Jurnalisme Konstruktif oleh Bonn Institute

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Bonn Institute
Bonn Institute
grosir-buah-surabaya

Dalam dunia yang penuh krisis dan informasi berlebih, semakin banyak orang menghindari berita karena merasa lelah dan tertekan. Data dari Reuters Digital News Report menunjukkan bahwa 40% orang di berbagai negara kini sering atau kadang-kadang menghindari berita. Ini menjadi tantangan besar bagi dunia jurnalisme.

Workshop dari Bonn Institute ini menawarkan pendekatan constructive journalism sebagai solusi. Pendekatan ini tidak menutupi masalah, tapi menambahkan nilai dengan menyajikan cerita tentang bagaimana orang mencari solusi, memperluas perspektif, dan mendorong dialog.

Mengapa kita perlu jurnalisme konstruktif? Otak manusia bereaksi lebih kuat terhadap berita negatif. Ini membantu kita bertahan hidup, tapi di era modern, hal ini bisa memperburuk polarisasi dan kelelahan mental. Karena itu, jurnalis perlu menyeimbangkan kecepatan dan keakuratan (System 1) dengan refleksi dan empati (System 2).

Bias yang Harus Disadari Jurnalis

Workshop ini membahas berbagai bias yang sering muncul dalam peliputan:

- Confirmation bias: hanya mencari informasi yang memperkuat pendapat kita.

- Negativity bias: lebih fokus pada sisi buruk.

 - Ingroup bias: cenderung berpihak pada kelompok sendiri.

Kesadaran akan bias ini penting untuk menyusun narasi yang lebih adil.

Alat Praktis untuk Jurnalis

Beberapa pertanyaan reflektif penting bagi jurnalis:

cctv-mojokerto-liem

- Siapa yang belum saya dengar suaranya?

- Apa bukti yang bertentangan dengan asumsi saya?

- Apa interpretasi paling empatik terhadap pihak lain?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu membuka perspektif dan mencegah peliputan yang sempit. Dari Investigasi ke Solusi Jurnalisme konstruktif bukan pengganti investigasi, melainkan pelengkap.

Setelah mengungkap problem utama, jurnalis juga bisa menyampaikan bagaimana agar hal itu tidak terjadi lagi.

Penutup

Jurnalis punya peran lebih dari sekadar menyampaikan fakta. Mereka dapat menjadi penjaga ruang dialog dan penghubung antar kelompok dalam masyarakat. Jurnalisme konstruktif bukan sekadar tren — ia adalah kebutuhan zaman. (*)

*) Source : Ismail Fahmi (X : @ismailfahmi)