerto-liem

Sayangnya, sekarang aturan tradisi telah dilanggar, tak ada lagi ritual yang mengiringi pendakian, tak ada lagi kain kain putih yang membalut tubuh para pendaki; malahan tidak sedikit dari mereka yang dengan bangga mandi menggunakan kolor dan bikini di titik titik suci.

Tidak hanya itu, sejumlah titik yang dulunya terlarang dikarenakan kesakralannya, kini menjadi pusat pusat selfie. Tak bisakah tradisi ini dikembalikan agar marwah Rinjani kembali hidup?

Terkait insiden yang menimpa Juliana Marins, tentu saja kita semua berduka. Tetapi, di balik insiden itu, kami merasa bahwa dia adalah sosok terpilih. Seperti telah dipanggil menjemput takdir di tempat yang paling sakral, di pelukan Dewi Anjani sendiri.

Kami percaya, jiwa Juliana kini berada di tempat terbaik di alam sana, dalam pelukan damai semesta. Ia datang sebagai tamu, namun pergi sebagai bagian dari Rinjani; Menjadi kabut pagi yang turun di Segara Anak, menjadi desir angin di punggung Sangkareang, menjadi bunga yang mekar tanpa suara di celah batu.

Kami berharap, pemerintah atau pengelola kawasan Rinjani dapat mengabadikan namanya — sebagai bentuk penghormatan dan pengingat. Mungkin melalui penamaan salah satu anggrek langka yang hanya tumbuh di sana. Atau menjadikan namanya sebagai penanda salah satu titik di jalur pendakian; Juliana’s Rest Point, misalnya, sebagai tempat di mana pendaki bisa berhenti sejenak, menatap sekeliling, mengingat, dan mengirimkan doa.

Agar setiap langkah yang melintasinya bukan hanya menapaki tanah, tapi juga menyusuri jejak kenangan. Jejak tentang seseorang yang menjemput takdirnya menjadi bagian dari Gunung Rinjani. (*)