Opini

Menerka Sebab Juliana Marins Jatuh Untuk Kedua Kalinya

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
grosir-buah-surabaya

Rekaman video drone yang menayangkan detik-detik terakhir Juliana Marins sebelum hilang dari posisinya beredar luas di berbagai platform media sosial, baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini menimbulkan spekulasi yang beragam tentang kenapa Juliana Marins bisa hilang atau berpindah dari posisi awal. Banyak yang mengatakan bahwa, jika perempuan itu diam dan menunggu maka besar kemungkinan selamat.

Sebagai pegiat alam bebas dan pernah mempelajari tentang berbagai macam faktor resiko yang ada, saya akan mencoba menerka kira-kira apa yang terjadi jika seseorang berada di posisi kritis seperti Juliana Marins. Tentu, ini bukan sebuah kepastian atau pernyataan resmi dari pihak tertentu, melainkan asumsi pribadi saya.

Pertama, kalau dilihat posisi atau titik tempat perempuan asal Brazil itu, dia berada pada kemiringan yang sangat ekstrim, yaitu sekitar 80 derajat dengan medan berpasir dan batuan lepas. Dalam kondisi medan seperti ini, jangankan untuk bergerak, untuk bernapas saja rasanya kita sangat hati-hati bahkan tanpa sadar napas tertahan.

Walau Juliana berada pada cekungan kecil saat terekam, dia juga terlihat sempat merebahkan badan--mungkin karena lelah atau kehilangan kesadaran-- sehingga membuat dia meluncur untuk kedua kalinya. Jadi, ini cukup mungkin terjadi.

Kedua, seperti yang terekam oleh kamera drone, Juliana masih terlihat hidup saat itu, bahkan sempat terlihat membuka tas pinggangnya untuk mengecek sesuatu. Nah, situasi ini banyak yang menganggap bahwa Juliana masih mampu melakukan gerakan-gerakan sehingga banyak yang menduga bahwa Juliana berniat mencari jalan keluar sendiri, tetapi karena minimnya pengetahuan tentang bahaya di gunung dan medan baru, dia diduga terpleset atau terperosok lebih dalam ke kawah Rinjani. Kabarnya dia juga minus yang cukup tinggi. Ini juga cukup mungkin terjadi.

Ketiga, ini menurutku yang sangat-sangat mungkin menjadi penyebab Juliana terjatuh untuk kedua kakinya. Saat menuju arah puncak, Juliana tidak memakai outfit yang sesuai standar pendakian. Dia terlihat tidak mengenakan jaket tebal seperti pendaki-pendaki lainnya saat mencoba menuju puncak Rinjani.

Memang banyak bule-bule asal eropa yang mendaki ke puncak tanpa outfit standar, tapi Juliana mungkin lupa bahwa dirinya berasal dari Brazil yang kondisi alamnya hampir sama seperti Indonesia. Di mana saat diterpa suhu dingin ekstrim, bagian yang paling tersembunyi dari tubuh pun akan menyusut dan mengeriput.

Suhu di sekitar punggungan Rinjani cukup ekstrim karena angin berembus bebas tanpa adanya vegetasi yang menghambat lajunya. Bahkan, tak jarang kristal-kristal es terbentuk juga di sana. Nah, karena kondisi ini, saya mencurigai bahwa Juliana mengalami hipotermia dan hipoksia. Apalagi situasi saat itu cukup berangin dan berkabut tebal.

Jangankan di malam hari, siang hari pun pendaki dapat terkena hipotermia, bahkan hipoksia di saat seperti itu. Tanpa makanan dan minuman yang cukup dan ketiadaan pakaian standar, maka tubuh tidak akan mampu memproduksi panas di dalam tubuh sehingga membuat orang yang terkena hipotermia menjadi gelisah, halusinasi, bahkan panik.

Pada titik terparah, orang yang terkena hipotermia dapat mengalami paradoxical undressing. Paradoxical undressing adalah perilaku seseorang yang mengalami kedinginan ekstrim kemudian melepaskan pakaiannya, meskipun tubuh sebenarnya sedang kedinginan.

