Hasil Perundingan Iran dan Amerika Serikat di Oman

avatar M Ruslan
  • URL berhasil dicopy
Perundingan Amerika Serikat dan Iran di Oman
Perundingan Amerika Serikat dan Iran di Oman
grosir-buah-surabaya

Seperti apa jalannya perundingan Iran dan Amerika Serikat di Oman ? Kedua pihak melakukan negosiasi tidak langsung. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Aragchi dan Utusan Amerika Serikat, Witkoff, sama sekali tidak saling berhadapan, melainkan masing-masing duduk di ruangan terpisah dan bergantian berbicara dengan Menteri Luar Negeri Oman, Albusaidi. 

Iran menyampaikan posisinya antara lain, sama sekali tidak mau menghentikan pengayaan uranium seperti yang diminta Amerika Serikat karena itu hak Iran sebagai anggota NPT, dan tidak dimaksudkan untuk membuat bom nuklir.

Sebaliknya, Amerika Serikat selama ini menuntut agar Iran menghentikan proyek nuklir dan rudal. Iran tentu tidak mau. Karena jika tak punya rudal, bagaimana Iran bisa melindungi keamanannya? Israel akan mudah menyerang Iran & Iran tidak bisa membalas.) 

Tujuan asli Amerika Serikat, ya rudal ini. Karena sangat berbahaya untuk Israel. Senjata nuklir? Itu hanya hoaks Amerika Serikat juga sebenarnya tahu, Iran tidak bikin senjata nuklir. 

Menteri Luar Negeri Oman lalu menyampaikan pesan serta tuntutan masing-masing pihak kepada pihak lainnya. Lalu, selesai, dengan catatan: akan ada perundingan berikutnya. 

Setelah "perundingan" ini selesai, apa yang terjadi? Amerika Serikat mengumumkan menambah sanksi, yaitu mengembargo 14 kapal yang membawa minyak Iran. What a joke. Memang di internal Iran ada semacam perbedaan pendapat. 

Leader (pemimpin tertinggi), Ayatullah Khamenei, berkali-kali bilang, tidak perlu negosiasi dengan Amerika Serikat selama Amerika Serikat masih melindungi Israel dan masih mendukung kelompok-kelompok teroris yang menyerang Iran dari dalam. 

Tapi, Ayatullah Khamenei bukan eksekutif dan Ayatullah Khamenei menghormati proses demokrasi. Pemerintah (eksekutif) saat ini berasal dari kalangan "reformis" yang merasa bisa mencari solusi dengan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Khatami, Rouhani, dan sekarang Pezeshkian, adalah para Presiden dari kubu reformis. Joint Comprehensive Plan of. Action (JCPOA) pada tahun 2015 dulu ditandatangani Rouhani dan terbukti tidak berfaedah: Trump keluar dari Joint Comprehensive Plan of. Action (JCPOA), sanksi ekonomi semakin diperkeras. 

cctv-mojokerto-liem

Tapi ya demikianlah dinamika internal di Iran, ada elit yang ga kapok dikadalin Amerika Serikat. Tapi minimalnya, mereka ini tetap dalam koridor, tidak mau tunduk pada tuntutan Amerika Serikat. Karena, mereka tahu, kalau sampai nekad tunduk (misal, mau menghentikan proyek nuklir & rudal), pasti langsung di-impeachment oleh parlemen dan rakyat akan turun ke jalan mengecam. 

Jadi, proses demokrasi berjalan karena posisi Ayatullah Khamenei bukan diktator. Aksi protes Desember 2025 yang lalu juga bagian dari demokrasi ini. Rakyat yang sudah kesal melihat kinerja pemerintah (Presiden & Menteri) yang tidak bisa juga membereskan urusan ekonomi, turun ke jalan. 

"Memang iya, ini semua gara-gara ada embargo Amerika Serikat. Tapi kalau pemerintah becus, pasti adalah yang bisa dilakukan, biar kita ga susah-susah amat," begitu kira-kira kekesalan orang Iran. 

Tapi, ada pihak yang sudah siap memanfaatkan momen: mereka bersenjata, terorganisir, turun ke jalan, melakukan pembunuhan dan penghancuran/pembakaran bangunan publik dengan harapan muncul situasi super kacau tak terkendali, lalu sistem pemerintahan Islam tumbang. 

Tapi, skenario ini tidak berhasil. Amerika Serikat yang melihat situasi dalam negeri Iran berbalik, sangat menyala mendukung sistem pemerintahan Islam [jadi: mereka kesel sama presiden dan kabinet, tapi juga ga mau kalo sistem dihancurkan dan diganti dgn demokrasi liberal bentukan AS], akhirnya geser strategi: ngajak berunding, meski tetap sambil mengancam serangan militer. (*)

*) Penulis : Dina Sulaiman (Pengamat Timur Tengah, analis geopolitik, dosen Hubungan Internasional)