Perilaku ini terjadi karena adanya sensasi panas palsu yang dialami penderita, yang merupakan efek dari hipotermia. Teman-teman bisa melihat kasus Andi, seorang pendaki yang meninggal di Gegerboyo, Gunung Lawu karena hipotermia dan mengalami paradoxical undressing.

Otak dan perilaku sudah tidak singkron, di mana dia melepas bajunya lalu membungkus kayu bakar dengan bajunya agar kayu itu tak kedinginan. Beberapa jam kemudian, dia ditemukan meninggal di jurang--dugaan orang yang menemukannya adalah Andi melompat ke jurang.

Nah, mungkin ini yang terjadi pada Juliana, yaitu dia mengalami hipotermia karena berada dalam lingkupan kabut dan angin dingin yang cukup lama sehingga mengalami halusinasi atau panic attack. Untuk kemungkinan hipoksia sendiri sangat mungkin.

Ketika pendaki tiba di ketinggian 3000 MDPL, sering sekali tubuh kehilangan keseimbangan, pusing, mual, bahkan sesak karena kurangnya pasokan oksigen ke otak. Pada situasi seperti ini, maka tubuh pendaki butuh penyesuaian atau aklimatisasi beberapa saat atau bahkan berhari-hari jika parah.

Di ketinggian seperti posisi Juliana, pendaki sangat mungkin mengalami hipoksia atau mountain sickness seperti yang dua pendaki Jakarta yang pernah saya tangani di titik yang sama.

Nah, mungkin dari sini kita dapat mengerti apa yang harus kita lakukan jika hendak mendaki, seperti memakai perlengkapan standar, pengetahuan yang baik tentang bahaya di gunung, pengetahuan tentang cara bertahan hidup, pengetahuan tentang cara berlindung dan membuat api, serta tentang manajemen ekspedisi agar resiko-resiko yang mungkin terjadi dapat diminimalisasi.

cctv-mojokerto-liem

Ingat, tak ada satu orang pun yang ingin hal buruk terjadi ketika dia mendaki gunung, tapi ketika dihadapkan dengan situasi buruk dan ekstrim, maka kita harus siap karena alam bebas tak peduli kamu anak baik atau bukan. Alam hanya memainkan perannya dengan cantik.

Menurut kamu gimana?

*) Penulis : Rochy Mario Djafis

Catatan :

Juliana Marins, seorang pendaki asal Brasil berusia 27 tahun, dilaporkan tewas setelah jatuh di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berikut adalah kronologi kejadian :

- Kejadian:

Juliana Marins jatuh pada Sabtu, 21 Juni 2025, sekitar pukul 06.30 WITA, saat mendaki Gunung Rinjani dari jalur Sembalun bersama 12 pendaki lainnya.

- Lokasi Jatuh : Lokasi jatuhnya berada di sekitar titik Cemara Nunggal, mengarah ke Danau Segara Anak, dengan estimasi kedalaman 150-200 meter.

- Upaya Pencarian: Tim SAR gabungan dari berbagai instansi, termasuk Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Basarnas Mataram, dan Emergency Medical Hikers Community (EMHC), melakukan upaya pencarian. Namun, pencarian sempat terhambat karena cuaca buruk dan kabut tebal.

- Penemuan Jenazah : Pada Selasa, 24 Juni 2025, tim SAR menemukan jenazah Juliana Marins di kedalaman sekitar 600 meter. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehidupan pada korban.

- Evakuasi : Proses evakuasi jenazah dilakukan pada Rabu, 25 Juni 2025, dengan menggunakan sistem lifting untuk mengangkat jenazah ke titik Last Known Position (LKP).

Juliana Marins merupakan seorang selebgram dengan 154.000 pengikut di Instagram. Ia tengah melakukan perjalanan keliling Asia Tenggara dan rutin membagikan kisahnya melalui media sosial. (*)